Mongunom Manginano
Mongunom Manginano adalah ritual pengobatan tradisional masyarakat Buol, Sulawesi Tengah untuk memperoleh kesembuhan, terutama bagi penderita penyakit yang tidak dapat dijelaskan secara medis. Mongunom manginano telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kemendikbudristek dengan nomor registrasi 202101384[1] melalui SK No. 372/M/2021.[2]
Sejarah
Secara etimologis, mongunom berarti “pengobatan” dan manginano merujuk pada bajak laut Mangindanao. Ritual ini disebut juga dengan pengobatan buayo yang merujuk pada kata "buaya".
Berdasarkan cerita rakyat setempat, ketika leluhur masyarakat Buol Tii Kakaino Bvualyo memperjuangkan daerah Buol dari orang-orang Mindanao, ia terjatuh ke laut dan diselamatkan oleh seekor buaya. Setelah sembuh, mereka kembali bertarung dan mempertahankan wilayah. Saat itu, buaya tersebut berpesan agar keturunannya diobati dengan mongunom manginano apabila setelah pengobatan medis tetap sulit sembuh.[3] Biasanya, keluarga, orang dekat maupun orang yang sakit memperoleh petunjuk mimpi untuk melakukan ritual pengobatan ini.[1]
Persiapan
Sebelum pelaksanaan mongunom manginano, dilakukan persiapan bahan dan perlengkapan. Bahan-bahan utama yang digunakan antara lain beras ketan, beras, telur ayam kampung atau telur maleo, kapur putih, buah pinang, daun woka, kelapa yang telah bertunas, kemenyan, tembakau linting, daun puring, ayam jantan dan ayam jantan putih yang akan diambil darah dari jenggernya serta kudapan tradisional seperti pisang goreng dan kue cucur. Adapun peralatan yang diperlukan dalam ritual ini meliputi payung berwarna hitam dengan penutup kain kuning, dan kain berwarna-warni (tujuh warna) .[1]
Beberapa bahan yang digunakan tidak melalui proses pemasakan, seperti beras yang diwarnai dengan tujuh warna berbeda (putih, biru, coklat, kuning, hijau, merah, dan hitam), serta pohon pisang dengan tujuh helai daun yang dihitung dari pelepah hingga ke pucuk. Pohon pisang ini ditanam sehari sebelum ritual, di depan rumah pasien yang akan menjalani pengobatan.[1]
Pelaksanaan
Ritual mongunom manginano dipimpin oleh pelaku pengobatan (dukun/Taa Mongunom) dan terdiri dari tiga tahapan. Pada tahap pertama, dukun memulai ritual dengan membakar dupa. Sesajen disusun membentuk simbol buaya dari nasi putih. Nasi ketan hitam, merah dan kuning ditaburkan untuk menggambarkan darah hitam, merah dan kulit buaya. Pisang goreng dan kue cucur menjadi lambang sisik buaya, dan ayam panggang diletakkan di bagian leher. Adapun, pada bagian kepala buaya ditaruh dua butir telur rebus sebagai simbol mata buaya.[1]
Pada tahap kedua, dukun menari mengelilingi sesajen sambil melemparkan beras tujuh warna ke orang yang sakit. Lalu, melemparkan beras tersebut ke pohon pisang khusus sebelum menebang pohon tersebut. Setelah dukun selesai dengan tarian ritual tak sadarkan diri, bagian tengah batang pisang kemudian disuapkan kepada pasien sebagai simbol jantung musuh (Mindanao) yang dimakan Tii Kakaino Bvualyo.[1]
Pada tahap ketiga, dukun meminta pasien memilih bagian tubuh sesajen buaya yang akan dimakan. Setelah itu, darah ayam ditaruh di dahi dan persedian pasien. Ritual dilanjutkan dengan memandikan pasien dengan air campuran daun puring, daun tawar, dan mayang pinang. Kemudian, dukun membelah mayang pinang di atas kepala pasien. Prosesi ditutup dengan membawa pasien sambil dipayungi mengelilingi hadirin.[1]
Selama berlangsungnya tahapan ritual mongunom manginano, dukun yang memimpin prosesi mengalami kondisi kerasukan roh buaya dan baru kembali sadar setelah seluruh rangkaian ritual selesai dilaksanakan.[3] Sepanjang prosesi, seluruh rangkaian ritual dilakukan menggunakan bahasa Buol dan diiringi dengan doa kepada Tuhan, tanpa menggunakan mantra-mantra tertentu.[1]
Mongunom manginano juga menjadi refleksi nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Buol, seperti penghormatan kepada leluhur, gotong royong, serta hubungan manusia dengan alam. Ritual ini juga menjadi wahana edukasi budaya, penguat identitas lokal, dan benteng nilai tradisional di tengah modernitas.[1]
Referensi
- ^ a b c d e f g h i Nugroho, Fajar (2024-06-12). "Relasi Islam dan Budaya Lokal: Studi tentang Ritual Pengobatan Mongunom Manginano pada Masyarakat Buol". NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam. 21 (1): 39–55. doi:10.19105/nuansa.v21i1.12134. ISSN 2442-8078.
- ^ "Mongunom Manginano". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-16.
- ^ a b Mariyano (2024-01-20). Sendo, Erlintara (ed.). "Mongunom Manginano Ritual adat Suku Buol". RRI. Diakses tanggal 2025-06-16.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


