Melengkan
Melengkan adalah tradisi lisan dalam bentuk pidato adat yang merupakan bagian penting dari upacara pernikahan adat suku Gayo di Aceh Tengah, Provinsi Aceh.[1] Melengkan telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK No. 414/P/2022.[2]
Makna
Secara etimologi istilah melengkan berasal dari dua kata, yakni "meleng" yang berarti "menyuarakan", serta "dan" yang berfungsi untuk "memperindah rangkaian kata". Secara istilah, melengkan adalah pidato adat berisi kata-kata puitis yang dilantunkan oleh satu atau dua orang yang berhadapan.[3]
Struktur
Secara struktural, tradisi melengkan terdiri atas tiga bagian, yaitu pembukaan, isi, dan penutup. Pada bagian pembukaan, dilakukan penyampaian doa syukur kepada Tuhan, dilanjutkan dengan selawat, serta penghormatan kepada tuan rumah, tamu, dan para tetua adat (Serak Opat).[3] Serak Opat terdiri dari reje (pemimpin adat), petue (tokoh agama), imem (pemimpin masyarakat), dan rakyat (masyarakat umum).[1]
Pada bagian isi disampaikan pesan-pesan yang mencerminkan nilai-nilai adat, nilai-nilai agama, harapan, amanat, serta ajakan untuk bermusyawarah dalam pengambilan keputusan. Adapun pada bagian penutup melengkan, biasanya tuan rumah akan menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang hadir dan permintaan doa agar acara memperoleh keberkahan.[3]
Pelaksanaan
Pelaksanaan prosesi melengkan dalam upacara pernikahan adat suku Gayo diawali dengan persiapan simbolis berupa penyediaan alat dan bahan, seperti batil yakni sebuah wadah sirih berisi beloe (daun sirih), pinang, kacu (gambir), dan bako (tembakau) serta dalung (wadah kuningan berisi tujuh jenis hidangan lauk-pauk). Dalung akan disajikan pada tiga orang bapak dan empat orang ibu sebagai tanda hormat yang melambangkan tujuh anak raja. Sementara itu, batil akan diserahkan oleh tokoh adat (serak opat) menggunakan bahasa adat khusus yang disebut bahasa melengkan kepada pihak wali pengantin wanita. Setelah itu, prosesi penesah (penjejak) dimulai sebagai simbol berpindahnya pengantin wanita ke kediaman baru. Pada upacara pernikahan Gayo wakil dari pihak keluarga pengantin pria (aman mayak) serta wakil dari pihak pengantin wanita (inen mayak) juga akan saling berhadapan untuk menyampaikan pidato adat dalam prosesi melengkan.[1]
Penggunaan
Seni lisan melengkan ditampilkan dalam berbagai upacara adat, seperti prosesi akad nikah, pelantikan pemimpin (munaiken reje), penyambutan tamu kehormatan yang pertama kali berkunjung ke Gayo, serta dalam upacara adat lainnya. Fungsi utama melengkan adalah untuk menyampaikan permintaan, nasihat, atau pesan penyambutan dari seseorang kepada pihak lain.[3] Pada upacara adat pernikahan Gayo melengkan berfungsi sebagai media diplomasi antar keluarga dan warga desa. Tradisi ini menyatukan unsur agama, budaya, dan sosial.[1]
Referensi
- ^ a b c d Razali, Razali; Sundana, Lina; Ramli, Ramli (2024-02-01). "Eksplorasi tradisi melengkan dalam pernikahan adat Gayo di Aceh Tengah". Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya. 7 (Sp.Iss): 67–74. doi:10.30872/diglosia.v7isp.iss.947. ISSN 2615-8655.
- ^ "Melengkan". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ a b c d Zain, Arifin; Fauzi, Fauzi; Muttaqin, Reza; Maturidi, Maturidi (2021-12-30). "Pesan-Pesan Dakwah dalam Adat Melengkan pada Upacara Pernikahan Suku Gayo Kabupaten Aceh Tengah". Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah. 20 (2): 1. doi:10.18592/alhadharah.v20i2.5082. ISSN 2579-986X.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


