Nama-Nama Sahabat Dari Kalangan Jin

Cerita-cerita tentang jin yang masuk Islam dan menjadi sahabat Nabi Muhammad SAW adalah bagian dari warisan kepercayaan dalam tradisi Islam. Dalam berbagai narasi keislaman, terdapat kisah-kisah yang merujuk pada pengajaran agama kepada jin dan bagaimana mereka diarahkan untuk mengikuti ajaran Islam yang diturunkan melalui Al-Qur'an dan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Beberapa kisah juga menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memenuhi permintaan jin tertentu, seperti larangan beristinjak dengan tulang karena merupakan makanan bangsa jin dan kotoran hewan yang merupakan makanan ternak atau hewan kendaraan bangsa jin, serta hal lain yang terkait dengan pengajaran agama islam kepada bangsa jin seperti prinsip keimanan dan bacaan al-quran.

Namun, penting untuk diingat bahwa cerita-cerita semacam ini sering kali mengandung unsur mistis dalam kepercayaan sebagian umat Islam. Mereka menggambarkan nilai-nilai agama dan pesan-pesan moral, tetapi dapat dilihat dalam konteks kebudayaan dan kepercayaan pada masa lalu. Interpretasi terhadap kisah-kisah ini dapat berbeda-beda di antara individu dan kelompok keagamaan.

Sejarah Jin Muslim menjadi Sahabat Nabi

Kaum jin mendengar Nabi saw. saat membaca Al-Qur'an di sebuah Nakhlah (kebun kurma) antara Mekah dan Thaif. Mereka beriman kepada Nabi saw., sementara beliau sendiri tidak mengetahui hal itu sampai diberitakan melalui wahyu seperti yang disebutkan dalam surah al-Ahqaf dan surah al-Jin tentang keimanan beberapa orang dari kalangan bangsa jin tersebut.

Semenjak itu, Nabi saw. pun kerap berjumpa langsung dengan mereka untuk mengajarkan syariat islam dan Al-Qur'an, khususnya surah al-Rahman, yang diceritakan beliau kepada para sahabatnya, jin memiliki respon yang lebih baik ketimbang mereka. Surah al-Rahman yang dimaksud adalah ayat, Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang kamu dustakan? Saat membacakan ayat itu, kaum jin berkata,"Wahai Tuhan kami, tidak ada satu pun nikmat-Mu yang kami dustakan, alhamdulillah". Hadis ini diriwayatkan al-Tirmidzi, Ibnu Jarir, dan perawi lainnya. Namun, ada perbedaan riwayat mengenai jumlah jin yang berjumpa dengan Rasulullah saw. Pada awalnya, mereka berjumlah tujuh sampai sembilan jin muslim, kemudian lima belas jin, kemudian tiga ratus jin, kemudian dua belas ribu jin.

Kaum jin yang pertama kali mendengar bacaan Nabi saw. adalah jin yang paling mulia, yaitu kaum jin Nashibin. Bahkan, nama-nama dan jumlah mereka juga tercatat dalam sejumlah riwayat. Mereka kemudian mengirim utusan kepada Nabi saw. yang dipimpin oleh jin Wirdan. Ia memohon kepada Rasulullah saw. untuk bisa sering bertemu dalam jumlah yang banyak, sebagaimana firman Allah, Hampir saja jin-jin itu berdesakan mengerumuninya. Saat itu jin Wirdan menginginkan Nabi saw. bertemu dengan mereka secara terpisah. Tapi Nabi saw. menolak permintaan itu, sebagaimana firman Allah, Aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya (al-Jinn: 22).[1]

Saat itulah kaum jin belajar tentang ajaran-ajaran islam dan beriman kepada Rasulullah saw. Keimanan mereka begitu kokoh, terutama setelah menyaksikan bukti-bukti diutusnya Nabi saw. Di antara tanda-tanda diutusnya Nabi saw. kepada mereka adalah diluncurkannya panah-panah api dari langit dan menghadang mereka. Semenjak itu, kaum jin tidak lagi dapat mendengar kabar langit teratas atau wahyu yang turun kepada Nabi saw.

Karakteristik

Dan sejak bertemu Rasulullah saw, para sahabat jin masih hidup lama. Jarak kematian sahabat jin yang terakhir dan wafatnya Rasulullah saw. lebih dari seribu tahun. Hal itu disebabkan panjangnya umur mereka dibanding manusia.[2]

Disebutkan bahwa para rasul selamanya berasal dari kalangan manusia, sedangkan pemberi peringatan bisa dari kalangan jin, bisa dari kalangan manusia. Karena itu, di antara jin ada yang diutus kepada kaumnya sampai kaumnya beriman kepada Allah, tidak ada yang menyekutukannya, beriman kepada para rasul, dan tentunya kepada nabi terakhir Nabi Muhammad saw. utusan penyampai syariat terakhir yaitu syariat islam.

Demikian halnya setatus manusia, mereka lebih kuat dari pada jin. Artinya, jin harus tunduk kepada manusia, bukan sebaliknya. Contohnya, seperti yang terjadi pada Nabi Sulaiman a.s. Ketika itu jin tunduk kepada beliau. Mereka menuruti apa yang diperintah dan dikehendakinya, seperti bekerja membuat mihrab, patung, dan lain-lain untuknya. Dalam Al-Qur'an, Allah swt. berfirman, kemudian kami tundukan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut kemana saja yang dikehendakinya, dan kami tundukan pula kepadanya setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugrah kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah untuk dirimu sendiri dengan tanpa menghitung. (Surat Shad 38: 36-39)[3]

Referensi

  1. ^ "Surat Al-Jin Ayat 22 Arab, Latin, Terjemah dan Tafsir | Baca di TafsirWeb". tafsirweb.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2023-12-11.
  2. ^ Dr. Samia Abdul Aziez Menisi, Penerjemah : M. Tatam Wijaya (Cetakan 1, 2016). Jin-Jin Muslim Sahabat Nabi. Jakarta: Qalam. hlm. 145–181. ISBN 978-602-60054-5-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ "Surat Sad Ayat 36, Ayat 37, Ayat 38, Ayat 39, dan Ayat 40 Lengkap Dengan Artinya / Terjemahannya | Alquran Surat Ayat". alquransuratayat.blogspot.com. Diakses tanggal 2023-12-11.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement