Mohuntingo
Mohuntingo adalah ritual adat masyarakat Gorontalo yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran seorang anak, dengan melibatkan pemotongan rambut bayi. Tradisi mohuntingo telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK No. 362/M/2019.[1]
Ciri khas
Tradisi mohuntingo serupa dengan tradisi akikah. Meskipun demikian, mohuntingo dibedakan dengan penggunaan sastra lisan berbahasa daerah yang dikenal sebagai tinilo mohuntingo. Seni sastra ini berperan sebagai media ekspresi budaya daerah Gorontalo.[1]
Nilai-nilai
Mohuntingo adalah bagian dari rangkaian tradisi mongakiki atau akikah dalam masyarakat Gorontalo, yang merujuk pada praktik pemotongan rambut bayi sebagai bentuk syukur atas kelahiran anak. Tradisi ini dipraktikkan oleh umat Islam Gorontalo pada hari ketujuh setelah kelahiran, bersamaan dengan penyembelihan hewan, pemberian nama, serta pelaksanaan doa-doa. Sebagai bagian dari akulturasi antara ajaran Islam dan adat lokal, mohuntingo dijalankan dengan tata cara dan simbolisme khas Gorontalo.[2]
Ritual mohuntingo dikenal sebagai perayaan adat atas amanah kelahiran anak. Di dalamnya terkandung nilai-nilai keagamaan, kesehatan, dan warisan budaya. Dalam pandangan masyarakat Gorontalo, mohuntingo merupakan bagian dari pelaksanaan prinsip adat yang disebut adati hula-hula’a to sara’a, sara’a hula-hula’a to Kuru’ani, yang berarti bahwa adat bersendikan syariat, dan syariat bersendikan Al-Qur’an.[1][2]
Persiapan
Prosesi mohuntingo ini membutuhkan perlengkapan khusus, seperti kelapa muda yang belum berdaging, telah diukir dan dilubangi, bulowe (bunga pinang), sisir, cermin, gunting, serta kalung berbahan emas atau mutiara. Ritual doa (ngadi salawati)membutuhkan perlengkapan seperti polutube (tempat bara), air, dan tempat dupa. Upacara juga disertai dengan sesaji berupa toyopo (camilan ringan) seperti nasi kuning, ayam goreng, pisang matang, dan kue-kue lainnya.[2]
Selain itu, disediakan hulante, yaitu satu wadah berisi tiga liter beras yang di atasnya diletakkan tujuh butir telur, tujuh biji pala, tujuh cengkih, tujuh jeruk purut, dan tujuh keping uang logam senilai seratus rupiah. Apabila bayi yang dirayakan adalah laki-laki, jumlah masing-masing unsur tersebut dikurangi menjadi lima. Di atas beras juga dipasang lampu damar atau tohetutu.[2]
Prosesi ini juga menggunakan yilonta, yaitu minyak harum yang dibuat dari campuran daun-daunan, serta alawahu tihi (kikisan kunyit yang dicampur kapur) berwarna merah. Sebagai pelengkap, masyarakat juga perlu menyiapkan pale yilulo, yaitu beras yang terdiri dari lima warna: putih, hitam, merah, kuning, dan hijau.[2]
Pelaksanaan
Mohuntingo dilakukan saat anak berusia 7 hingga 40 hari. Dalam pelaksanaan ritual ini, jika bayi perempuan berusia enam bulan, prosesi mohuntingo dapat digabungkan dengan mandi lemon (mopolihu lo limu). Namun, jika bayi masih berusia tiga bulan, kedua prosesi tersebut harus dilaksanakan secara terpisah.[1]
Prosesi mohuntingo terdiri atas beberapa tahapan utama yang dijalankan dalam urutan tertentu. Tahap pertama adalah penyembelihan hewan (mongoloto akiki/mongakiki) yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan akikah dalam Islam. Hewan yang disembelih harus memenuhi beberapa syarat seperti tidak buta, tidak pincang, tidak sakit, tidak kurus, dan tidak cacat pada bagian tubuh seperti telinga atau ekor. Jenis kelamin hewan harus jantan.[1]
Setelah itu bayi terlebih dahulu dimandikan. Selama proses mandi, bayi akan diolesi alawahu tilihi pada bagian dahi, leher, sisi kanan dan kiri tubuh bagian atas, kedua telapak tangan, bawah lutut, dan telapak kaki. Setelah mandi, bayi dikenakan pakaian adat sesuai jenis kelaminnya. Bayi perempuan mengenakan bide o tambi’o dan baju galenggo yang dijahit sambung dengan bagian belakang terbuka. Sementara itu, bayi laki-laki memakai celana panjang tilambi’o dan bo’o. Perbedaan lainnya terlihat pada hiasan kepala: bayi perempuan menggunakan bo’ute yang diikatkan di dahi, sedangkan bayi laki-laki mengenakan payunga tilambi’o.[2]
Setelah itu, dilakukan pembacaan doa hingga pembacaan asyraka. Selama doa berlangsung, seluruh tamu berdiri, sementara pembawa baki bulowe hadir dan menyajikannya kepada tamu-tamu. Baki yang telah disiapkan sebelumnya kemudian diletakkan di hadapan imam. Bayi dipegang oleh ibunya, lalu dibawa berkeliling melewati imam dan para tamu yang berdiri, sambil memperlihatkan payung toyungo bilalanga (payung kebesaran).[2]
Setelah itu, imam mengoleskan minyak yilonta di ubun-ubun bayi, kemudian mulai memotong rambut bayi. Potongan rambut tersebut dimasukkan ke dalam lubang pada kelapa yang telah disiapkan. Pemotongan selanjutnya dilakukan pada sisi kanan dan kiri kepala, dan kedua potongan tersebut juga dimasukkan ke tempat yang sama.[2]
Sebagai penutup, sang ibu membawa bayi mengelilingi tamu. Para tamu kemudian menyentuh kepala bayi sebagai bentuk ungkapan doa dan harapan. Prosesi ini diiringi lantunan selawat bersama.[2]
Referensi
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


