Ngerebeg

Ngerebeg adalah tradisi sakral oleh masyarakat Desa Tegallalang, Gianyar, Bali.[1] Tradisi ini mencerminkan hubungan mendalam antara manusia, alam, dan roh dalam kosmologi Hindu-Bali. Tradisi ini dilaksanakan sekali pada hari Rabu atau Kamis dalam 6 bulan di kalender Bali.[2] Lokasi inti tradisini ini terletak di Pura Kahyangan Jagat Penataran Duur Bingin.[3]

Pada 7 Desember 2021, sertifikat penetapan tradisi Ngerebeg sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia ditandatangani oleh Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi di Jakarta.[4]

Sejarah dan asal-usul

Ngrebeg berasal dari kata Gerebeg yang berarti geledah. Kata Ngerebeg dalam Bahasa Kawi berarti mengusir atau menempatkan wong samar makhluk halus di pelinggih.[5] Wong samar diyakini sebagai ida betara berupa anak-anak dan bentuknya menyeramkan.[6] Tradisi Ngerebeg berfungsi untuk membersihkan pikiran dalam Bhuana Alit atau tubuh manusia dan Bhuana Agung atau alam semesta.

Pelaksanaan Tradisi Ngerebeg telah ada sejak abad ke-13 ketika kedatangan Tjokorda Ketut Segara ke Desa Tegallalang.

Pelaksanaan

Pelaksanaan Tradisi Ngerebeg mirip dengan perayaan Halloween. Masyarakat Desa Tegallalang menggunakan dandanan yang menyeramkan menyerupai wujud wong samar.[7]

Sebelum dimulai, krama desa harus mempersiapkan sesajen, paica alit dan paica gede. Prosesi ini diikuti oleh seluruh masyarakat dari segala usia. Mereka berkreasi untuk membuat dandanan seseram mungkin dan berkeliling sambil membawa beberapa peralatan seperti penjor kecil, umbul-umbul, kober, daun janur, dan daun kelapa. Kostum menyeramkan ini adalah simbol Sad Ripu atau tujuh kegelapan yang berada dalam diri manusia. Sad Ripu inilah yang akan dinetralisir agar tidak mengganggu di kemudian hari.[8]

Prosesi dimulai dari Pura Duur Bingin dengan berjalan kaki mengelilingi area desa setempat.

Daftar referensi

  1. ^ Ayutari Wata, Tabita (18 Oktober 2024). "Ngerebeg Desa Tegallalang: Tradisi Suci untuk Keharmonisan Bhuana Alit dan Bhuana Agung". Budaya Bali.
  2. ^ "InfoPublik - TRADISI NGEREBEG DESA TEGALLALANG BALI". infopublik.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-14.
  3. ^ "Ngrebeg Tegallalang". Budaya Data Kemdikbud. 2021.
  4. ^ rah ww (13 July 2022). "Tradisi Ngerebeg Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Sertifikat diserahkan Wabup Anak Agung Gde Mayun". Gianyar.
  5. ^ "KPB Gianyar". www.kpbgianyar.com. Diakses tanggal 2025-11-14.
  6. ^ Yuliantara, Agung. "Tak Sekadar Tradisi, Ini Makna "Ngerebeg" di Desa Adat Tegallalang, Gianyar - Denpost". Tak Sekadar Tradisi, Ini Makna “Ngerebeg” di Desa Adat Tegallalang, Gianyar - Denpost. Diakses tanggal 2025-11-14.
  7. ^ Media, Kompas Cyber (2023-09-07). "Tradisi Ngerebeg, Warisan Budaya Tak Benda Asal Desa Adat Tegallalang". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2025-11-14.
  8. ^ Budiadnyana, Ari (2022-07-06). "Makna Tradisi Ngerebeg dari Desa Tegallalang Gianyar". IDN Times Bali. Diakses tanggal 2025-11-14.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement