Museum Nyah Lasem
| Didirikan | 2016 |
|---|---|
| Lokasi | Gang Karangturi V No. 2, Desa Karangturi, Lasem, Kabupaten Rembang[1] |
| Jenis | Museum khusus |
Museum Nyah Lasem atau Museum Guest House and Creative Space Nyah Lasem adalah museum khusus yang terletak di Gang Karangturi V No. 2, Desa Karangturi, Lasem, Kabupaten Rembang. Museum ini didirikan dengan tujuan untuk mengingat kembali kehidupan para nyonya dan perempuan-perempuan yang pernah tinggal di rumah-rumah kuno Lasem. Bangunan museum ini berupa rumah gladak Jawa yang terbuat dari kayu dan sudah ada sejak tahun 1850.
Nama museum ini terdiri atas kata Nyah dan Lasem. Kata Nyah/Nyonyah/Nyonya merupakan sapaan kepada perempuan keturunan Tionghoa, sedangkan Lasem merujuk pada lokasi museum berada, yaitu Kecamatan Lasem. Museum Nyah Lasem memiliki beragam koleksi, tetapi koleksi unggulannya adalah foto-foto nyonya yang pernah tinggal di Lasem dan arsip surat perdagangan Batik Lasem.
Pendirian

Pendirian museum ini berawal dari dialog antara Baskoro BD alias Mas Pop, pendiri Rembang Heritage Society, dengan A. Soesantio. Soesantio memiliki sebuah bangunan yang dimiliki keluarga besarnya sejak tahun 1850 dan difungsikan sebagai museum milik keluarga. Sejak dikontrak oleh tetangganya, rumah ini belum juga diserahkan kembali dan tanpa ada kejelasan. Saat Soesantio mengetahui kegiatan Baskoro dalam komunitas warisan budaya, ia kemudian memutuskan untuk mengajak Baskoro menyelesaikan masalah tersebut. Pada akhirnya, bangunan itu dimanfaatkan sebagai museum dengan nama Nyah Lasem.[2]
Kata Nyah singkatan dari Nyonya/Nyonyah, biasa digunakan untuk memanggil perempuan keturunan Tionghoa, sedangkan Lasem merujuk pada lokasi museum berada. Museum Nyah Lasem didirikan dengan tujuan untuk mengingat kembali kehidupan nyonya-nyonya dan keluarga keturunan Tionghoa di rumah kuno Lasem.[3]
Museum Nyah Lasem mulai dibuka untuk umum sekitar tahun 2016. Mulanya, pengunjung harus menghubungi Baskoro—sebagai pemandu—terlebih dahulu ketika akan berkunjung. Namun, kini hal tersebut tidak wajib dilakukan lagi.[3] Museum ini berada di bawah kepemilikan A. Soesantio dan dikelola oleh Yayasan Lasem Heritage.[4] Pada November hingga Desember 2021, pengelola Museum Nyah Lasem mengadakan beberapa kegiatan seni budaya seperti pameran seni “Cerita Nyah Lasem” serta pameran foto “Tridaya” sebagai upaya mempromosikan museum tersebut.[3]
Bangunan
Museum Nyah Lasem terletak di Gang Karangturi V No. 2, Desa Karangturi, Lasem, Kabupaten Rembang.[3][4] Bangunan museum ini berupa rumah gladak Jawa peninggalan keluarga Tionghoa yang dimiliki oleh A. Soesantio. Ia mewarisi rumah ini dari orang tuanya yang merupakan keturunan Tio Oen Hien dan Go Radjin Nio. Menurut Baskoro alias Mas Pop, leluhur Soesantio merupakan pemilik perusahaan batik Tio Swan Sien.[3]
Rumah gladak Jawa tersebut terbuat dari kayu dengan beranda depan berstruktur kuda-kuda kayu khas Tiongkok berwarna hijau. Pada bagian halaman depan, terdapat pohon mangga yang batangnya ditutup oleh kain batik khas Lasem. Batik ini sekaligus menjadi ciri khas dari Kabupaten Rembang.
Untuk bagian dalam, terdapat ruangan dengan deretan foto dan diperkirakan pernah digunakan sebagai ruang tamu. Sementara di sisi kanan dan kiri ruang depan, ada kamar dengan ukuran yang sama dan di sisi belakangnya, ada satu ruang dengan desain memanjang.
Terdapat satu beranda lagi di bagian belakang, tetapi tidak terlalu luas.[3] Selain bangunan utama yang dijadikan museum, di samping kiri terdapat rumah penginapan yang memiliki dua kamar.[4][5]
Koleksi
Museum Nyah Lasem memiliki koleksi yang cukup beragam, seperti kain batik tulis khas Lasem, foto-foto kuno, buku-buku kuno, peralatan membuat batik, arsip-arsip, serta peralatan rumah tangga yang digunakan di Lasem pada masa lalu. Koleksi ditampilkan rapi dan dilengkapi keterangan pada setiap koleksinya.
Museum ini tidak membatasi siapapun yang ingin menyumbangkan koleksi. Koleksi unggulan yang dipamerkan berupa foto-foto nyonya yang pernah tinggal di Lasem dan arsip surat perdagangan Batik Lasem.[4]
Pada bagian halaman belakang, pengunjung bisa melihat langsung bekas produksi batik. Kompor, manekin, panci besar, saringan, hingga gawangan bisa ditemukan di sana.[6]
Referensi
Catatan kaki
- ^ "DAFTAR MUSEUM KEBUDAYAAN PER KEC. Lasem". Pusdatin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 30 Mei 2025. ;
- ^ Winandari, dkk. 2022, hlm. 254–255.
- ^ a b c d e f Senjaya 2021, Museum Nyah Lasem.
- ^ a b c d Rusmiyati, dkk. 2018, hlm. 410.
- ^ Prodjo 2017, Menginap di Bangunan.
- ^ "Museum Nyah Lasem". Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Rembang. 2022-10-14. Diakses tanggal 2026-01-26.
Media daring
- Prodjo, Wahyu A. (21 Februari 2017). "Menginap di Bangunan China-Hindia Lasem, Mau?". Kompas.com. Diakses tanggal 28 Mei 2024.
- Senjaya, Immanuel C. (5 Desember 2021). "Museum Nyah Lasem, potret rumah gaya "gladhak" Jawa". Antaranews.com. Diakses tanggal 27 Mei 2024.
Daftar pustaka
- Rusmiyati, dkk. (2018). Katalog Museum Indonesia Jilid I (PDF). Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman & Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ISBN 978-979-8250-66-8. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Winandari, dkk. (2022). "Pengaruh Gerakan Pelestarian Pusaka Terhadap Adaptasi Bangunan Bersejarah di Kota Lasem". AGORA. 20 (2). doi:10.25105/agora.v20i2.15016.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.




