Mondhosio Pancot

Mondhosio Pancot merupakan tradisi bersih desa yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Tradisi ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat setelah melewati berbagai cobaan atau masa sulit. Ciri khas dari tradisi ini adalah prosesi pelepasan ayam ke tengah kerumunan warga. Ayam-ayam tersebut kemudian diperebutkan oleh peserta sebagai simbol berkah dan rezeki. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritus spiritual, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan masyarakat setempat. Sejak tahun 2021, Pemerintah menetapkan Mondhosio Pancot sebagai Warisan Budaya Takbenda.[1]

Asal-usul

Menurut tradisi lisan masyarakat dan cerita pewayangan, tradisi Mondhosio Pancot berawal dari cerita yang berkaitan erat dengan legenda tokoh pewayangan bernama Putut Tetuko, seorang satria dari Pringgondani. Dikisahkan bahwa Putut Tetuko suatu ketika turun dari Pringgondani dan melewati rumah seorang janda yang dikenal sebagai Mbok Rondho Dhadapan. Ia mendengar bahwa sang janda kerap menangis setiap hari. Setelah menyelidiki penyebab kesedihan tersebut, Putut Tetuko mengetahui bahwa anak Mbok Rondho hendak dijadikan sebagai upeti berupa daging manusia oleh Prabu Boko. Sebagai bentuk kepahlawanan, Putut Tetuko menggantikan posisi anak Mbok Rondho dan kemudian menuju Bale Patokan, tempat berlangsungnya pertemuan penting.[2]

Di Bale Patokan, terjadi pertempuran antara Putut Tetuko dan Prabu Boko. Karena keduanya memiliki kesaktian luar biasa, Putut Tetuko tetap hidup meskipun dibelah dengan pedang atau bahkan ketika ditelan oleh Prabu Boko. Dikisahkan bahwa Putut Tetuko akhirnya dimuntahkan oleh Prabu Boko hingga tubuhnya terlempar ke wilayah Pantai Selatan. Beberapa waktu kemudian, Putut Tetuko kembali ke Bale Patokan sambil membawa Batu Gilang, dan pertempuran kembali berlanjut. Dalam pertempuran tersebut, Prabu Boko akhirnya dikalahkan; kepalanya dibanting ke Batu Gilang dan dipancat (ditindih menggunakan kaki). Konon, dari peristiwa inilah nama "Pancot" berasal, yaitu dari kata pancat (dalam bahasa Jawa berarti ‘diangkat lalu ditindih atau dipancat’).[2]

Pertempuran besar tersebut terjadi pada hari Selasa Kliwon dalam wuku Mondhosio, yang kemudian dianggap sebagai hari penting karena menandai berakhirnya kekuasaan Prabu Boko yang dikenal kejam dan lalim. Sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa tersebut, masyarakat Dusun Pancot hingga kini menyelenggarakan upacara syukuran setiap tujuh bulan sekali. Tradisi ini juga dipandang sebagai bentuk peringatan atas kelahiran Dusun Pancot dan sebagai rasa syukur atas berakhirnya era penindasan berupa permintaan upeti daging manusia oleh Prabu Boko.[1]

Pelaksanaan

Rangkaian kegiatan Mondhosio Pancot dimulai sejak pagi hari, diawali dengan prosesi penyembelihan kambing dan ayam yang dilaksanakan sekitar pukul 07.00 di punden Bale Patokan sebagai bagian dari ritual persembahan. Sekitar pukul 10.00, upacara dilanjutkan dengan penyusunan sesaji di area punden. Menjelang siang, tepatnya pukul 13.00, iringan gending tradisional Manyar Sewu mulai diperdengarkan sebagai pengiring suasana sakral. Puncak perayaan berlangsung pada pukul 16.00 dalam bentuk prosesi lempar-tangkap ayam. Sebelum dimulainya prosesi tersebut, diadakan pertunjukan kesenian tradisional seperti reog, yang disaksikan oleh ribuan warga yang memadati area Balai Pasar Dusun Pancot. Sebagai bagian dari rangkaian ritual, air yang diambil dari Bale Patokan terlebih dahulu digunakan untuk menyiram Batu Gilang, sebuah batu bersejarah yang terletak di pelataran pasar.[3]

Prosesi utama dimulai ketika warga yang memiliki nazar melemparkan ayam ke arah atap balai. Ribuan peserta kemudian berebut menangkap ayam-ayam tersebut. Bagi pihak yang melempar, tindakan ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur atas keselamatan atau cobaan yang telah dilalui. Sementara itu, bagi warga yang berusaha menangkap ayam, kegiatan tersebut dipercaya sebagai sarana untuk memperoleh keberuntungan dan berkah.[4]

Referensi

  1. ^ a b Martalia, Diana; Dadari, Febriana Widyastuti; Kurniawan, David (2023-12-12). "POTENSI UPACARA ADAT MONDHOSIYO SEBAGAI DAYA TARIK BUDAYA DI DUSUN PANCOT, KALISORO". Jurnal Pariwisata Tawangmangu. 1 (2): 16–27. doi:10.61696/juparita.v1i2.139. ISSN 3024-9430.
  2. ^ a b Murdyaningsih, Devi (2021-12-21). "TRADISI MANDHASIYA DESA PANCOT DAN POTENSINYA SEBAGAI DAYA TARIK WISATA KABUPATEN KARANGANYAR". El Tarikh : Journal of History, Culture and Islamic Civilization (dalam bahasa Inggris). 2 (2): 107–117. doi:10.24042/jhcc.v2i2.9870. ISSN 2774-8723.
  3. ^ Oktaviana, Indi; Sulaksono, Djoko; Veronika, Prima (2025-03-24). "ANALISIS MAKNA SIMBOLIK DALAM TRADISI PANCENAN DI DUKUH JATEN KABUPATEN SRAGEN". Sabdasastra : Jurnal Pendidikan Bahasa Jawa (dalam bahasa Inggris). 9 (1): 21–36. ISSN 2986-3074.
  4. ^ "Pesona Karanganyar | Jangan Lewatkan Event Terbaru di Karanganyar!". pesonakaranganyar.karanganyarkab.go.id. Diakses tanggal 2025-06-16.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement