Mubeng beteng
| Mubeng beteng | |
|---|---|
| Jenis | Ritual budaya |
| Tanggal | Malam 1 Sura (1 Muharam) |
| Dimulai | Abad ke-19 |
| Frekuensi | Tiap tahun |
| Lokasi | Kota Yogyakarta, Indonesia |
| Penyelenggara | Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan masyarakat Kota Yogyakarta |
Mubeng beteng merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta setiap malam 1 Sura dalam penanggalan Jawa, yang bertepatan dengan malam 1 Muharam dalam kalender Islam. Ritual ini berupa prosesi kirab mengelilingi area benteng keraton yang dilakukan dalam suasana hening tanpa percakapan, sebagai bentuk refleksi spiritual dan introspeksi dalam menyambut pergantian tahun.[1]
Sejarah
Prosesi mubeng beteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terinspirasi oleh perjalanan suci hijrah dari Makkah ke Madinah oleh kaum muhajirin yang dipimpin oleh Nabi Islam, Muhammad. Perjalanan yang penuh keprihatinan dan penderitaan melintas padang pasir yang sangat panas tanpa menggunakan alas kaki. Suasana tersebut yang kemudian menjadi landasan peringatan tahun baru di Jawa dan Nuswantara sebagai laku prihatin. Di samping itu, pelaksanaan lampah ratri tersebut juga dilaksanakan dengan tapa bisu (tanpa berbicara) dan juga tanpa menggunakan alas kaki. Jadi sangat berbeda suasana kejiwaannya dengan peringatan Tahun Baru Masehi yang dirayakan dengan pesta pora dan huru-hara. Sementara mubeng beteng menciptakan suasana yang khidmat, senyap, dan keramat untuk merefleksikan diri selama satu tahun sebelumnya.[2]
Prosesi
Prosesi mubeng beteng merupakan bagian dari tirakat lampah ratri, yakni munajat kepada Allah, dengan berjalan mengikuti lintasan tertentu. Di Yogyakarta ada beberapa lintasan yang digunakan lampah ratri, antara lain:
- Lintasan dari Pojok Beteng Kidul Wetan Keraton Yogyakarta sampai ke Pantai Parangkusumo, Bantul.
- Lintasan mengikuti kelima Masjid Pathok Nagara Keraton Yogyakarta.
- Lintasan jagan njaban peninggalan Keraton Kotagede.
- Ada juga yang melaksanakan lampah ratri dengan keliling desa.
Namun, di antara beberapa lintasan di atas yang paling populer dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta adalah lampah ratri dengan mengelilingi Benteng Baluwerti. Prosesi ini dahulunya merupakan upacara yang resmi dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dilaksanakan oleh para abdi dalem. Seiring berjalannya waktu, mubeng benteng ini dilaksanakan oleh masyarakat dan komunitas abdi dalem saja. Pada tahun 2017, prosesi upacara ini dilepas setelah memperoleh izin dari G.K.R. Mangkubumi, putri Hamengkubuwana X, sehingga statusnya diubah dari Hajad Dalem menjadi Hajad Kawula Dalem.[3][4]
Pelaksanaan
Sebelum memulai lampah ratri atau yang kini juga dilaksanakan dengan nama lampah budaya, akan dibacakan tembang Jawa (macapat). Tetembangan atau lagu yang dinyanyikan biasanya menggunakan format Dhandhanggula. Tembang tersebut dinilai memiliki karakter yang luwes. Nama Dhandhanggula dimaknai sebagai kisah anak muda yang mengalami hal indah. Setelah pembacaan macapat, lonceng dibunyikan sebanyak 12 kali pada pukul 00.00. Selanjutnya prosesi mengitari benteng dilaksanakan berlawanan dengan arah jarum jam, dari barah ke selatan, ke timur, ke utara, dan kemudian kembali ke tempat semula.[5]
Referensi
- ^ "Mengenal Tradisi Mubeng Beteng, Upacara Khas Keraton Yogyakarta". kumparan. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ Dinas Kebudayaan, Dinas Kebudayaan (2018). "Mubeng Beteng Karatan Ngayogyakarta Hadiningrat". Mubeng Beteng Karatan Ngayogyakarta Hadiningrat. Diakses tanggal 2025.
- ^ Dinas Kebudayaan (2018). "Mubeng Beteng Karatan Ngayogyakarta Hadiningrat". kebudayaan.jogjakota.go.id. Diakses tanggal 01 Oktober 2025.
- ^ Nindasari. "Tradisi Mubeng Beteng Malam Satu Suro: Sejarah, Tata Cara, Makna". detikjogja. Diakses tanggal 2025-06-01.
- ^ Damaika, Laili Zain. "Mengenal Mubeng Beteng, Tradisi Malam 1 Suro oleh Keraton Yogyakarta". pariwisataindonesia.id. Diakses tanggal 1 Oktober 2025.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


