Ngaben Tikus

Ngaben Tikus (bikul) atau disebut juga Upacara Mreteka Merana adalah upacara butha yadnya yang khas dan satu-satunya yang ada di Pulau Bali. Kegiatan sudah cukup sering dilakukan oleh masyarakat Hindu di Kabupaten Tabanan, khususnya oleh krama subak di wilayah Desa Pekraman Bedha, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan. Mengingat wilayah di desa ini sebagian besar penduduknya hidup dari bercocok tanam, khususnya padi. Sehingga upacara yang berhubungan dengan keselamatan dan kesuburan tanaman, khususnya padi, sudah sering dilaksanakan baik secara rutin seperti Masembuhan dan Nanggeluk Merana maupun tidak rutin (Nagata Kala) seperti Ngalepeh dan Mreteka Merana.[1]

Upacara Mreteka Merana/Ngaben bikul ini oleh beberapa subak di Bali belum terlalu memasyarakat, sehingga krama subak di wilayah desa pekraman Bedha yang sudah sering melakukannya, maka upacara ini dianggap sebagai Loka Dresta (kebiasaan setempat) apalagi upacara ini dilaksanakan ditempat suci yaitu di penataran Baleagung Pura Puseh Luhur Bedha, Karena dilihat dari hasilnya setelah upacara ini dilaksanakan ternyata telah memberikan bukti nyata bagi kehidupan para petani.[1]

Sejarah

Ngaben tikus atau ngaben bikul memiliki nilai filosofi yang menyangkut aspek-aspek penting dalam kehidupan manusia. Ngaben tikus salah satunya dilakukan oleh masyarakat di Desa Adat Bedha, Tabanan. Ritual ngaben tikus di sana sudah menjadi ritual secara turun temurun yang telah dimulai sejak 1965. Upacara dalam ngaben tikus hanya dilaksanakan sampai prosesi nganyud dan tidak seperti upacara ngaben manusia hingga melibatkan upacara ngerorasin, memukur hingga ngelinggih di kemulan.[2]

Meskipun bernama ngaben, akan tetapi ngaben tikus bukan merupakan upacara Pitra Yadnya atau upacara yang ditujukan untuk leluhur. Melainkan tergolong ke dalam upacara Bhuta Yadnya atau untuk Bhuta Kala. Rangkaian dari ngaben tikus hampir menyerupai ngaben untuk manusia.[2]

Asal muasal

Mreteka Merana terdiri dari dua kata yaitu kata Mreteka dan kata Merana. Mreteka artinya mengupacarai, Merana artinya hama penyakit. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menyucikan roh/atma hama penyakit supaya kembali ke asalnya sehingga tidak kembali menjelma ke bumi sebagai hama penyakit dan merusak segala jenis tanaman yang ada di bumi, khususnya tanaman padi. Pelaksanaan upacara ini sesuai dengan isi lontar (kitab) seperti lontar Sri Purana dan lontar Dharma Pemacula yang menyebutkan Kapreteka, sama luirnya mretekaning wong mati bener artinya diupacarai seperti mengupacarai orang mati.[1]

Oleh karena itu, pandangan masyarakat awam pada akhirnya mengkonotasikan upacara Mreteka Merana ini tergolong dalam upacara Pitra Yadnya (Ngaben Tikus) karena upacaranya seperti orang ngaben di Bali yang membawa Cuntaka (tidak suci). Upacara Mreteka Merana ini tergolong dalam upacara Bhuta Yadnya (mengupacarai sarwa prani). Bhuta Yadnya adalah upacara yang tidak membawa cuntaka (tidak suci). Untuk upacara Bhuta Yadnya ada bermacam-macam seperti memakai layang-layang (kulit binatang) ada yang ditanam ada binatang yang diselamkan di laut atau didanau, yang namanya mulang pekelem termasuk di upacarai seperti orang mati yang namanya mreteka merana. [1]

Pelaksanaan

Pertama tikus dibawa oleh masing-masing subak tempek di Desa Adat Bedha. Tikus tersebut diambil secara langsung oleh petani dari lahan pertanian yang terserang hama tikus. Selanjutnya tikus yang telah ditangkap dikumpulkan dan disucikan. Tak hanya sampai di situ, tikus tersebut dimandikan atau diringkes. Ngaben tikus umumnya dilakukan untuk mengusir hama tikus di area persawahan dan diyakini dapat mengembalikan roh tikus yang telah mati ke alamnya. Harapannya, jika ditakdirkan untuk terlahir kembali, maka tidak lagi menjadi hama perusak sawah para petani. Di desa pekraman Bedha upacara seperti ini dilaksanakan apabila hama tikus dan hama lainnya telah menyebabkan gangguan yang sudah luar biasa dan tidak bisa dikendalikan.[2]

Tujuan

Berdasarkan pandangan masyarakat Bali, ngaben bikul bertujuan untuk membersihkan hama tanaman dan juga menghilangkan pengaruh-pengaruh buruk dari aspek niskala. Jika kita mencermati lebih jauh, tradisi ini dapat membantu dalam menjaga keseimbangan ekosistem persawahan. Bila hama tikus tidak dimusnahkan, hal ini dapat berakibat buruk pada tanaman padi dan menyebabkan melonjaknya populasi tikus. Di zaman yang makin modern ini, para petani cenderung menggunakan pestisida, padahal penggunaannya sangat berbahaya. Sebab, selain mencemari lingkungan, juga dapat menjadi residu yang akan membahayakan para petani.[3][4]

Jika ditinjau melalui aspek sosial, tradisi ngaben tikus dapat meningkatkan hubungan antar masyarakat yang berada di area persawahan. Hal ini disebabkan karena sebelum upacara dimulai, masyarakat akan berbondong-bondong memburu tikus-tikus di sawah kemudian secara bergotong royong akan membuat bade dan sarana upacara yang diperlukan.[3]

Referensi

  1. ^ a b c d "Upacara Mreteka / Ngaben Bikul (Tikus) » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-11-03.
  2. ^ a b c Aristiani, Desak Made Diah. "Mengenal Makna dan Tujuan Tradisi Ngaben Tikus di Bali". detikbali. Diakses tanggal 2025-11-03.
  3. ^ a b Aristiani, Desak Made Diah. "Mengenal Makna dan Tujuan Tradisi Ngaben Tikus di Bali". detikbali. Diakses tanggal 2025-11-03.
  4. ^ antaranews.com (2020-11-19). "Badung lakukan upacara Ngaben Tikus untuk bersihkan hama pertanian". Antara News. Diakses tanggal 2025-11-03.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement