Museum Karaeng Pattingalloang

Infotaula de geografia políticaMuseum Karaeng Pattingalloang
museum
museum building (en) Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata

Dinamakan berdasarkanKaraeng Pattingalloang Suntingan nilai di Wikidata
Tempat
PetaKoordinat: 5°11′27.12664″S 119°24′15.02442″E / 5.1908685111°S 119.4041734500°E / -5.1908685111; 119.4041734500 
Negara berdaulatIndonesia
Provinsi di IndonesiaSulawesi Selatan
KabupatenGowa
KecamatanBarombong
KelurahanBenteng Somba Opu Suntingan nilai di Wikidata
NegaraIndonesia Suntingan nilai di Wikidata
Sejarah
Pembuatan1989 Suntingan nilai di Wikidata
Peresmian1995 Suntingan nilai di Wikidata
Informasi tambahan
Zona waktu
Lain-lain

Situs webLaman resmi
Instagram: museumkaraengpattingalloang Modifica els identificadors a Wikidata


Museum Karaeng Pattingalloang adalah museum khusus yang dibangun untuk mengenang riwayat hidup Karaeng Pattingalloang. Museum ini mulai dibangun sejak tahun 1989 dan selesai pada tahun 1995. Letak museum berada di sekitar Benteng Somba Opu, Barombong, Gowa.[1] Koleksi yang dipamerkan dalam museum berupa mata uang, keramik, peninggalan budaya, teknologi, seni rupa, dan sejarah. Museum Karaeng Pattingalloang dapat dicapai melalui Bandar Udara Sultan Hasanuddin sejauh 26,3 km, dari Terminal Cappa Bunga sejauh 8,9 km, atau dari Pelabuhan Soekarno-Hatta sejauh 10,7 km.[2]

Sejarah

Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang atau yang memiliki nama lengkap I Mangangada’-cina I Daeng I Ba’le Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud, Tuammenanga ri Bontobiraeng. Ia merupakan putra dari Raja Tallo VII Karaeng Matowaya.[3] Ia terkenal karena minatnya terhadap ilmu pengetahuan yang diceritakan telah membaca seluruh sejarah raja-raja Eropa. Ia selalu membawa buku-buku, khususnya yang berhubungan dengan matematika, yang sangat Ia kuasai. Ia juga tertarik dengan seluruh aspek ilmu pengetahuan sehingga Ia mengerjakannya siang dan malam. Mendengarnya berbicara tanpa melihatnya, orang akan menyangka Ia seorang Portugis karena lancar berbahasa orang-orang di Lisbon.[4]

Penamaan

Papan nama museum Karaeng Pattingalloang

Nama Museum Karaeng Pattingalloang berasal dari nama seorang bangsawan Kerajaan Tallo yaitu Karaeng Pattingalloang. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri pada masa pemerintahan Sultan Kesultanan Gowa ke-15 yaitu Sultan Malikussaid. Karaeng Pattingalloang adalah seorang saudagar dan ahli hukum. Ia juga menguasai Bahasa Belanda, Bahasa Denmark, Bahasa Spanyol dan Bahasa Tionghoa.[5]

Pemanfaatan

Museum Karaeng Pattingalloang digunakan sebagai tempat penyimpanan peninggalan bersejarah milik Kesultanan Gowa. Koleksi ini kemudian dimanfaatkan lagi untuk melakukan penelitian tentang penyebaran Islam di wilayah Kesultanan Gowa. Penelitian ini terutama berkaitan dengan Benteng Somba Opu yang menjadi pusat pemerintahan dan pusat perdagangan Kesultanan Gowa di kawasan Indonesia Timur selama abad ke-16 hingga ke-17 Masehi.[5]

Tata Pamer

Interior Museum Karaeng Pattingalloang

Sejak tahun 1992, pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan, pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Koleksi dalam museum merupakan hasil ekskavasi dari Benteng Somba Opu.[6]

Bentuk museum ini adalah rumah panggung dengan model rumah controleur Belanda di Bone. Pendesainnya adalah Ananto Yudono dari Universitas Hasanuddin. Museum ini memiliki dua lantai. Lantai atas digunakan sebagai tempat pameran tetap dengan beragam koleksi. Lantai bawah digunakan sebagai tempat memperoleh informasi mengenai koleksi yang ada di lantai atas. Selain itu, di lantai bawah terdapat beberapa koleksi peralatan makan, keramik, batu bata, lukisan, alat musik tradisional, dan mata tombak. Bagian luar museum juga terdapat meriam besi, berbentuk bulat panjang dengan warna cokelat kehitaman.[7]

Penyampaian informasi dalam Museum Karaeng Pattingalloang dimulai dengan pengantar mengenai keistimewaan Karaeng Pattingalloang dan penjelasan tentang tema pameran. Setelah itu, diberikan informasi mengenai Kareang Pattingalloang sebagai negarawan dan sejarahnya hingga mampu menjadi perdana menteri. Informasi dilanjutkan dengan minat Kareang Pattingaloang terhadap ilmu pengetahuan, seperti pemesanan bola dunia, peta dunia, teleskop, dan atlas oleh Karaeng Pattingalloang. Kemudian dijelaskan tentang keahliannya dalam menguasai berbagai bahasa dan melakukan diplomasi.

Informasi berikutnya tentang Karaeng Pattingalloang sebagai saudagar yang yang berdagang untuk Kesultanan Gowa dan Kerajaan Tallo. Selain itu, juga diberikan informasi tentang usahanya dalam mengembangkan Somba Opu sebagai pusat perdagangan. Sesi terakhir berupa akhir hayat dari Karaeng Pattingalloang. Sesi ini menjelaskan kegiatannya yaitu menerjemahkan berbagai risalah bangsa Eropa, pemesanan perahu Galley dan atlas Maior Blaeu. Selain itu, sesi ini memberikan informasi tentang pesan terakhir dari Karaeng Pattingalloang sebelum wafat.[8]

Koleksi

Batu Bata yang Bermotif Bunga Parenreng

Batu bata

Dalam Museum Karaeng Pattingalloang terdapat 14 batu bata polos dengan ukuran yang beragam. Panjangnya berkisar antara 23-31 cm dengan lebar antara 13-18,5 cm dan tebalnya antara 2,5–5 cm. Batu bata ini diperoleh dari hasil ekskavasi Benteng Somba Opu dan digunakan sebagai media pembelajaran bagi masyarakat terhadap warisan budaya dan identitas bangsa.[9]

Batu Bata Bermotif Bunga Parenrengi

Pola tumbuhan dalam seni hias Bugis digambarkan dalam bentuk bunga yang terbuka. Bunga atau pohon dianggap sebagai simbol pohon hidup yang menguasai dunia, seperti yang terlihat pada beberapa suku di Indonesia.[butuh rujukan] Dalam kosmologi Bugis, motif bunga ini disebut dengan Bunga Palenren yang artinya bunga yang menarik. Bentuk motif berarti aliran yang tak berujung, seperti hamparan bunga Palenlen. Selain itu, bunga Palenlen merupakan simbol kesuburan dan kemakmuran. Kemunculan motif hias bunga Palenlen yang diyakini mempunyai pengaruh Hindu dalam seni hias Bugis merupakan “penyimpangan” dari banyak motif hias yang terdapat pada rumah-rumah Bugis. Hal ini dikarenakan menurut pendapat para ahli, bahwa pengaruh agama Hindu di Sulawesi Selatan jauh lebih kecil dibandingkan di Pulau Jawa dan Bali.[10]

Galeri

Lihat Juga

Referensi

  1. ^ "DAFTAR MUSEUM KEBUDAYAAN PER KEC. Barombong". Pusdatin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 2025-06-01.
  2. ^ Rusmiyati; et al. (2018). Katalog Museum Indonesia Jilid II (PDF). Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 378. ISBN 978-979-8250-67-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ Juliano, Adrian (2024-08-08). "Sosok Karaeng Pattingalloang, Raja Tallo yang Dikenal Punya Pengetahuan Luas". Merdeka.com. Diakses tanggal 2024-12-22.
  4. ^ Arsyad, Edy (2024-10-01). "Karaeng Pattingalloang, Tokoh Tersohor karena Kecerdasannya". Fajar.Com. Diakses tanggal 2024-22-12.
  5. ^ a b Muhaeminah 2014, hlm. 310.
  6. ^ Perdana 2020, hlm. 60-61.
  7. ^ Perdana 2020, hlm. 61.
  8. ^ Perdana 2020, hlm. 65.
  9. ^ Muhaeminah 2014, hlm. 311.
  10. ^ Paita Yunus, Pangeran (2012-06-01). "Makna Simbol Bentuk Dan Seni Hias Pada Rumah Bugis Sulawesi Selatan". Jurnal Seni & Budaya Panggung. 22 (3): 278.

Daftar pustaka

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement