Makkatte

Makkatte (atau sering ditulis makkatte', makkette, makkatte') adalah tradisi sunat atau khitan perempuan dalam masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan. Prosesi ini umumnya dilakukan pada anak perempuan usia 4–7 tahun oleh dukun adat (Sanro) sebagai ritual penyucian, identitas budaya, serta bagian dari pengislaman.[1]
Sunat yang dilakukan dalam tradisi makatte ini tidak berbahaya. Sunat dilakukan dengan memberikan sedikit goresan pada klitoris si anak dengan pisau, mengambil kotoran untuk kemudian disatukan dengan darah dari jengger ayam jago.[2]
Proses makkatte
Sebelum tradisi makkatte dimulai, pihak keluarga perlu menyediakan beras yang diletakkan dalam sebuah nampan lebar. Ada pula kelapa yang telah dibuka kulitnya, serta gula merah yang telah dipotong-potong dan diletakkan di atas piring kecil, ditambah dengan ayam kampung hidup.[2]
Setelah itu anak perempuan dituntun untuk berwudu dan dipabbajui atau dipakaikan baju bodo dengan lipa sabbe (sarung sutra khas Bugis). Selanjutnya, si anak duduk di atas bantal yang telah dilapisi dengan sarung sebanyak 7 buah, daun pisang yang masih muda, dan sajadah.[2]
Biasanya sang anak yang akan disunat didampingi oleh ayah kandung yang duduk di belakang putrinya. Sang anak dituntun untuk membaca dua kalimat syahadat. Setelah anak dianggap sempurna membaca syahadat, Sanro akan melakukan prosesi sunat atau khitan dengan menggunakan pisau (ada juga yang menggunakan silet/gunting).[2]
Setelah prosesi selesai, sang anak diberi suapan gula merah oleh orangtuanya, yang bermakna supaya kehidupannya di masa yang akan datang senantiasa manis seperti gula merah. Kemudian, sang anak harus memakai baju bodo sebanyak 7 lapis yang bermakna agar kehidupannya di masa depan sukses dan berhasil.[2]
Setelah itu, sang anak dibopong oleh ayahnya menuju tempat yang tinggi, maknanya agar setelah dewasa nanti anak perempuan ini memiliki pengetahuan yang tinggi, berwawasan luas, berbudi pekerti luhur dan menjalankan ibadah dengan baik. Ada pula yang mendudukkan anak di pelaminan seperti pengantin.[2]
Sebagai penutup, umumnya masyarakat akan melakukan barzanji berupa pembacaan ayat suci Al-Qur’an secara bergiliran, salawat serta pujian bagi Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini diakhiri dengan makan bersama.[2]
Sanro
Sanro atau dukun adat yang melakukan proses sunat dalam tradisi Makkatte tidak berasal dari kalangan medis seperti bidan, mantri, atau dokter. Sanro adalah dukun atau orang pintar yang memiliki kemampuan menyunat, dan kemampuan ini didapatkan secara turun-temurun. Meski demikian, Sanro umumnya adalah seorang perempuan.[1]
Referensi
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


