Mappalili Sigeri
Mappalili Sigeri merupakan ritual tradisional masyarakat Kecamatan Segeri, Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan sebelum memulai tanam padi dengan mengarak arajang berkeliling kampung sebagai bentuk permohonan keselamatan dan kemakmuran.[1] Tradisi Mappalili Sigeri diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK: 244/P/2016.[2]
Sejarah
Secara etimologis, kata "mappalili" dalam bahasa Bugis berarti "berkeliling", merujuk pada prosesi membawa arajang mengitari pemukiman dan ladang yang akan digarap. Dahulu, ritual ini didukung oleh Raja Segeri dan bisa berlangsung hingga 40 hari 40 malam.[3] Namun, sejak tahun 1968 pelaksanaan ritual diambil alih oleh pemerintah kecamatan dan durasinya dipangkas.[1]
Pelaksanaan
Pelaksanaan ritual Mappalili Sigeri didukung oleh peran Bissu, Puang Matoa, dan Pa'genrang palili' yang terdiri dari pemain gendang, pui’-pui’, gong, dan lae-lae.[1]
Ritual Mappalili Sigeri dilangsungkan di Bola Arajang maupun sungai Segeri. Ritual Mappalili Sigeri terdiri dari tahapan mattedu' arajang, mappalesso' arajang, mallekke wae, mallekke laulalle, dan ma'balu ota. Pada tahap matteddu’ arajang, alat bajak sawah (rakkala) yang termasuk alat-alat kerajaan (arajang) dibangunkan dengan pembacaan mantra oleh Puang Matoa serta iringan tabuhan musik.[1]
Selanjutnya, dilakukan mappalesso’ arajang, yaitu pemindahan arajang dari tempat gantungannya yang disebut palakka ke ruang tengah rumah panggung atau posi’ bola sebelum diarak. Sebelum diturunkan, Puang Matoa membacakan mantra permohonan izin dan permintaan maaf kepada Dewata SeuwaE.[1]
Tahap selanjutnya adalah mallekke wae, yaitu pengambilan air dari Sungai Segeri. Puang Matoa bersama beberapa pendamping membawa sesaji berupa satu sisir pisang dan dupa menuju tepian sungai. Setelah tiba, Puang Matoa membacakan mantra, mencuci perlengkapan ritual, dan menghanyutkan pisang persembahan kepada roh yang mendiami sungai.[1]
Tahapan berikutnya disebut mallekke laulalle, yaitu pengambilan laulalle, boneka atau orang-orangan yang menjadi simbol tolak bala, dari pasar Segeri. Laulalle memiliki badan dari batang pohon nangka dan kepala dari daun pisang. Pada tahap terakhir dilaksanakan ma’balu ota, ritual interaksi antara Bissu dan masyarakat dengan pertukaran sirih dan sumbangan uang. Ritual ditutup dengan prosesi palili’, ketika arajang diarak mengelilingi kampung dan sawah sebagai simbol awal musim tanam.[1] Setelah upacara mappalili, Bissu akan melakukan ritual magiri yaitu atraksi menusuk tubuh dengan badik untuk memperlihatkan kekebalannya terhadap senjata tajam.[3]
Referensi
- ^ a b c d e f g Gunawan, Agim; Yulaeliah, Ela; Razak, Amir (2023-09-29). "PERUBAHAN GENRANG PALILI' DALAM RITUAL ADAT MAPPALILI' DI KELURAHAN BONTOMATE'NE KECAMATAN SEGERI KABUPATEN PANGKAJE'NE DAN KEPULAUAN SULAWESI SELATAN". SELONDING. 19 (2): 88–101. doi:10.24821/sl.v19i2.7743. ISSN 2685-9327.
- ^ "Mappalili Sigeri". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ a b Suliyati, Titiek (2018-12-01). "Bissu: Keistimewaan Gender dalam Tradisi Bugis". Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi. 2 (1): 52. doi:10.14710/endogami.2.1.52-61. ISSN 2599-1078.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


