Marapulai Basuntiang


Marapulai Basuntiang merupakan salah satu tradisi pernikahan unik dari masyarakat Inderapura, yang terletak di Kecamatan Air Pura, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Tradisi ini menjadi ciri khas suku Melayu Kicik di Kampung Kota Pandan, Nagari Inderapura Timur, dan dikenal karena mempelai pria atau marapulai mengenakan suntiang, hiasan kepala tradisional yang umumnya hanya dipakai oleh mempelai wanita (anak daro) dalam adat pernikahan Minangkabau.[1]

Asal-usul Tradisi

Tradisi ini dipercaya berasal dari peristiwa sejarah pada masa konflik perebutan wilayah Kerajaan Indojati. Dalam upaya diplomasi kultural, masyarakat Inderapura menyambut pasukan lawan dengan tari-tarian serta menampilkan anak daro berhias lengkap, termasuk suntiang. Karena ketertarikan pihak lawan terhadap salah satu anak daro, masyarakat kemudian memakaikan suntiang kepada perwakilan pihak lawan sebagai simbol penerimaan dan penyamaan kedudukan.[2]

Makna Filosofis

Marapulai Basuntiang melambangkan sebuah perubahan sosial bagi kedua mempelai. Memakai suntiang oleh mempelai pria menjadi penanda jika ia sudah diterima oleh pihak keluarga besar pengantin wanita sebagai menantu sekaligus mengubah statusnya menjadi Urang Sumando. Menurut warga setempat, terdapat empat makna utama dalam pemakaian suntiang oleh marapulai dalam tradisi pernikahan di Inderapura:

  1. (Turun Satingkek Tanggo) Menandakan bahwa seorang pria yang telah menikah menjadi sumando (menantu) dan memiliki kedudukan yang sejajar dengan pihak perempuan.
  2. (Raja Sehari) Kedua mempelai dianggap sebagai raja dan ratu sehari dalam prosesi adat yang mengarak mereka keliling kampung.
  3. (Tanda Status Sosial) Sebagai penanda kepada masyarakat bahwa seorang pria telah resmi menjadi bagian dari keluarga istrinya.
  4. (Penyamaan Derajat) Mewakili kesetaraan antara pria dan wanita dalam pernikahan serta hubungan keluarga.

Ciri Khas Suntiang Marapulai

Suntiang yang dikenakan oleh marapulai memiliki desain yang berbeda dibandingkan dengan milik anak daro. Motif hiasan pada suntiang pria umumnya lebih besar, tetapi bentuknya lebih kecil dan rendah. Suntiang ini memiliki bentuk lonjong yang lebih rendah dan lebar yang lebih sempit dibandingkan suntiang perempuan, menyesuaikan dengan simbolisasi maskulinitas dan penyederhanaan estetika pria.

Prosesi Pernikahan

Dalam prosesi pernikahan adat Inderapura, marapulai akan terlebih dahulu dibawa ke rumah bako (kerabat perempuan dari pihak ayah) untuk didandani dan mengenakan pakaian pengantin. Setelah itu, kedua mempelai akan diarak mengelilingi kampung sebagai bentuk pemberitahuan kepada masyarakat bahwa mereka telah sah menjadi suami istri. Arak-arakan ini diiringi dengan badiki (berzikir) dan alat musik tradisional rabana, yang merupakan warisan budaya sejak masuknya Islam ke wilayah Inderapura.

Pelestarian Tradisi

Tradisi marapulai basuntiang masih terus dilestarikan oleh masyarakat Inderapura dan menjadi bagian penting dari identitas budaya lokal. Selain sebagai warisan leluhur, tradisi ini juga mulai menarik perhatian wisatawan dan sering ditampilkan dalam kegiatan pariwisata budaya di Kabupaten Pesisir Selatan.

Referensi

  1. ^ Nabil, Muhammad Hamdan (2025-01-14). "Marapulai Basuntiang, Tradisi Pernikahan Unik dari Tanah Pesisir Selatan". Sumbarkita.id. Diakses tanggal 2025-06-20.
  2. ^ Redaksi (2021-03-12). "Tradisi Unik "Marapulai Basuntiang" dalam Adat Pernikahan Inderapura Pesisir Selatan". Langgam.id. Diakses tanggal 2025-06-20.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement