Pabrik Gula Kedaton Pleret
| Pabrik Gula Kedaton Pleret | |
|---|---|
Pabrik Gula Kedaton Pleret sekitar tahun 1930 | |
| Informasi umum | |
| Status | Tidak beroperasi |
| Jenis | Pabrik gula |
| Lokasi | Kedaton, Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia |
| Mulai dibangun | 1862 |
Pabrik Gula Kedaton Pleret adalah sebuah pabrik gula yang pernah beroperasi pada masa Hindia Belanda di Kedaton, Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dibangun pada tahun 1862, pabrik ini ditutup 1937. Pada saat Agresi Militer Belanda II, bangunan pabrik dihancurkan oleh pejuang dan penduduk agar tidak digunakan sebagai pos militer oleh Belanda.[1][2][3]
Saat ini, bekas lokasi Pabrik Gula Kedaton Pleret menjadi Lapangan Sultan Agung. Upaya pelestarian peninggalan pabrik ditandai dengan penetapannya sebagai situs cagar budaya oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun 2019. Meskipun bangunannya tidak lagi tersisa, mesin dan peralatan pendukung pabrik masih ditemukan berdasarkan ekskavasi tahun 2024.[4]
Sejarah

Pabrik Gula Kedaton Pleret didirikan tahun 1862 pada masa kekuasaan Hindia Belanda sebagai bagian dari ekspansi industri gula di Pulau Jawa. Letaknya berada di Kedaton, bekas pusat kekuasaan Kerajaan Mataram Islam di Keraton Plered. Pembangunan pabrik menggunakan sebagian material dari reruntuhan bangunan Keraton Plered dari abad ke-16, yang sudah ditinggalkan pasca-pemberontakan Trunojoyo.[2]
Pemilihan Kedaton Pleret sebagai tempat pendirian pabrik turut didasari aspek politis. Sebagai pusat kekuasaan Keraton Kerajaan Mataram Islam pada masa lampau, kawasan ini diduga masih menjadi tempat persembunyian para pemberontak. Melalui kehadiran pabrik, Belanda berusaha mempertegas kekuasannya sekaligus memata-matai pemberontak.[2]
Pada tahun 1912, pemerintah Hindia Belanda melalui Nederlandsch-Indische Spoorweg (NIS) membangun jalur kereta api yang menghubungkan Pleret dengan Stasiun Yogyakarta. Dari peta lama dietahui bahwa jalur kereta api yang melewati Pabrik Gula Kedaton Pleret adalah rute Ngabean–Pundong.[5]
Signifikansi

Keberadaan Pabrik Gula Kedaton membawa dampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Banyak warga Pleret yang bekerja di pabrik ini, baik sebagai buruh pabrik maupun dalam sektor terkait lainnya seperti pengangkutan dan perkebunan tebu. Selain itu, keberadaan pabrik ini mendorong pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan untuk memudahkan transportasi tebu dan hasil produksi gula.[3]
Selama beroperasi, pabrik ini menjadi salah satu pusat produksi gula terbesar di Yogyakarta, terutama pada masa kejayaan industri gula Jawa. Namun, seiring krisis ekonomi global pada dekade 1930-an, industri gula Jawa mengalami kemunduran. Pasokan gula di pasar dunia yang berlebihan menyebabkan harga jual jatuh .Pada tahun 1931, terjadi kesepakatan perdagangan gula atau dikenal dengan Chadbourne Agreement. Salah satu isi perjanjan itu mengharuskan pemerintah Hindia Belanda untuk mengurangi pasokan produksi gula di Jawa dari sekitar 3 juta ton menjadi 1.4 juta ton per tahun.[6][7] Hal ini berdampak pada penutupan sejumlah pabrik Gula di Yogyakarta. sehingga hanya tinggal delapan saja yang bertahan.[8]
Pada awalnya, Pabrik Gula Kedaton Pleret termasuk salah satu dari delapan pabrik gula yang bertahan akibat krisis. Namun, krisis yang terus berlanjut menyebabkan pabrik ini akhirnya ditutup pada tahun 1937.[1]
Penutupan dan kehancuran
Setelah ditutup, bangunan pabrik dibiarkan terbengkalai. Pada masa Agresi Militer Belanda II, pejuang dan penduduk menghancurkan sisa bangunan pabrik agar tidak dijadikan pos militer oleh Belanda. Kini, bekas lokasi pabrik telah berubah fungsi menjadi Lapangan Sultan Agung.[1] Sementara itu, jalur kereta api yang melintasi pabrik gula itu sudah hilang karena diangkut Jepang saat menjajah Indonesia. Namun, gundukan tanah bekas jalur rel masih dapat dijumpai pada beberapa tempat.[2]
Pelestarian

Bekas lokasi Pabrik Gula Kedaton Pleret kini menjadi Lapangan Sultan Agung.yang ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Kedaton-Plered dalam Kawasan Cagar Budaya Kerta-Plered berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur DIY Nomor 211/KEP/2019. Pada Juli 2024, Dinas Kebudayaan DIY bersama Departemen Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan ekskavasi arkeologi di lokasi tersebut. Hasil ekskavasi berupa penemuan material mesin dan peralatan pendukung pabrik.[4]
Lihat pula
Referensi
- ^ a b c "Sejarah Singkat Pabrik Gula Kedaton Pleret". Pleret.id. Diakses tanggal 28 September 2025.
- ^ a b c d "Mengenal Pabrik Gula Pleret, Saksi Kejayaan Industri Gula di Yogyakarta". Merdeka.com. Diakses tanggal 28 September 2025.
- ^ a b "Heritage of Mataram - Penataan Ruang dan Bangunan Serta Warisan Budaya". budaya.pleret.id. Diakses tanggal 2025-09-28.
- ^ a b "Ekskavasi Arkeologi di Bekas Pabrik Gula Kedaton". Budaya Jogja. Dinas Kebudayaan DIY. Diakses tanggal 28 September 2025.
- ^ S. Ilmi Albiladiyah (1997). Kotagede: pesona dan dinamika sejarahnya. Lembaga Studi Jawa. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Abdul Rohman (2005). H. M. Arum Sabil mendobrak belenggu petani tebu: membangun kejayaan petani tebu dan industri gula nasional. Institute of Civil Society. ISBN 978-979-99722-4-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "Napak Tilas Sejarah Pabrik Gula Di Sleman". Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman. 2020-06-09. Diakses tanggal 2025-09-28.
- ^ Haris Firdaus (2018-12-05). "Kisah Hilangnya Pabrik-pabrik Gula di Yogyakarta". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-09-28.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


