Momago
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Juni 2025) |
Momago adalah ritual tradisional masyarakat Tau Ta’a Wana di Desa Uempanapa, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah untuk penyembuhan penyakit.[1] Tradisi momago telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK No. 315/M/2023.[2]
Tradisi momago terbentuk dari kepercayaan animisme pada masyarakat. Masyarakat suku Wana meyakini bahwa sumber penyakit tidak hanya berasal dati bakteri atau kuman, melainkan juga dari kekuatan supranatural dari alam. Pelaksanaan momago dipimpin oleh walia (dukun) sebagai perantara antara manusia dan roh-roh leluhur atau makhluk halus yang diyakini memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Selain itu, unsur lain seperti obat dan mantra juga diyakini memengaruhi proses pengobatan.[1]
Tujuan
Ritual Momago lawas dilaksanakan untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Namun, pada era modern ini, momago umumnya ditujukan untuk mengobati penyakit yang diyakini berasal dari gangguan supranatural. Jenis-jenis penyakit tersebut antara lain: fofongontau (guna-guna), pasuak (kerasukan), katrapes (keteguran), fando (gila), dan mlondong (tenggelam). Penyakit-penyakit ini sering kali tidak membaik meskipun telah diobati secara medis atau dengan ramuan tradisional biasa, sehingga momago dipilih sebagai alternatif pengobatan.[1]
Persiapan
Sebelum pelaksanaan ritual, disepakati terlebih dahulu tempat dan waktu antara keluarga orang sakti (to mangoyo) dan walia. Rumah yang luas biasanya dipilih agar cukup menampung seluruh peserta ritual. Persiapan yang dilakukan mencakup pengumpulan alat musik seperti kendang dan gong, bahan-bahan ritual seperti kemangi, sirih, pinang, kapur, dan baru fea (air tapai beras). Bahan-bahan ritual disimpan pada baki atau tapis beras disertai dengan kulit jagung sebagai pembungkus rokok, tembakau atau rokok, cangkir untuk minuman baru fea, buyandaya (kain tanda terima kasih), serta slimbu atau polonsu, kain kecil yang digunakan oleh walia untuk mengeluarkan penyakit pasien.[1]
Persiapan untuk ritual momago dimulai sejak siang hari oleh masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaannya. Sebagian masyarakat bertugas mencari daun, batang, akar, hingga ranting tumbuhan hutan yang akan digunakan dalam ritual. Selain itu, dikumpulkan pula bahan lain seperti berbagai jenis pisang, kelapa, daun dan bunga kelapa, serta pinang beserta daunnya dan bunganya.[1]
Tumbuhan yang akan digunakan untuk ritual hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu yang dianggap memiliki kemampuan dan pengetahuan adat. Agar tumbuhan tersebut dapat ditemukan diyakini perlu pembacaan mantra-mantra. Jenis tumbuhan maupun isi mantranya dirahasiakan dan hanya diketahui anggota momago. Sementara itu, para perempuan berperan dalam mempersiapkan pakaian, peralatan makan, dan keperluan lain yang dibutuhkan dalam pelaksanaan ritual malam harinya.[1]
Pelaksanaan
Ritual momago biasanya dilaksanakan pada malam hari dan dapat berlangsung semalam suntuk atau bahkan beberapa malam tergantung dari jenis penyakit dan jumlah pasien. Walia akan mengelilingi area ritual dan menempatkan sesajen di tiap sudut ruangan. Kamudian, hadirin pria akan meminum baru fea sebelum acara dimulai.[1]
Ritual dimulai dengan penabuhan ganda pamula (kendang pemula) oleh to poganda.[3] Setelah ganda pamula digantung pada tiang, kendang pengobatan mulai ditabuh. Seorang perempuan (tofe'a) akan memulai tarian (motaro) sebagai tanda dimulainya pengobatan. Setelah itu, walia mengambil kain polonsu untuk memeriksa kondisi pasien, serta beberapa helai kemangi (wunga) yang digosokkan ke tubuhnya sambil melantunkan doa atau mantra. Aroma kemangi dipercaya memudahkan kehadiran roh-roh yang dipanggil melalui nyanyian dalam bahasa khusus yang hanya dipahami oleh walia.[1] Walia akan melepaskan kesadaran manusianya (tau) untuk digantikan dengan roh (walia).[3]
Walia juga menggunakan damar yang dibakar dan dijilat untuk melihat kekebalannya. Selanjutnya, walia akan menari dalam kondisi tidak sadar sambil membawa kain polonsu dan kemangi. Irama gendang pengobatan yang mengiringi proses ini memiliki fungsi penting dalam memanggil roh-roh penyembuh. Proses pengobatan berlangsung selama diperlukan, tergantung kondisi pasien. Selama itu, kendang dan gong terus dimainkan. Warga yang hadir dapat turut memukul gong atau gendang secara bergantian.[1]
Pada beberapa kasus, apabila penyakit diyakini berasal dari guna-guna, benda asing seperti paku, kawat, atau jarum dipercaya bisa keluar dari tubuh pasien saat bagian yang sakit disentuh oleh walia. Selama pengobatan berlangsung, warga juga dapat berbincang, merokok, mengunyah sirih, atau menikmati baru fea dan makanan tradisional seperti pisang goreng atau doko-doko. Pada akhir ritual, kendang ditabuh sebanyak enam kali, sama seperti pembukaan.[1][3]
Nilai-nilai
Momago bukan hanya sebagai praktik penyembuhan, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial masyarakat Tau Ta’a Wana. Ritual ini menyatukan masyarakat dalam semangat masintuwu (gotong royong). Momago juga memiliki fungsi pertunjukan budaya yang ditampilkan dalam acara penyambutan, festival seni budaya, dan sebagainya.[1]
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j k Rismawati, Rismawati; Pageno, Isbon (2020-06-27). "Momago". Emik. 3 (1): 36–54. doi:10.46918/emik.v3i1.490. ISSN 2654-4261.
- ^ "Momago". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ a b c Scalici, Giorgio (2019-11-24). "Music and the invisible world: Music as a bridge between different realms". Approaches: An Interdisciplinary Journal of Music Therapy. 11 (1). doi:10.56883/aijmt.2019.237. ISSN 2459-3338.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


