Paca Goya

Paca Goya adalah ritual pembersihan tempat-tempat keramat di Kelurahan Kalaodi, Kota Tidore Kepulauan.[1] Penamaan Paca Goya dikaitkan dengan Bukit Goya.[2] Ritual Paca Goya dilaksanakan oleh tokoh adat dan masyarakat di Kelurahan Kalaodi selama tiga hari setelah panen besar.[1][3] Pada hari terakhir dalam pelaksanaan Paca Goya, masyarakat di Kelurahan Kalaodi akan berkumpul dan makan bersama.[1] Ritual Paca Goya memperoleh dukungan dari Pemerintah Kota Tidore Kepulauan karena bertujuan untuk perlindungan hutan dan alam.[3]

Penamaan dan konsep

Konsep Paca Goya diyakini oleh marga Kalaodi di Kota Tidore Kepulauan.[1] Arti harfiah dari Paca Goya ialah membersihkan tempat keramat. Tempat keramat yang dimaksud ialah kawasan hutan pegunungan dalam wilayah Kelurahan Kalaodi.[1] Goya dalam nama Paca Goya mengacu kepada Bukit Goya di Kelurahan Kalaodi yang terletak di lereng gunung bagian timur Pulau Tidore. Di Bukit Goya terdapat kawasan hutan yang dianggap keramat oleh penduduk lokal. Sekeliling kawasan hutan dijadikan kebun pala dan kebun cengkih oleh penduduk setempat.[2]

Pelaksanaan

Ritual Paca Goya dilaksanakan oleh tokoh adat dan masyarakat di Kelurahan Kalaodi, Kota Tidore Kepulauan.[3] Tata cara pelaksanaan Paca Goya diatur oleh aturan adat.[4] Pelaksanaan Paca Goya bersifat tidak rutin dan hanya dilakukan setelah terjadi panen besar di wilayah Kelurahan Kalaodi. Penentuan pelaksanaannya ditentukan oleh para tokoh adat di wilayah Kelurahan Kalaodi.[1]

Pelaksanaan Paca Goya berlangsung selama tiga hari. Para penduduk di Kelurahan Kalaodi menghentikan kegiatan hariannya selama pelaksanaan Paca Goya. Kegiatan yang dilakukan selama Paca Goya ialah pembersihan tempat-tempat yang dianggap keramat terutama bukit dan gunung. Permukiman dan kebun milik penduduk juga turut dibersihkan karena terletak pada bukit dan gunung.[1]

Pada hari terakhir dalam pelaksanaan Paca Goya, masyarakat di Kelurahan Kalaoid akan berkumpul dan makan bersama.[1] Makanan yang disajikan berupa pali dengan kuah berisi sepotong telur goreng. Penyajian makanan menggunakan bambu dan potongan bambu sebagai pengganti piring dan gelas. Selain itu, daun pisang digunakan sebagai alas untuk meletakkan makanan dan minuman selama makan bersama. Posisi makan saling berhadapan satu sama lain dalam posisi duduk jongkok.[5]

Dukungan pemerintah

Paca Goya merupakan salah satu kearifan lokal di Kota Tidore Kepulauan bertujuan untuk perlindungan hutan dan alam.[3] Masyarakat Kalaodi melaksanakan Paca Goya sebagai cara untuk berterima kasih kepada alam.[1] Ritual Paca Goya memperoleh dukungan dari Pemerintah Kota Tidore Kepulauan melalui program perlindungan hutan dan penghijauan di sekitar air terjun dalam wilayah Kota Tidore Kepulauan.[3]

Referensi

Catatan kaki

  1. ^ a b c d e f g h i Rusdianto, Eko (2019). Ngantung, V., Ibnu, I. M., dan Mansyur, F. (ed.). "Kalaodi, Kampung Ekologi Penjaga Tidore" (PDF). BaktiNews (165): 8. ISSN 1979-777X. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link)
  2. ^ a b Suparti, Sri (2021). "Merindu Paca Goya". Dalam Aminah, M. S., dan Kurnia, R. (ed.). Serenade untuk Sebuah Kisah Selaksa Cinta Menyatu dengan Sewindu Waktu (PDF). Direktorat Pelindungan Kebudayaan. hlm. 238. ISBN 978-979-8250-85-9. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ a b c d e Kader, Abdurrahman (Januari 2021). Hakim, L., dkk. (ed.). "Local Government and Community Efforts in the Development of Kalaodi Agrotourism, Tidore Archipelago City, Indonesia" (PDF). Journal of Indonesian Tourism and Development Studies (dalam bahasa Inggris). Sekolah Pascasarjana, Universitas Brawijaya: 53. doi:10.21776/ub.jitode.2021.009.01.07. ISSN 2355-3979. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link)
  4. ^ Putra, dkk. 2020, hlm. 286.
  5. ^ Putra, dkk. 2020, hlm. 287.

Daftar pustaka

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement