Masjid Sulthoni Wotgaleh

Masjid Sulthoni Wotgaleh
ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦱꦸꦭ꧀ꦡꦤꦶꦮꦺꦴꦠ꧀ꦒꦭꦺꦃ
Tampak perspektif Masjid Sulthoni Wotgaleh
PetaKoordinat: 7°48′12.2756″S 110°25′39.5033″E / 7.803409889°S 110.427639806°E / -7.803409889; 110.427639806
Agama
AfiliasiIslam
ProvinsiDaerah Istimewa Yogyakarta
KepemilikanKesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
Lokasi
LokasiSendangtirto, Berbah, Sleman
NegaraIndonesia
Koordinat7°48′12.2756″S 110°25′39.5033″E / 7.803409889°S 110.427639806°E / -7.803409889; 110.427639806
Arsitektur
TipeMasjid
GayaTradisional Jawa
Rampung1600
Spesifikasi
Arah fasadKiblat
Kubah1 (mustaka)
Nama resmi: Masjid Sulthoni Wotgaleh
JenisBangunan
Ditetapkan2 September 2010
Nomor referensiCB.6060.19700101.00853
Nomor SK14.7/Kep.KDH/A/2017
Tanggal SK6 Februari 2017

Masjid Sulthoni Wotgaleh (bahasa Jawa: ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦱꦸꦭ꧀ꦡꦤꦶꦮꦺꦴꦠ꧀ꦒꦭꦺꦃ) adalah masjid yang terletak di Sendangtirto, Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berstatus sebagai masjid milik Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Kagungan Dalem), masjid ini berbatasan dengan Pangkalan TNI Angkatan Udara Adisutjipto. Masjid ini tidak hanya menjadi pusat aktivitas keagamaan, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan arsitektur yang mencerminkan masa kejayaan Mataram Islam.[1] Masjid ini ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Bupati Sleman melalui Surat Keputusan Nomor 14.7/Kep.KDH/A/2017 tertanggal 6 Februari 2017.[2]

Sejarah

Masjid Sulthoni Wotgaleh didirikan pada masa Kerajaan Mataram Islam sekitar tahun 1600 M. Masjid ini dikenal sebagai salah satu dari masjid Pathok Negoro, yakni masjid yang berada di batas wilayah kerajaan dan berfungsi ganda sebagai simbol religius sekaligus pos pertahanan luar kerajaan. Di area belakang masjid terdapat kompleks makam “Hastono Wotgaleh” yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Panembahan Purbaya I yang merupakan putra dari Panembahan Senopati, sosok pejuang tangguh dari Mataram yang dikenal sebagai Banteng Mataram karena keberaniannya dalam berperang, termasuk saat menyerbu Batavia. .[1] Pangeran Purbaya gugur dalam pertempuran mempertahankan Keraton Plered dari serangan Karaeng Galesong dan Trunojoyo pada tahun 1677. Hari lahir dan wafatnya sering diperingati oleh para peziarah yang datang dari berbagai daerah.[3] Makam tersebut juga menjadi peristirahatan Panembahan Purbaya II dan III. Secara etimologis, nama Wotgaleh berasal dari kata wot (jembatan atau lintasan) dan galeh/galih (hati), yang secara simbolis dimaknai sebagai tempat penguatan hati dalam mencapai kesabaran lahir dan batin.[2]

Deskripsi bangunan

Atap dan 4 saka guru.

Secara arsitektural, Masjid Sulthoni Wotgaleh merepresentasikan gaya masjid tradisional Jawa. Bangunannya menggunakan atap berbentuk Tajug, dengan tipologi Tajug Lawakan Lambang Teplok, yakni atap tajug utama di bagian tengah dikelilingi atap pananggap di keempat sisinya. Di bagian atas atap pananggap terdapat unsur blandar lumajang yang terhubung ke sunduk-kili pamidhangan atau saka guru.

Ruang utama masjid dilengkapi dua ruang tambahan di sisi kiri dan kanan, masing-masing berfungsi sebagai pawestren (area salat perempuan) dan ruang pengurus masjid (takmir). Serambi masjid berbentuk Limasan, ditopang oleh delapan tiang utama, dengan atap emper di bagian luar. Serambi ini masih menyimpan beduk lama, yang dahulu digunakan untuk menandai waktu salat sebelum penggunaan pengeras suara.[2]

Seiring berjalannya waktu, Masjid Sulthoni Wotgaleh mengalami sejumlah perubahan fisik yang cukup signifikan. Seluruh lantai masjid telah diganti menggunakan keramik putih. Dinding bagian dalam, termasuk area mihrab, juga dilapisi keramik setinggi satu meter. Meskipun demikian, empat saka guru beserta umpaknya masih dipertahankan dalam kondisi asli. Struktur tumpangsari telah mendapatkan tambahan elemen kayu baru yang dipernis mengkilap.[butuh rujukan]

Meskipun mengalami renovasi, sejumlah elemen asli masjid tetap dipertahankan. Komponen pintu dan jendela masih menggunakan material lama. Atap masjid ditopang oleh usuk dengan pola ri gereh, yaitu model sejajar tanpa pusat. Namun demikian, sebagian elemen usuk telah diganti dengan kayu baru karena kondisi sebelumnya yang sudah tidak layak.[1]

Kesakralan

Kompleks pemakaman Wotgalih tidak hanya menyimpan makam keluarga Pangeran Purbaya, tetapi juga makam keluarga Sultan Hamengkubuwono II dan IV, menambah aura kesakralan kawasan ini. Di tengah masyarakat, berkembang mitos bahwa wilayah ini memiliki kekuatan gaib yang bisa menyebabkan pesawat atau burung jatuh jika melintasi area di atasnya. Beberapa insiden jatuhnya pesawat yang terjadi di sekitar kawasan ini turut memperkuat kepercayaan tersebut. Oleh karena itu, pengunjung yang memasuki kawasan makam dan masjid ini diwajibkan menjaga etika dan perilaku demi menghormati nilai-nilai spiritual yang melekat kuat di tempat tersebut.[3]

Referensi

  1. ^ a b c "JOGJACAGAR | Sistem Informasi Cagar Budaya". jogjacagar.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-06-15.
  2. ^ a b c "MASJID SULTHONI WOTGALEH". Dinas Kebudayaan Sleman. 2022-02-07. Diakses tanggal 2025-06-15.
  3. ^ a b "Masjid Sulthoni Wotgaleh: Sejarah, Mitos, dan Sosok Pangeran Purbaya". Kompas. 2022-03-25. Diakses tanggal 2025-06-15.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement