Pabrik ini awalnya tidak langsung dibangun sebagai pabrik gula. Sekitar tahun 1870, lahan tersebut dimiliki oleh K. A. Erven Klaring, yang membangun perkebunan tanaman nila (indigo) di kawasan tersebut. Namun, di penghujung abad ke-19, industri pewarna sintetis mulai menggantikan indigo, sehingga harga nila jatuh. Hal ini memaksa pemilik untuk mencari komoditas lain yang lebih menguntungkan, dan akhirnya perkebunan tersebut dialihfungsikan menjadi perkebunan tebu dan pabrik gula. [2]
Sekitar tahun 1900, klinik keuangan Koloniale Bank mengambil alih aset perkebunan tersebut karena pemilik sebelumnya gagal membayar hutang. Akibatnya, pabrik gula Randugunting resmi menjadi bagian dari sistem industri gula di Hindia Belanda. [2]
Salah satu aspek yang menjadikan Randugunting istimewa adalah keberadaan fasilitas kesehatan internal, yaitu klinik Pabrik Gula Randugunting (Dokteran Welles Center), yang dibangun sekitar tahun 1910. Klinik ini awalnya diperuntukkan bagi karyawan pribumi pabrik, tetapi kemudian juga melayani masyarakat sekitar yang belum memiliki akses ke layanan medis. [3]
Klinik Randugunting dok. KITLV
Bangunan klinik terdiri dari tiga bagian utama:
Bangsal perawatan (rawat inap) — panjang 48,38 m dan lebar 10,10 m, dengan atap limasan, dinding bata, dan lantai plester semen. Bangsal ini memiliki tiga ruang (pria, wanita, dan ruang tengah).
Kantor — berukuran 13 m × 13 m, atap berbentuk Dutch‑hip, dan dilengkapi dengan beranda keliling.
Rumah dinas mantri — lebar 8,13 m dan panjang 25,89 m, dengan atap limasan dan ventilasi berbentuk lingkaran di bagian gable.
Klinik ini merupakan salah satu pionir fasilitas kesehatan di lingkungan pabrik gula di wilayah Yogyakarta. Namun, klinik ini akhirnya berhenti beroperasi sekitar tahun 1934, imbas dari perjanjian perdagangan gula internasional dan tekanan ekonomi pada masa kolonial. [3]
Struktur Cerobong dan Bangunan Fisik
Sisa bangunan cerobong asap eks Pabrik Gula Randugunting
Sisa fisik paling kentara dari Pabrik Gula Randugunting adalah cerobong pabrik dan struktur pondasi cerobong asapnya. Cerobong ini memiliki tinggi sekitar 12,1 meter, dengan pondasi setinggi 2,5 meter dan lebar pondasi 8,3 m × 8,3 m. Dinding cerobong memiliki ketebalan sekitar 1,6 meter, dan bagian dalam cerobong berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 4,24 meter. [4]
Bangunan cerobong ini tidak dilengkapi tulangan besi (reinforcement), melainkan konstruksi bata dan batu, serta semen, pasir dan kapur sebagai pengikat. Di masa lalu, cerobong ini pernah diruntuhkan sebagian oleh penduduk, tetapi upaya itu gagal akibat ketebalannya.
Selain cerobong, bangunan utama pabrik gula—seperti pabrik pemrosesan, gudang, dan fasilitas operasional—sebagian besar telah mengalami kerusakan atau dihancurkan, terutama pada masa Agresi Militer Belanda II(1948–1949) ketika bangunan sengaja dibongkar agar tidak dapat digunakan oleh pihak Belanda. [4]
Periode Pasca Kemerdekaan & Pemanfaatan Ulang
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, bangunan pabrik yang tersisa sempat kosong. Pada momen Serangan Umum 1 Maret 1949, bangunan dikuasai oleh pasukan TNI. Namun, hingga tahun 1951, hampir tidak ada penghuni tetap.
Pada 1951–1952, digunakan sebagai Sekolah Teknik Negeri Kalasan (STNK)
Setelah itu berfungsi sebagai STN (Sekolah Teknik Negeri) Kalasan hingga 1969
Kemudian berubah menjadi SMP Negeri 1 Berbah hingga sekarang (bagian dari bangunan asli pabrik) [1]
Bangunan sekolah ini memiliki dua bagian utama: bagian depan berdasar denah segi enam (sekarang kantor sekolah), dan bagian belakang berbentuk persegi panjang dengan atap limasan.
Sementara itu, bangunan klinik pabrik telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kabupaten Sleman melalui SK Bupati Nomor 79.21/Kep.KDH/A/2022 (Tahap XXI) dan menjadi objek pelestarian. [4]
Dampak & Warisan Budaya
Cerobong asap eks Pabrik Gula Randugunting
Pabrik Gula Randugunting memberi kontribusi penting terhadap perkembangan ekonomi dan sosial lokal pada masanya, termasuk pengenalan pelayanan kesehatan bagi pekerja pabrik dan masyarakat sekitar. Klinik pabriknya menjadi salah satu contoh awal fasilitas kesehatan institusional di wilayah Yogyakarta. [5]
Saat ini, jejak yang tersisa—terutama cerobong pabrik dan bekas klinik—menjadi saksi sejarah industri gula kolonial dan dimanfaatkan sebagai bagian dari warisan budaya lokal.
Sisa fisik pabrik telah berada di tengah kawasan permukiman warga. Kompleks asli pabrik sebagian besar sudah hilang, dan hanya struktur tertentu yang tetap bertahan sebagai monumen lokal. [4]