Nu'aim bin Mas'ud

Nu'aim bin Mas'ud (bahasa Arab: نعيم بن مسعود) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari Najd di dataran tinggi utara Arabia, ia berasal dari suku Ghatafan yang kuat. Kontak pertamanya dengan Muhammad adalah ketika Abu Sufyan mengirimnya ke Madinah untuk meyakinkan kaum Muslim agar tidak melawan tentara Quraisy dengan melebih-lebihkan jumlah mereka. Hal ini berkaitan dengan perang Badar kedua yang telah disepakati oleh kedua belah pihak pada Perang Uhud.[1] Namun saat Pertempuran Khandak berlangsung, ia membantu muslimin memecah belah barisan musuh dengan kemampuan propagandanya.[2]

Medan Pertempuran Khandak

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah masuk Islam. Sementara kaumku tidak mengetahui tentang keislamanku ini. Maka perintahkanlah kepadaku apa pun yang engkau kehendaki."

"Engkau adalah orang satu-satunya,'' kata Nabi, "berilah pertolongan kepada kami menurut kesanggupanmu karena peperangan ini adalah tipu muslihat."

Seketika itu pula Nu'aim pergi menemui Bani Quraizhah (sekutu Yahudi), yang menjadi teman karibnya semasa Jahiliah. Dia menemui mereka dan berkata, "Kalian sudah tahu cintaku kepada kalian, khususnya antara diriku dan kalian."

"Engkau benar,'' kata mereka.

Nu'aim berkata, "Orang-orang Quraisy tidak bisa disamakan dengan kalian. Negeri ini adalah negeri milik kalian. Di sini ada harta benda, anakanak dan istri-istri kalian. Kalian tidak akan sanggup meninggalkan negeri ini untuk pindah ke tempat lain. Sementara Quraisy dan Ghathafan datang ke sini untuk memerangi Muhammad dan rekan-rekannya, lalu kalian menampakkan dukungan kepada mereka. Padahal negeri, harta benda dan wanita-wanita mereka berada di tempat lain. Jika mereka merasa mendapat kesempatan, tentu kesempatan itu akan mereka pergunakan sebaik-baiknya. Jika tidak, mereka pun akan kembali ke negeri mereka dan meninggalkan kalian bersama Muhammad yang akan melampiaskan dendam kepada kalian."

"Lalu bagaimana baiknya wahai Nu'aim?" Tanya mereka.

"Kalian tidak perlu berperang bersama mereka kecuali setelah mereka memberikan jaminan kepada kalian,'' jawab Nu'aim.

"Engkau telah memberikan jawaban yang sangat tepat," jawab mereka.

Setelah itu Nu' aim langsung menemui Quraisy dan berkata kepada mereka, "Kalian sudah tahu cintaku kepada kalian dan nasihat-nasihat yang pemah kusampaikan."

"Begitulah,'' jawab mereka.

Dia berkata lagi, "Rupanya orang-orang Yahudi merasa menyesal karena telah melanggar perjanjian dengan Muhammad dan rekan-rekannya. Secara diam-diam mereka telah mengirim utusan untuk menemui Muhammad bahwa mereka hendak meminta jaminan kepada kalian, lalu jaminan itu akan mereka serahkan kepada Muhammad, yang tentu saja mereka berpaling dari kalian. Jika mereka meminta jaminan, kalian tidak perlu memberikannya kepada mereka."

Kemudian Nu' aim menemui orang-orang Ghathafan dan berkata seperti pula kepada mereka.

Tepatnya malam Sabtu, bulan Syawwal 5 H, orang-orang Quraisy mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi, menyampaikan pesan, "Kami tidak mungkin berlama-lama di sini. Apalagi kondisi onta dan kuda kami sudah banyak yang merosot. Maka bangkitlah saat ini pula bersama kami untuk menghabisi Muhammad."

Orang-orang Yahudi mengirim utusan kepada orang-orang Quraisy seraya menyampaikan pesan, "Hari ini adalan hari Sabtu. Kalian sudah tahu akibat yang menimpa orang-orang sebelum kami karena mereka berperang pada hari ini. Di samping itu, kami tidak mau berperang bersama kalian kecuali setelah kalian menyampaikan jaminan kepada kami."

Setelah tahu apa yang disampaikan utusan Yahudi, orang-orang Quraisy dan Ghathafan berkata, "Demi Allah, benar apa yang dikatakan Nu' aim kepada kalian." Lalu mereka mengirimkan utusan lagi kepada orang-orang Yahudi, menyampaikan pesan, "Demi Allah kami tidak akan mengirim seorang pun kepada kalian. Bergabunglah bersama kami untuk menghabisi Muhammad."

Bani Quraizhah berkata, "Demi Allah, benar apa yang dikatakan Nu'aim kepada kalian."

Dengan begitu Nu'aim mampu memperdayai kedua belah pihak dan menciptakan perpecahan di barisan musuh, sehingga semangat mereka menjadi turun drastis. Sementara orang-orang Muslim selalu berdoa kepada Tuhannya, "Ya Allah, tutupilah kelemahan kami dan amankanlah kegundahan kami."[2][3]

Para ahli berbeda pendapat tentang kematian Nu'aim. Sebagian mengatakan bahwa ia wafat pada masa Khalifah Utsman, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa ia wafat saat Perang Jamal.[3]

Referensi

  1. ^ Qadhi, Yasir. A Mercy to Mankind
  2. ^ a b Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
  3. ^ a b Muhammad Raji Hassan, Kinas (2012). Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Jakarta: Penerbit Zaman. ISBN 978-979-024-295-1

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement