Mohammad Taufiq Rahman
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |
Prof. Mohammad Taufiq Rahman, Ph.D merupakan profesor Sosiologi Islam dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, saat ini menjabat sebagai Ketua Prodi Studi Agama-Agama Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung sejak 2023.

Latar Belakang dan Pendidikan
Taufiq dilahirkan di Tasikmalaya, Jawa Barat pada 4 April 1973. Ia merupakan anak pertama dari lima bersaudara yang lahir dari pasangan Drs. H. Muzakir dan Hj. Dedeh Hamidah. Kini ia telah membina rumah tangga bersama dr. Fauziah Fatma dan telah dikaruniai dua buah hati, Fathan Tibyan Rahman, S.I.Kom, dan Fakhra Tabqiya Rahman.[1]
Masa kecilnya penuh dengan perjuangan, ia pernah berjualan kantong plastik merek Unyil di pasar. Meski sudah berjualan sejak kecil, Taufiq ketika itu memiliki semangat untuk terus menuntut ilmu. Di tengah kesibukan berjualan, ia tak lelah untuk terus menerus menuntut ilmu. Hingga pada akhirnya, Taufiq berhasil mengenyam pendidikan tinggi Strata 1 (S1) Jurusan Tafsir Hadits, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati Bandung pada tahun 1995. Setelah itu, ia kemudian melanjutkan pendidikan Strata 2 (S2) atau studi master di bidang Religious Studies di Leiden University, Belanda pada tahun 1999. Kemudian, pria asal Tasik ini melanjutkan pendidikannya untuk meraih gelar doktor Pemikiran Islam di University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2010.[2]
Di samping menimba ilmu melalui perkuliahan secara formal, Taufiq juga beberapa kali mengikuti pelatihan profesional. Di antaranya:[3]
- Kursus Bahasa Inggris, Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama RI, Jakarta pada tahun 1997.
- English Language Course I-II, Inter Consultancy Bureau, Leiden University, The Netherland dari tahun 1997 hingga 1998.
- English Academic Writing Course, Inter Consultancy Bureau, Leiden University, The Netherland pada tahun 1999.
- Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Golongan III Angkatan V, Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat di Cirebon pada tahun 1999.
- Workshop Penjaminan Mutu melalui Akreditasi Program Studi dan Akreditasi Institusi, UIN Sunan Gunung Djati di Bandung pada 7 Maret 2012.
- Pelatihan Asesor Beban Kerja Dosen di UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 2 April 2012.
- Pendampingan Akreditasi Program Studi di Lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 3 Mei 2012.
- Workshop Pengurusan Jurnal, Relawan Jurnal Indonesia di Bandung pada 25 Agustus 2018.
- Kuliah Strategi Menulis dan Publikasi Jurnal Internasional Scopus dalam Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 2 Maret 2022.
Perjuangannya dari sejak kecil hingga mampu meraih gelar doktor, membawa Taufiq pada puncak momen terindah dalam hidupnya di hari Kamis, 7 September 2023. Tepat di tanggal tersebut, ia bisa mengukir tinta emas dalam karier akademiknya, Taufiq berhasil meraih gelar Guru Besar Bidang Sosiologi Islam. Gelar guru besar yang didapatkannya ini menjadi simbol insan akademik yang memadukan kapasitas dan integritas di dalamnya. Bahkan prosesnya untuk meraih guru besar ini berlangsung begitu cepat, ia hanya membutuhkan waktu enam bulan. Namun hal ini tetaplah tidak instan, lantaran ia sudah mempersiapkan diri dengan maksimal terutama persyaratan administrasinya.[4]
Raihan Guru Besar Sosiologi Islam ini akhirnya menemukan puncaknya pada Rabu, 23 April 2025. Pada tanggal tersebut, Taufiq bersama dengan guru besar lainnya dikukuhkan di Sidang Senat Terbuka bertajuk "Membumikan Kepakaran, Menguatkan Kebermanfaatan, Mengunggulkan Kontribusi Nyata bagi Peradaban." Prosesi pengukuhan tersebut berlangsung di Gedung Anwar Musaddad yang berada di Kampus 1 UIN Sunan Gunung Djati Bandung.[5]
Karier
Awal karier Taufiq dimulai sebagai seorang guru di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Persatuan Islam Linggar, Rancaekek, Bandung selama tiga tahun dari 1992 hingga 1995. Di sela-sela menjadi guru, pada tahun 1994 ia juga pernah menjadi seorang jurnalis pada majalah Islam bulanan bernama Risalah di tahun 1994 hingga 2003. Barulah pada tahun 1997, Taufiq memulai kariernya sebagai seorang dosen di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati. Menjadi dosen di Fakultas Ushuluddin ini berlangsung selama 15 tahun dari 1997 hingga 2012. Namun usai dari sana, ia pun 'hijrah' menjadi dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Sunan Gunung Djati Bandung hingga sekarang. Di waktu yang bersamaan, Taufiq juga menjadi dosen di Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.[1]
Di samping pekerjaannya sebagai pengajar, pria dua anak ini juga menjadi peneliti, penguji, trainer, reviewer, hingga editor. Tercatat ia pernah menjadi trainer In Service Training untuk guru-guru MI/MTs di Banten pada tahun 2000 hingga 2001. Lalu, sampai saat ini Taufiq menjalankan beberapa pekerjaan, di antaranya:[2]
- Peneliti Institute for Religious and Institusional Studies (IRIS) Bandung sejak 1999 hingga sekarang.
- Penguji untuk disertasi tentang topik agama/Islam di Fakultas Psikologi, Universitas Padjadjaran sejak 2011 hingga sekarang.
- Peneliti di Yayasan Ibnu Sina Bandung dari tahun 2011 hingga sekarang.
- Editor in Chief di Socio-Politica: Jurnal Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari 2012-2018.
- Editor in Chief di Temali: Jurnal Pembangunan Sosial, Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari 2018 hingga sekarang.
- Editor di Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama, Prodi S2 Studi Agama-Agama, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari 2020 hingga sekarang.
- Editor di Jurnal Iman dan Spiritualitas, Prodi S2 Studi Agama-Agama, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari 2021 hingga sekarang.
- Editor di Jurnal Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya, UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari 2021 hingga sekarang.
- Reviewer di Jurnal Khazanah Sosial, UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari tahun 2021 hingga sekarang.
- Reviewer di Jurnal HTS Teologiese Studies, Afrika Selatan dari tahun 2021 hingga sekarang.
- Reviewer di Jurnal Cogent Social Sciences, Taylor & Francis, Inggris dari tahun 2022 hingga sekarang.
Riwayat Jabatan
Ada sejumlah jabatan yang pernah diduduki Taufiq selama meniti karier di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pertama kali, jabatan yang pernah diduduki yakni sebagai Kepala Perpustakaan Laboratorium Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung selama satu tahun saja dari 1999 hingga 2000. Selepas itu, Taufiq beberapa kali menduduki jabatan sebagai ketua jurusan dan sekretaris jurusan di beberapa prodi. Di antaranya:[3]
- Sekretaris Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dari 2000 hingga 2001.
- Sekretaris Jurusan Sosiologi, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari 2011 hingga 2012.
- Sekretaris Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari 2012 hingga 2014.
- Ketua Senat Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, UIN Sunan Gunung Djati Bandung tahun 2015.
- Ketua Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, UIN Sunan Gunung Djati Bandung tahun 2015 hingga 2019.
- Sekretaris Program Studi Magister (S2) Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari 2020 hingga 2022.
- Ketua Program Studi Magister (S2) Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari 2023 hingga sekarang.
Penghargaan
- Peringkat 3 pada 10 Peneliti Terbaik UIN Sunan Gunung Djati Bandung versi SINTA Score (3yr) tahun 2023[6]
Organisasi
Taufiq terdaftar sebagai anggota dari organisasi masyarakat (Ormas) Islam Muhammadiyah. Pada organisasi tersebut, ia ditetapkan sebagai anggota dari koordinatoriat pembinaan akademik perguruan tinggi Muhammadiyah di Jawa Barat.[7]
Koordinatoriat pembinaan akademik perguruan tinggi Muhammadiyah di Jawa Barat ini memiliki susunan dan personalia, sebagai berikut:
Ketua: Prof. Dr. Yadi Janwari, M.A.
Sekretaris: Dr. A Qanit Ad, M.A.
Anggota: Prof. Dr. M. Anton Athoillah, M.M.; Prof Poppy Rufaidah, S.E., MBA, Ph.D.; Prof. Dr. Mahsyur Irsyam, M.S.E.; Prof. Dr. Asep Saeful Muhtadi, M.A.; Prof. Dr. Hamzah Ritchi, C.A.; Prof. Dr. Uus Ruswandi, M.Pd.; Dr. Yudi Nurul Ihsan, S.Pi., M.Si.; dan Prof. Mohammad Taufiq Rahman, M.A., Ph.D.[7]
Karya Tulis[8]
- Pengantar Metode Penelitian; terbit tahun 2012
- Filsafat Ilmu Pengetahuan; terbit tahun 2020
- Glosari Teori Sosial; terbit tahun 2011
- Sosiologi Agama: terbit tahun 2020
- Sosiologi Islam; terbit tahun 2021
- Pengantar Filsafat Sosial; terbit tahun 2018
- Metodologi Penelitian Agama, terbit tahun 2025
Pemikiran[9]
M. Taufiq Rahman merupakan akademisi yang turut meramaikan khazanah pemikiran di Indonesia. Sebagai seorang pengajar di salah satu campus ternama di tanah air (UIN sunan Gunung Djati bandung), beliau sempat menimba ilmu di Negeri Kincir Angin dan negeri Jiran. Taufiq tentu tak pulang dengan tangan hampa tatkala mudik ke tanah air. tetapi, membawa segudang pengetahuan dana pengalaman, yang dituangkan dalam bentuk buku, jurnal dan beragama karya akademik lain. meski demikian, sebetulnya jika ditelaah dengan saksama meskipun beliau banyak menulis baik dalam artikel jurnal atau pun buku, pemikirannya cukup kental dengan nuasa sosiologis.[9]
Sebetulnya bukan hal yang mengagetkan, sebab pada saat menimba ilmu di negeri Kincir Angin, beliau kerap kali banyak becengkrama dengan para aktivis sosial dan gerakan kiri, selain tentunya latar belakang secara formal sebagai mahasoswa master pada program studi Religious Studies di Leiden University.[1] sepulang ke Indonesia, Taufiq kemudian memutuskan untuk mengabdi di alamamater tercinta (UIN Sunan Gunung Djati Bandung) mengampu mata kuliah filsafat sosial pada jurusan Filsafat di fakuktas Ushuludin. Uniknya Salah satu mahasiswa yang sempat diberi secercah pengetahuan sebagai oleh-oleh dari negeri Kincir Angin tersebut bernama Neng Hannah, kini menjadi skretarisnya di Program Studi Studi Agama-agama (Religious Studies).[10]
Dari Ushuludin kemudian Taufiq hijrah ke Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu politik (FISIP). Sempat menjabat sebagai ketua jurusan Sosiologi, sebelum pada akhirnya bermigrasi ke Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kemudian menjadi ketua prodi Studi Agama-agana. Salah satu bukunya yang berjudul Sosiologi Islam turut mengantarkannya menjadi Guru Besar Sosiologi Islam. Meskipun sempat bertualang ke Negeri sekuler Belanda, tetapi Taufiq tak pernah benar-benar melupakan latar pendidikan dasarnya sebagai pondasi awal di sekolah islam Persis, dan S1 di jurusan Tafsir Hadist. Hal ini mewarnai corak pemikiran di kemudian hari terkait masyarakat.[9]
Menurut Taufiq, Islam sebagai Agama monoteistik telah membahas masyarakat jauh-jauh hari. Dalam konte ini bagi Taufiq masyarakat terhubung dengan kisah-kisah sebelumnya sebagaimana tertuang pada ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Sebut saja kisah 155 para nabi yakni Nuh as, Hud as, Syuaib as, Luth as, Musa as, dan Isa as. Al-Qur'an sendiri mendorong umat Islam untuk menggunakan pengetahuan, mengamati dan menganalisis secara kritis standar-standar sejarah. Jadi bagi Taufiq sumber utama sebagai acuan dari sosilogi islam adalah Al-Quran itu sendiri, sebagaimana di dalamnya telah tergambar potret masyarakat yang dilukiskan melaului kisah petualangan para Nabi dengan misinya. Selain itu, Taufiq juga menyampaikan bahwa Sosiologi Islam berasal dari standar sejarah dalam Al-Qur'an, berbeda dengan sosiologi Barat, yang bersumber dari filsafat sejarah dan teori sosial. Mengutip Comte yang membedakan antara ilmu-ilmu sosial dalam Sosiologi.[9]
Perlu dicatat bahwa penggunaan terminologi Islam dan barat dalam konteks ini bukan merujuk pada penamaan secara geografis, sebab jika iya, maka seharusnya bukan Islam-Barat namun Islan-Non-Islam, atau Barat-Timur. Namun penggunaan term ini merujuk pada corak atau tradisi pemikiran, karena bagaimanapun tradisi pemikiran Islam akan selalu mengacu pada sumber utama yaitu Al-Quran dan Hadist, dengan kata lain polanya adalah 'deduktif.' Artinya dalam tradisi pemikiran Islam harus sudah meyakini terlebih dahulu kebenaran tertinggi sebagai pusat dari seglanya, baru kemudian menjelaskannya secara rinci dengan berbagai pendekatan. Sementara dalam tradisi pemikiran Barat sebut saja pola yang digunakan adalah 'Induksi' jadi tidak berangkat dari keyakinan tentang sebuah entitas mefisis sebagai terminal pertama, melainkan dari situasi objektif masyarakatnya.[11] Makanya Comte mencetuskan teori perembangan suatu Masyarakat melalui tiga tahap.
Pertama, tahap Teologis, di mana msyarakat dalam tahap ini memahami fenomena alam dengan keyakinan adanya kekuatan supranatural yang menggerakannya konon dikenal dengan sebutan Dewa atau Tuhan.[12] tahap ini sebetulnya juga mirip dengan kesadaran manusia versi Paulo Freire seorang filsuf Pendidikan Brazil yang terkenal dengan Bukunya Pendidikan Kaum Tertindas,[13] dalam pemikiran Freire, kondisi ini dikenal dengan kesadaran magis manusia. Dalam kesadaran magis, manusia memahami fenomana atau kondisi objektif yang dialaminya secara teologis, sudah kehendak tuhan dan manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Kedua, tahap metafisik, dalam konteks ini manusia mulai melakukan abstraksi untuk menjelaskan dan memahami fenomena alam yang dihadapi oleh masyarakatnya. Tahap ini merupakan transisi menuju tahap ketiga yaitu Positivistisme. Ketiga, Positivisme yang tidak lain adalah tahap di mana manusia mulai memahami situasi objektif, alam dan masyarakt dengan melakukan penelitian menggunaan prosesdur ketat. Segalanya harus terukur dan dapat diverifikasi secara ilmiah, observasi penelitian ilmiah dan semacamnya adalam khas dari tahap ini.[12]
Lantas pertanyaanya di mana posisi teoretis Taufiq dalam konteks sosiologi? Integratif. ya, Taufiq mengintegrasikan tradisi pemikiran Islam dengan Barat, maksdunya apa? Taufiq tetap memposisikan Al-quran dan Hadist sebagai sumber acuan untuk memahami dunia, tetapi tidak lantas begitu saja meyakininya sebagai kebenaran yang lolos dari kritik, dalam arti bahwa Al-quran an sich itu sebagai sumber utama, tetapi tafsir terhadapnya tidak luput dari situasi objektif yang dihadapi para penafsir, maka kondisi ini harus menjadi perhatian. Dalam konteks ini pengalamannya sebagai mahasiwa Tafsir Hadist digunakan dalam menyusun Puzzle pemikirannya. Taufiq memahami bahwa kisah-kisah masyarakat yang tertuang dalam Al-quran dengan para Nabi utusan Tuhan sebagai aktor utamanya, juga harus dipahami dengan kritis, dan kontekstual, termasuk penentuan hukum bagi masyarakat yang tertuang di dalamnya juga harus dipahami secara kontekstual dan disesuaikan dengan situasi kesekarangan, dengan kata lain kemutlakan kebenaran Al-quran tidak lantas otomatis menjadikan tafsir terhadapnya juga mutlak. Langkah Taufiq sebetulnya merespon pemikiran yang berkembang secara dikotomis dalam khazanah pemikiran Islam-Barat.[9]
Bagaimana kemudian Taufik memahami kondisi ini dalam konteks global, bukunya Sosiologi Islam, menutip Tragedi masa silam pada 11 September 2001 yang tidak lain merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah hubungan Islam-Barat. Menurut Taufiq kaum neo-konservatif Amerika Serikat yang mendukung pemerintahan Bush Jr, peristiwa itu seolah membuktikan keyakinan mereka bahwa Islam tidak sesuai dengan cita-cita Barat. bagi mereka Islam tumbuh menonjol dalam politik dunia di tahun-tahun setelah peristiwa itu. Sementara itu, demokrasi telah menjadi istilah politik di negara-negara Muslim, bahkan sekelas rezim yang paling represif sekalipun mendaku diri sebagai demokratis. Dalam Konteks Indonesia di penhujung 1990-an, pemerintahan Orde Baru (Suharto) tumbang yang kemudian memungkinkan Indonesia muncul sebagai negara demokrasi Muslim terbesar di dunia.[9]
Bukan cuma itu, gejolak perubahan paling mencengangkan, dan masih berlanjut, di negara-negara Arab, dengan korban tewas mencapai ratusan. Menyusul pembunuhan Hosni Mubarak selaku Presiden Mesir, seruan untuk reformasi politik menyapu hampir setiap rezim yang memerintah di Timur Tengah. Kondisi ini bahkan menuntut negara-negara paling konservatif sekalipun, seperti Arab Saudi, berusaha untuk mengakomodasi permintaan semacam itu. Poinnya adalah, dunia Islam modern adalah bagian dari dunia yang terus berubah yang mencakup bukan sekadar masalah materi tetapi juga ide.[9]
Dalam perenungannya terkait Peran Sosiologi Islam, Taufiq berpendapat bahwa Sosiologi Islam memiliki peran yang semakin relevan dan penting dalam membantu masyarakat Muslim terkhusus Indonesia untuk beradaptasi dengan tantangan dan peluang globalisasi. Taufiq menawarkan gagasan Sosiologi Islam sebagai alat untuk menjelaskan, memahami, dan merespons perkembangan sosial terus berubah dari sudut pandang Islam. Bagi Taufiq, sebagai produk pemikiran dan disiplin ilmu, Sosiologi Islam harus terus berkembang dan berinovasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan baru dengan perkembangan masyarakat, terutama masyarakat Muslim. Lebih jauh Taufik berpendapat bahwa, sebagai nilai lama yang telah hadir dan mengakar sejak ratusan tahun lalu, Islam harus tampil dengan percaya diri guna menjadi oase kemanusiaan di tengah-tengah globalisasi dan teknologi yang semakin masif. Langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan filterasi globalisasi dengan nilai-nilai Islam. Sebut saja dengan program pertukaran budaya, untuk meperluas jaringan budaya islam sebagai identitas global dan memiliki nilai-nilai kearifan loal di dalamnya, entah melalui pertukaran pelajar, atau kolaborasi internasional.[9]
Referensi
- ^ a b c Hargib, Hargib (2025-04-29). "Globalisasi dan Tantangan bagi Umat Islam di Indonesia". Bedanews. Diakses tanggal 2025-05-31.
- ^ a b Hargib (2023-10-20). "Sosok Inspiratif: M.Taufik R, Berawal Jualan di Pasar,Berakhir Meraih Guru Besar". Bedanews. Diakses tanggal 2025-05-31.
- ^ a b "Kisah Inspiratif, M.Taufik M, Keteguhan Hati Berbuah Guru Besar". Ekpos.com. 2023-10-20. Diakses tanggal 2025-05-31.
- ^ Prastiwi, Mahar (2023-10-22). "Cerita Taufiq Pernah Jualan di Pasar, Kini Jadi Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati". Kompas.
- ^ "Pengukuhan 20 Guru Besar, Kontribusi Nyata UIN Bandung untuk Peradaban". https://pendis.kemenag.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-31.
- ^ "Berkah Menulis! 10 Dosen Terproduktif versi SINTA 2023. Semakin Bangga Ngampus di UIN Bandung". https://pendis.kemenag.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-31.
- ^ a b SK Koordinatoriat PTM Jabar
- ^ "Mohammad Taufiq Rahman". scholar.google.co.id. Diakses tanggal 2025-05-31.
- ^ a b c d e f g h Rahman, M Taufiq (2021). Sosiologi Islam. Bandung: Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Bandung. ISBN 978-623-95343-8-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Anonim, anonim (20-04-2023). "Ketua dan Sekretaris Program Studi Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung". Pascasarjana UIN Bdg. ; ;
- ^ Pemikiran Islam. Erlangga. 2002. ISBN 978-979-741-541-9.
- ^ a b Mill, John Stuart (1968-01-01). Auguste Comte and Positivism (dalam bahasa Inggris). Library of Alexandria. ISBN 978-1-4655-3514-6.
- ^ Freire, Paulo (2000). Pendidikan kaum tertindas. LP3ES.
[[Kategori: Biografi]]
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


