Nasi Liwet Sukoharjo

Nasi Liwet Sukoharjo

Nasi Liwet Sukoharjo (dikenal pula dengan nama Nasi Liwet Solo) merupakan hidangan khas berupa nasi gurih yang dimasak menggunakan santan kelapa. Makanan tradisional ini berasal dari Desa Menuran, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Nasi liwet khas Sukoharjo memiliki sejarah panjang dalam tradisi kuliner masyarakat setempat, dan pada perkembangannya menjadi salah satu sajian yang populer di kalangan masyarakat luas, termasuk di lingkungan bangsawan dan istana. Pada tahun 2023, Pemerintah resmi menetapkan Nasi Liwet Sukoharjo sebagai Warisan Budaya Takbenda.[1]

Sejarah

Nasi liwet Sukoharjo berasal dari masyarakat Desa Menuran, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Hidangan ini awalnya dibuat sebagai makanan sehari-hari oleh penduduk setempat. Sekitar tahun 1934, warga Menuran mulai memperkenalkan nasi liwet ke wilayah Kota Surakarta dengan cara menjualnya secara langsung. Seiring waktu, nasi liwet mendapat perhatian dan diterima oleh berbagai kalangan, termasuk keluarga bangsawan dan lingkungan Kasunanan Surakarta. Popularitasnya pun terus berkembang hingga menjadi salah satu kuliner khas yang identik dengan budaya kuliner Jawa, khususnya di wilayah Surakarta dan sekitarnya.[2]

Nasi liwet memiliki nilai simbolis dalam konteks budaya dan kepercayaan. Berdasarkan kisah dalam Serat Centhini (1814–1823), nasi liwet pertama kali disajikan saat Pulau Jawa mengalami gempa bumi. Dalam tradisi masyarakat Jawa, hidangan ini dihadirkan sebagai bagian dari ritual doa memohon keselamatan, serta diyakini sebagai simbol penolak bala ketika terjadi bencana alam. Penyajiannya disertai dengan doa yang ditujukan untuk keselamatan semesta serta harapan agar bencana serupa tidak terulang.[3]

Selain itu, terdapat pula narasi yang mengaitkan asal-usul nasi liwet dengan perayaan Sekaten, sebuah upacara tahunan yang dilaksanakan pada bulan Maulid dalam kalender Islam. Tradisi ini diduga terinspirasi dari nasi samin, yaitu makanan kesukaan Nabi Muhammad SAW. Karena keterbatasan dalam memperoleh bahan untuk membuat nasi samin, masyarakat Jawa kemudian menciptakan versi lokalnya yang dikenal sebagai nasi liwet.[4]

Dalam pelaksanaan upacara Sekaten, nasi liwet turut hadir sebagai bagian dari gunungan, yaitu persembahan berbentuk kerucut yang melambangkan kesejahteraan. Terdapat dua jenis gunungan, yakni Gunungan Jaler yang berisi hasil bumi seperti umbi-umbian, sayuran, dan buah-buahan, serta Gunungan Estri yang berisi berbagai olahan makanan, termasuk nasi liwet. Kedua gunungan ini secara simbolis mewakili unsur maskulin dan feminin dalam keseimbangan kosmis menurut pandangan budaya Jawa.[4]

Fungsi

Nasi liwet Sukoharjo atau dalam penyebutan lokal dikenal sebagai sego liwet, disiapkan oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari ritual syukuran, dengan harapan agar keluarga penyelenggara memperoleh keberkahan, tercapainya hajat, serta keselamatan.[5] Popularitas nasi liwet dari Desa Menuran mulai dikenal di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta sejak masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana IX (1861–1893), atau sekitar abad ke-19. Sejak saat itu, nasi liwet kerap disajikan dalam berbagai acara penting keraton, termasuk dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.[2]

Penyajian

Pada umumnya, sepiring nasi liwet disajikan dengan sayur dan lauk berupa lodeh labu siam yang dimasak sedikit pedas, sebutir telur pindang, opor ayam (dapat disajikan dalam potongan daging utuh atau disuwir), dan areh, serta kerupuk kulit sapi sebagai pendamping. Sebagian orang juga menambahkan tempe atau tahu bacem. Secara tradisional, nasi liwet disajikan menggunakan daun pisang berbentuk pincuk sebagai alas makanan, atau berbentuk samir jika diletakkan di atas piring dan berbentuk tum jika dibungkus.[6]

Ikon kuliner Nusantara

Nasi Liwet Solo, merupakan salah satu hidangan tradisional yang diakui sebagai bagian dari daftar tiga puluh ikon kuliner tradisional Nusantara. Pengakuan terhadap kuliner Nusantara menjadi bagian dari upaya menetapkan jenis makanan khas yang dapat mewakili kekayaan kuliner Indonesia dalam acara-acara di tingkat nasional maupun internasional yang ditetapkan pada hari Jumat, 14 Desember 2012 di Jakarta.[7][8][9] Nasi liwet dari Sukoharjo ini juga telah dikukuhkan menjadi ikon kuliner Kota Solo pada tanggal 19 Juni 2022. [10][11]

Kuliner Indonesia sendiri memiliki keragaman yang besar, mencakup aneka racikan nasi, kue, sayur, lauk pauk, hingga minuman. Keragaman ini menjadikan industri kuliner sebagai subsektor industri kreatif yang berkembang pesat. Dalam konteks pariwisata, kuliner ditetapkan sebagai wisata minat khusus. Guna mengatasi kesulitan dalam mendefinisikan makanan khas Indonesia yang luas, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui Kelompok Kerja yang terdiri dari praktisi dan pakar kuliner, menyeleksi calon ikon kuliner.[7]

Proses seleksi tersebut awalnya mengidentifikasi tujuh puluh jenis calon ikon kuliner tradisional Indonesia, yang kemudian dikerucutkan menjadi tiga puluh ikon kuliner. Tiga puluh ikon kuliner ini mencakup kuliner pusaka, tradisi, dan unggulan, yang tersusun dari hidangan pembuka hingga penutup. Kriteria yang mendasari penetapan ikon tersebut meliputi kemudahan perolehan bahan baku di dalam dan luar negeri, popularitas kuliner di kalangan masyarakat luas, serta keberadaan praktisi kuliner profesional yang menggeluti hidangan tersebut.[7]

Nasi Liwet Solo termasuk dalam daftar tiga puluh ikon yang ditetapkan oleh Kelompok Kerja tersebut. Daftar ikon lainnya meliputi Ayam Panggang Bumbu Rujak Yogyakarta, Gado-gado Jakarta, Nasi Goreng Kampung, Rendang Padang, Sate Ayam Madura, dan Nasi Tumpeng. Tiga puluh ikon kuliner ini secara resmi ditetapkan sebagai perwakilan kuliner tradisional Indonesia. Diharapkan ikon-ikon kuliner tersebut dapat disajikan dalam bentuk menu lengkap, mulai dari hidangan pembuka hingga minuman.[7][8][9]

Referensi

  1. ^ "Kemendikbud RI Tetapkan 16 Budaya Jateng sebagai WBTB 2023, dan SMAN 7 Purworejo Cagar Budaya Nasional" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-19.
  2. ^ a b Dewi, Murdijati Gardjito, Shinta Teviningrum & Swastika (2018-05-21). Kuliner Surakarta: Mencipta Rasa Penuh Nuansa. Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-602-03-8485-6. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  3. ^ Santoso, Umar; Gardjito, Murdijati; Harmayani, Eni (2019-07-16). Makanan Tradisional Indonesia Seri 2: Makanan Tradisional yang Populer (Sup, Mi, Set Menu Nasi, Nasi Goreng, dan Makanan Berbasis Sayur). UGM PRESS. ISBN 978-602-386-221-4.
  4. ^ a b "Sejarah dan Kelezatan Nasi Liwet Bu Wongso Lemu". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2025-06-19.
  5. ^ "Nasi Liwet Solo, Makanan Rakyat yang Disukai Kalangan Ningrat". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2025-06-19.
  6. ^ Krisnawati, Inti (2022). "Nasi Liwet Solo, Kuliner Tradisional dengan Keunikan Sejarah, Budaya dan Filosofi" (PDF). Destinesia Jurnal Hospitaliti & Pariwisata. 3 (2): 102–111. doi:https://doi.org/10.31334/jd.v3i2.2216. ;
  7. ^ a b c d Media, Kompas Cyber (2012-12-14). "Inilah 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-13.
  8. ^ a b "Ini Dia 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia !". Detik Food. 2012-12-17. Diakses tanggal 2025-12-13.
  9. ^ a b "30 Indonesian Traditional Culinary Icon". Diakses tanggal 2025-12-13.
  10. ^ Agnia. "Nasi Liwet: Ikon Kuliner Solo". surakarta.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-13.
  11. ^ antaranews.com (1970-01-01). "Nasi Liwet sebagai ikon kuliner kota Solo". Antara News. Diakses tanggal 2025-12-13.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement