Ngetung Batih

Ngetung Batih (juga disebut Ngitung Batih atau Ngitung Batih Suronan) adalah tradisi upacara adat yang diadakan setiap malam 1 Sura (tahun baru Hijriah) di Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Tradisi ini bersifat ritual dan edukatif, melibatkan seluruh keluarga serta masyarakat sebagai simbol introspeksi dan syukur atas kebersamaan, keselamatan, serta harapan berkah di tahun mendatang.[1]

Latar belakang dan makna

Tradisi Ngetung Batih telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dongko sejak masa lampau. Istilah "batih" merujuk pada keluarga inti yang terdiri atas orang tua dan anak-anak, sementara "ngetung" berarti menghitung. Dalam pelaksanaannya, masyarakat mengingat dan menyebut nama seluruh anggota keluarga, termasuk mereka yang telah meninggal, sebagai bentuk refleksi dan penguatan nilai-nilai kekeluargaan.[butuh rujukan]

Istilah ngitung batih secara harfiah berarti menghitung jumlah anggota keluarga per-rumah. Namun, fungsi utamanya bukan hanya menghitung, melainkan sebagai upaya spiritual: menghimpun doa keselamatan lahir dan batin, permohonan kelimpahan rezeki, serta perlindungan dari mara bahaya.[2] Prosesi ini dipercaya telah berlangsung turun-temurun sejak era Kerajaan Mataram, sebagai usaha menjaga keharmonisan keluarga dan komunitas setempat.[3] Tradisi ini diyakini sebagai bentuk komunikasi spiritual dengan leluhur, serta sarana muhasabah diri menjelang tahun baru Jawa. Selain itu, praktik ini juga mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat agraris Jawa yang menjunjung tinggi keseimbangan antara kehidupan lahiriah dan batiniah.[butuh rujukan]

Pelaksanaan

Tradisi Ngetung Batih dilaksanakan secara kolektif pada malam 1 Sura dengan sejumlah prosesi adat.[4] Kegiatan dimulai dengan pembuatan sesaji berupa takir plonthang, jenang abang-putih, panjang ilang, dan bundhel, yang merupakan simbolisasi doa dan harapan.[butuh rujukan]

Puncak acara biasanya berlangsung keesokan harinya, diawali dengan kirab budaya yang mengarak sesaji menuju pendapa kecamatan atau lokasi utama prosesi. Di sana, digelar doa bersama (murwakala) oleh pemuka adat guna memohon perlindungan dan keberkahan. Salah satu bagian yang paling ditunggu masyarakat adalah rebutan takir dan ayam hidup, yang melambangkan berkah dan pengharapan akan kelimpahan rezeki.[4] Tidak jarang pula ditampilkan kesenian tradisional seperti Turonggo Yakso untuk menyemarakkan acara dan memperkuat nuansa budaya lokal.[butuh rujukan]

Nilai budaya dan pelestarian

Ngetung Batih memiliki nilai sosial dan budaya sebagai media penguatan identitas kolektif, pengingat nilai kekeluargaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap tradisi. Acara ini juga berfungsi sebagai alat pendidikan moral dan spiritual bagi generasi muda. Pada tahun 2023, tradisi ini diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan kini didorong untuk dipertahankan melalui festival budaya, pendokumentasian, serta keterlibatan wisatawan dalam ubarampe (peralatan ritual seperti takir, panjang ilang, bundhel).[5]

Referensi

  1. ^ Muttaqin, Adhar. "Warga Dongko Trenggalek Gelar Upacara Adat Ngitung Batih Saat 1 Suro". detikjatim. Diakses tanggal 2025-06-17.
  2. ^ "Website Resmi Kecamatan Dongko" (dalam bahasa American English). 2023-07-20. Diakses tanggal 2025-06-17.
  3. ^ Muttaqin, Adhar. "Masyarakat Dongko Trenggalek Gelar Upacara Adat Ngitung Batih". detikjatim. Diakses tanggal 2025-06-17.
  4. ^ a b "1 Suro, Warga Dongko Trenggalek Gelar Upacara Adat Ngetung Batih". DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. 2024-07-08. Diakses tanggal 2025-06-17.
  5. ^ Memontum 2 (2023-11-02). "Upacara Adat Ngetung Batih di Trenggalek Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda". Diakses tanggal 2025-06-17. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement