Pabrik Gula Randugunting

Pabrik Gula Randugunting
Bangunan Pabrik Gula Randugunting dok. KITLV
Informasi umum
StatusTidak beroperasi
JenisPabrik gula
LokasiTamanmartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia
Mulai dibangun1870

Pabrik Gula Randugunting adalah salah satu pabrik gula peninggalan masa kolonial Belanda yang pernah berdiri di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Sleman (daerah Kalasan / Tamanmartani). Nama “Randugunting” juga kadang ditulis “Suikerfabriek Randoe Goenting” dalam dokumen‑dokumen Belanda. [1]

Sejarah dan Asal-Usul

Perkebunan tebu tahun 1915 dok.KITLV

Pabrik ini awalnya tidak langsung dibangun sebagai pabrik gula. Sekitar tahun 1870, lahan tersebut dimiliki oleh K. A. Erven Klaring, yang membangun perkebunan tanaman nila (indigo) di kawasan tersebut. Namun, di penghujung abad ke-19, industri pewarna sintetis mulai menggantikan indigo, sehingga harga nila jatuh. Hal ini memaksa pemilik untuk mencari komoditas lain yang lebih menguntungkan, dan akhirnya perkebunan tersebut dialihfungsikan menjadi perkebunan tebu dan pabrik gula. [2]

Sekitar tahun 1900, klinik keuangan Koloniale Bank mengambil alih aset perkebunan tersebut karena pemilik sebelumnya gagal membayar hutang. Akibatnya, pabrik gula Randugunting resmi menjadi bagian dari sistem industri gula di Hindia Belanda. [2]

Pabrik gula Randugunting termasuk salah satu dari 19 pabrik gula yang pernah berdiri di wilayah Yogyakarta (dibagi di Sleman, Bantul, Kulon Progo) pada masa kolonial.

Fasilitas Kesehatan dan Pelayanan Karyawan

Salah satu aspek yang menjadikan Randugunting istimewa adalah keberadaan fasilitas kesehatan internal, yaitu klinik Pabrik Gula Randugunting (Dokteran Welles Center), yang dibangun sekitar tahun 1910. Klinik ini awalnya diperuntukkan bagi karyawan pribumi pabrik, tetapi kemudian juga melayani masyarakat sekitar yang belum memiliki akses ke layanan medis. [3]

Klinik Randugunting dok. KITLV

Bangunan klinik terdiri dari tiga bagian utama:

  1. Bangsal perawatan (rawat inap) — panjang 48,38 m dan lebar 10,10 m, dengan atap limasan, dinding bata, dan lantai plester semen. Bangsal ini memiliki tiga ruang (pria, wanita, dan ruang tengah).
  2. Kantor — berukuran 13 m × 13 m, atap berbentuk Dutch‑hip, dan dilengkapi dengan beranda keliling.
  3. Rumah dinas mantri — lebar 8,13 m dan panjang 25,89 m, dengan atap limasan dan ventilasi berbentuk lingkaran di bagian gable.

Klinik ini merupakan salah satu pionir fasilitas kesehatan di lingkungan pabrik gula di wilayah Yogyakarta. Namun, klinik ini akhirnya berhenti beroperasi sekitar tahun 1934, imbas dari perjanjian perdagangan gula internasional dan tekanan ekonomi pada masa kolonial. [3]

Struktur Cerobong dan Bangunan Fisik

Sisa bangunan cerobong asap eks Pabrik Gula Randugunting

Sisa fisik paling kentara dari Pabrik Gula Randugunting adalah cerobong pabrik dan struktur pondasi cerobong asapnya. Cerobong ini memiliki tinggi sekitar 12,1 meter, dengan pondasi setinggi 2,5 meter dan lebar pondasi 8,3 m × 8,3 m. Dinding cerobong memiliki ketebalan sekitar 1,6 meter, dan bagian dalam cerobong berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 4,24 meter. [4]

Bangunan cerobong ini tidak dilengkapi tulangan besi (reinforcement), melainkan konstruksi bata dan batu, serta semen, pasir dan kapur sebagai pengikat. Di masa lalu, cerobong ini pernah diruntuhkan sebagian oleh penduduk, tetapi upaya itu gagal akibat ketebalannya.

Selain cerobong, bangunan utama pabrik gula—seperti pabrik pemrosesan, gudang, dan fasilitas operasional—sebagian besar telah mengalami kerusakan atau dihancurkan, terutama pada masa Agresi Militer Belanda II (1948–1949) ketika bangunan sengaja dibongkar agar tidak dapat digunakan oleh pihak Belanda. [4]

Periode Pasca Kemerdekaan & Pemanfaatan Ulang

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, bangunan pabrik yang tersisa sempat kosong. Pada momen Serangan Umum 1 Maret 1949, bangunan dikuasai oleh pasukan TNI. Namun, hingga tahun 1951, hampir tidak ada penghuni tetap.

  • Berkas:Pabrik Gula Randugunting (sumber : IG : @goten444).jpg
    Sisa bangunan eks Pabrik Gula Randugunting
    Mulai tahun 1951, sebagian bangunan bekas pabrik digunakan untuk pendidikan:
  • Pada 1951–1952, digunakan sebagai Sekolah Teknik Negeri Kalasan (STNK)
  • Setelah itu berfungsi sebagai STN (Sekolah Teknik Negeri) Kalasan hingga 1969
  • Kemudian berubah menjadi SMP Negeri 1 Berbah hingga sekarang (bagian dari bangunan asli pabrik) [1]

Bangunan sekolah ini memiliki dua bagian utama: bagian depan berdasar denah segi enam (sekarang kantor sekolah), dan bagian belakang berbentuk persegi panjang dengan atap limasan.

Sementara itu, bangunan klinik pabrik telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kabupaten Sleman melalui SK Bupati Nomor 79.21/Kep.KDH/A/2022 (Tahap XXI) dan menjadi objek pelestarian. [4]

Dampak & Warisan Budaya

Cerobong asap eks Pabrik Gula Randugunting

Pabrik Gula Randugunting memberi kontribusi penting terhadap perkembangan ekonomi dan sosial lokal pada masanya, termasuk pengenalan pelayanan kesehatan bagi pekerja pabrik dan masyarakat sekitar. Klinik pabriknya menjadi salah satu contoh awal fasilitas kesehatan institusional di wilayah Yogyakarta. [5]

Saat ini, jejak yang tersisa—terutama cerobong pabrik dan bekas klinik—menjadi saksi sejarah industri gula kolonial dan dimanfaatkan sebagai bagian dari warisan budaya lokal.

Sisa fisik pabrik telah berada di tengah kawasan permukiman warga. Kompleks asli pabrik sebagian besar sudah hilang, dan hanya struktur tertentu yang tetap bertahan sebagai monumen lokal. [4]

Lokasi & Koordinat

Peta Kabupaten Sleman

Letak pabrik berada di Jalan TamanmartaniManisrenggo, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta dengan koordinat -7.734479505714343, 110.48907448654288.

Cerobong pabrik berada di Kenaji, Tamanan, bagian dari daerah Tamanmartani, dan merupakan titik penting sebagai objek cagar budaya. [4]

Pranala luar

Lihat juga

Referensi

  1. ^ a b PSP, Admin (2020-06-09). "Napak Tilas Sejarah Pabrik Gula Di Sleman". Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman. Diakses tanggal 2025-09-28.
  2. ^ a b "Sekilas Cerita Tentang Pabrik Gula di Yogyakarta". budaya.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-09-28.
  3. ^ a b "Pabrik Gula Randugunting » Budaya Indonesia". versilama.budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-09-28.
  4. ^ a b c d e "JOGJACAGAR | Sistem Informasi Cagar Budaya". jogjacagar.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-09-28.
  5. ^ "Pemda DIY". jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-09-28.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement