Museum Usman Janatin
Museum Usman Janatin adalah museum khusus yang dibangun untuk memberikan informasi mengenai Usman Janatin. Peresmian museum berlangsung pada tanggal 7 Maret 2015. Acara peresmian dilakukan oleh Sekretaris Daerah Purbalingga bernama Imam Subijakto. Peresmian juga dihadiri oleh Komandan Lanud Wirasaba Leklol bernama Andreas Dhewo. Museum ini dibangun di sekitar rumah Usman Janatin. Kepemilikan dan pengelolaan museum diserahkan kepada keluarga Usman Janatin. Koleksi museum berupa perlengkapan pribadi Usman Janatin. Koleksi berbentuk foto, piagam penghargaan, surat-surat, seragam dan radio transistor dipajang. Di dalam museum juga terdapat atribut kepangkatan dan buku-buku tentang Tentara Nasional Indonesia.[1] Museum Usman Janatin beralamat di Jl. Letnan Kusni No. 77, Dusun 3,[2] Desa Jatisaba, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.[3] Titik koordinatnya adalah 7°24’09.8” Lintang Selatan dan 109°23’48.5” Bujur Timur. Museum ini dapat dicapai melalui Terminal Bus Bukateja dengan jarak tempuh sejauh 8 km atau dari alun-alun Purbalingga sejauh 4,2 km.[1]
Fungsi
Museum Usman Janatin dibangun sebagai bentuk penghargaan atas patriotisme Usman Janatin atas negara Indonesia. Usman Janatin adalah salah satu tokoh pahlawan nasional Indonesia yang gugur dalam tugas penyusupan yang merupakan bagian dari Operasi Dwikora.[4]
Sejarah Usman Janatin Purbalingga
Kehidupan
Usman Janatin bin H Moch Ali, lahir 18 Maret 1943 di Dukuh Tawangsari, Desa Jatisaba, Kecamatan/Kabupaten Purbalingga. Nama Usman Janatin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indoenesia, karena kepahlawananya melakukan penyusupan dalam rangka tugas Dwikora.[5] Ia menamatkan sekolahnya di sekolah menengah. Usman pun melanjutkan pendidikan dengan masuk Korps Marinir Indonesia. Ia pun ditunjuk untuk menjadi salah satu dari tiga sukarelawan untuk bertugas dalam operasi militer Komando Siaga. Komando Siaga sendiri dipimpin oleh Wakil Laksamana Angkatan Udara Omar Dhani. Operasi ini berlangung selama konfrontasi Indonesia-Malaysia. Janatin kemudian ditempatkan di Pulau Sambu, Provinsi Riau.[6]
Kiprah Militer
Pada 1962, Usman mendaftarkan dirinya ke Sekolah Calon Tamtama KKO-AL di Malang. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, Usman berhasil lolos. Ia pun menjalani berbagai latihan fisik dan mental sampai dinyatakan lulus pada 1 Juni 1962. Usman mendapat pangkat Prajurit III KKO. Tugas pertama yang diemban Usman adalah mengikuti Operasi Sadar di Irian Barat. Ia bertugas untuk memastikan penyerahan kekuasaan berjalan dengan lancar. Usman Janatin pun berhasil menyelesaikan tugasnya di Irian Barat dengan baik. Setelah itu, tugas negara lain juga sudah menanti Usman. Tugas selanjutnya adalah Operasi Dwikora yang dikumandangkan oleh Presiden Soekarno.[6]
Operasi Dwikora
Era 1962 sampai 1966, Indonesia yang dipimpin Presiden Soekarno melakukan konfrontasi dengan Malaysia. Konfrontasi ini terjadi karena Soekarno menolak penggabungan dua koloni Inggris di bagian utara Pulau Kalimantan atau Sabah dan Sarawak menjadi bagian Negara Federasi Malaysia. Bagi Soekarno, penggabungan ini menjadi sebuah bentuk pelanggaran terhadap Persetujuan Manila. Persetujuan Manila adalah sebuah persetujuan berasal dari inisiatif Diosdado Macapagal, politikus Filipina, yang ditandatangani pada 31 Juli 1963. Sementara Malaysia melihat penggabungan ini menjadi masalah dalam negeri, sehingga negara lain tidak seharusnya ikut terlibat. Oleh karena itu, demonstrasi anti-Indonesia pun pecah di Kuala Lumpur. Para demonstran menyerbu gedung KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) dan merobek-robek foto Soekarno. Hal inilah yang kemudian menyulut emosi Soekarno. Ia pun mengambil sikap bermusuhan melalui pidatonya yang berjudul Ganyang Malaysia. Soekarno kemudian melakukan penyerangan kepada Malaysia. Serangan ini kemudian dikenal dengan Operasi Dwikora.[6]
Pengeboman Di Singapura
Pada 8 Maret 1965, Usman Janatin dan rekannya, Harun Tohir, serta Gani bin Arup bertugas untuk melakukan sabotase di Singapura. Ia diperintahkan untuk menyusup ke Malaysia dan Singapura. Di sana, Usman bersama rekannya menjalankan misi untuk menciptakan kericuhan dengan meledakkan sejumlah gedung di Singapura. Dengan perahu karet dan 12,5 kg bahan peledak, ketiganya diberitahu untuk membom sebuah rumah tenaga listrik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pada 10 Maret 1965, Usman dan kedua rekannya meledakkan bangunan sipil, bangunan Hong Kong dan Shanghai Bank.[6]
Hukum Gantung
Setelah melakukan pengeboman, Usman bersama rekannya, Harun, mencoba kabur melalui jalur barat, sedangkan Gani memilih jalur lain. Keduanya merampas sebuah perahu motor milik warga dan pergi meninggalkan Pelabuhan Singapura. Namun, di tengah pelarian itu, perahu motor yang mereka kendarai kehabisan bahan bakar. Mereka pun tertangkap oleh pasukan patrol Singapura pada 17 Oktober 1968.[6]
Akhir Hidup
Setelah tertangkap, Usman dan Harun pun dijatuhi hukuman mati atas tindakan pembunuhan yang mereka lakukan. Mereka dihukum gantung di Penjara Changi, Singapura. Jenazah Usman dan Harun kemudian dipulangkan ke Indonesia. Mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Nama Usman sendiri kini diabadikan menjadi nama jalan di depan Markas Korps Marinir, yaitu Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun. Sekarang, namanya juga diabadikan menjadi nama sebuah masjid di daerah Cilandak, Jakarta Selatan.[6]
Sumber Berita
- ^ a b Rusmiyati, dkk. (2018). Katalog Museum Indonesia Jilid I (PDF). Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. hlm. 494. ISBN 978-979-8250-66-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "DAFTAR MUSEUM KEBUDAYAAN PER KEC. PURBALINNGA". Pusdatin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 29 Mei 2025. ;
- ^ Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah (2023). Profil dan Data Daya Tarik Wisata Tahun 2023 (PDF). Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. hlm. 74. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Suhardiyo, Sapto (2015). "Museum Usman Janatin: Wahana Wisata Pendidikan". Dalam Santosa, Budy (ed.). Pesona Wisata Purbalingga. Purbalingga: Bagian Humas Sekretariat Daerah Kabupaten Purbalingga. hlm. 30. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Dinkominfo (2014-03-11). "Museum Usman Janatin Jadi Wahana Wisata Pendidikan". Pemerintah Kabupaten Purbalingga (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-08.
- ^ a b c d e f Media, Kompas Cyber (2021-05-25). "Janatin alias Usman: Kehidupan, Karier Militer, dan Bom di Singapura Halaman 2 - Kompas.com". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2025-06-08.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


