Makam Hang Tuah

Pintu masuk Makam Hang Tuah
Makam Hang Tuah
Tugu Amanat Hang Tuah.

Makam Hang Tuah (Jawi: مقام هڠ تواه) yang terletak di Tanjung Kling, Melaka, Malaysia merupakan makam seorang pahlawan terkenal pada era Kesultanan Melayu Melaka. Salah satu kisah kegagahannya yang terkenal ialah ketika beliau menumpaskan sekumpulan lelaki yang mengamuk di Kampung Duyong. Kehebatan tersebut sampai ke pengetahuan Sultan, dan Hang Tuah dipanggil menghadap ke istana untuk dilantik sebagai hulubalang yang berkhidmat kepada Istana Melaka. Keahlian beliau dalam ilmu persilatan menyebabkan Hang Tuah bersama empat sahabatnya diangkat sebagai legenda dalam sejarah Melaka.

Seni bina makam

Makam ini memiliki panjang sekitar 16,5 meter dan berada dalam kawasan seluas 60 meter persegi. Tinggi bangunannya ialah 3,7 meter. Pada bagian kepala makam terdapat sebuah struktur berbentuk mihrab kecil. Bagian depannya terbuka luas seperti pintu, sementara sisi kiri dan kanannya memiliki bukaan kecil menyerupai jendela.

Bangunan ini memiliki atap yang terbuat daripada batu bata dan menirus ke atas, menyerupai bentuk bumbung masjid-masjid tradisional di Melaka. Pada bagian atasnya terdapat bentuk menyerupai bunga teratai, sebagaimana elemen seni bina yang sering terlihat pada masjid-masjid di Melaka. Dua tembok menghubungkan bahagian kepala dan kaki makam, serta terdapat empat batang tiang bulat yang menjulang ke atas.

Empat tiang bulat tersebut melambangkan kekukuhan dan dibuat daripada susunan bata. Ia menyerupai tiang-tiang masjid lama di Melaka seperti Masjid Alai, Masjid Sempang, dan Masjid Peringgit. Ada kemungkinan empat tiang itu juga melambangkan empat sahabat karib Hang Tuah — Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu.

Bentuk bangunan makam yang menyerupai masjid ini jelas mencerminkan pengaruh seni bina Islam, menunjukkan bahwa makam tersebut milik seorang tokoh Islam yang memiliki kedudukan sosial tinggi. Seluruh kawasan makam dikelilingi tembok kukuh setinggi 0,4 meter, dengan sebuah pintu gerbang yang menghadap ke laut. Kemungkinan pada masa dahulu terdapat jalan atau tangga khas yang menuju terus ke laut.[1]

Polemik Identitas Makam Hang Tuah

Cuplikan manuskrip Sulalatus Salatin yang disalin pada tahun 1223 H / 1808 M mengenai kewafatan Hang Tuah dan pemakamannya di Tanjung Keling

Walaupun beberapa hikayat seperti Hikayat Hang Tuah menyebutkan bahwa Hang Tuah hilang begitu saja (ghaib)[2] dan ada pula yang berpendapat bahwa Hang Tuah wafat di Perak[3], namun Sulalatus Salatin yang dikarang oleh Tun Sri Lanang dengan jelas menyatakan bahwa Hang Tuah telah wafat seperti manusia biasa dan dimakamkan di Tanjung Kling dengan penuh adat istiadat.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, makam tersebut sebenarnya bukan milik Hang Tuah, melainkan milik seorang India Muslim dari Gujarat, sehingga makam itu terkenal dengan sebutan Keramat Keling[4].

Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa makam tersebut sebenarnya adalah makam seorang Bendahara Melaka yang juga berketurunan India Muslim, yaitu Bendahara Seri Maharaja Tun Mutahir. Hal ini karena pada tahun 1960-an dilaporkan bahwa penduduk setempat mengadakan upacara Mandi Safar di kawasan sekitar makam tersebut. Upacara ini dikatakan telah diamalkan selama ratusan tahun, sejak kedatangan Portugis ke Melaka. Makam itu diyakini oleh sebagian pihak sebagai makam seorang Bendahara Melaka yang telah dihukum bunuh olehSultan Mahmud Syah[5][6].

Pada tanggal 8 Januari 1985, Pemerintah Negeri Melaka telah mengiktiraf makam lama di Kampung Balik Bukit di Tanjung Kling sebagai makam pahlawan Melayu, Hang Tuah. Menurut Ketua Menteri Melaka, Datuk Seri Abdul Rahim Tamby Chik, pengiktirafan ini dibuat berdasarkan beberapa dokumen sejarah yang diperoleh yang menyatakan bahwa Laksamana Hang Tuah dimakamkan di Tanjung Kling[7].

Di dalam teks Sulalatus Salatin Sejarah Melayu dicatatkan[8][9][10]:

Hatta maka Laksamana Hang Tuah pun kembalilah ke rahmat Allah Taala, maka oleh Sultan Mahmud ditanamkan di Tanjung Keling, dengan sepenuh-penuh adat dianugerahkan; tiga hari baginda tiada nobat. Maka Khoja Hassanlah jadi Laksamana, menggantikan mertuanya. Maka Laksamana Khoja Hassan beranak dengan anak Laksamana Hang Tuah seorang lelaki, bernama Tun Abdul. Wallahu a'lamu bi'l sawab, wa ilaihi'l marji'u wa'l ma'ab.

Referensi

  1. ^ Berita Harian (1985-03-10). Hang Tuah dikubur di Tg Keling. Diakses tanggal 2025-12-02 – via NewspaperSG. halaman 3
  2. ^ Dikaji dan diperkenalkan oleh Kassim Ahmad (2017). Hikayat Hang Tuah. Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 978-983-62-9984-0. Maka Tun Tuah pun tiada tersebut lagi, di dalam negeri itulah. Tetapinya, kata orang, Si Tuah tiada mati, kerana Si Tuah itu ia hulubalang segala laki-laki. Maka sekarang sekali khabarnya Tun Tuah ada di pucuk hulu Sungai Perak, ia duduk menjadi raja segala biduandanya orang hutan. hlm. 548
  3. ^ Iskandar Zulqarnain (2019-02-28). Keris Taming Sari Ada Disimpan Di Perak. Diakses tanggal 2025-12-02 – via Orang Perak.
  4. ^ Berita Harian (1985-03-10). Masih ada yg tak yakin. Diakses tanggal 2025-12-02 – via NewspaperSG. hlm. 3
  5. ^ Mohd Azlan Mohd Sharif (2020-03-07). Makam Hang Tuah sebenarnya di Bandar Maharani?. Diakses tanggal 2025-12-02 – via Malaysiakini.
  6. ^ Berita Harian (1962-07-17). MANDI SAFAR DI-TANJONG KELING. Diakses tanggal 2025-12-02 – via NewspaperSG. hlm. 4
  7. ^ Nurzuliana Kamaruzaman/Arkib Negara Malaysia (2021-01-08). Hari ini dalam sejarah : Melaka iktiraf makam Hang Tuah. Diakses tanggal 2025-12-02 – via Berita PAS.
  8. ^ Tun Seri Lanang (Diselenggara oleh A. Samad Ahmad) (2015). Sulalatus Salatin Sejarah Melayu (Edisi Pelajar). Dewan Bahasa dan Pustaka (cetakan ke-18). ISBN 978-983-62-5601-0. hlm. 220, berdasarkan manuskrip bertarikh 1223 H / 1808 M
  9. ^ Tun Seri Lanang (Diusahakan oleh W.G. Shellabear) (2016). Sejarah Melayu. Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 978-983-49-0346-6. Syahadan, akan Laksamana Hang Tuah pun kembalilah ke rahmatullah. Maka oleh Sultan Mahmud ditanamkan di Tanjung Keling dengan sepenuh-penuh adat dianugerah. Tiga hari baginda tiada nobat. Maka Khoja Husin menggantikan mentuanya jadi laksamana. Maka Laksamana Khoja Husin beranak dengan anak Laksamana Hang Tuah seorang laki-laki Tun Abdul namanya. Wallahuaklam bissawab. hlm. 217, berdasarkan manuskrip bertarikh 1266 H / 1850 M
  10. ^ Tun Seri Lanang, disuratkan oleh Tengku Said Ibni Tengku Deris (Diselenggara oleh Dr. Muhammad Yusoff Hashim) (2015). Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin)[Versi Siak]. Penerbit Kolej Universiti Islam Melaka. ISBN 978-967-12078-5-7. Hatta, maka Laksamana Hang Tuah sudah kembali ke Rahmat'uLlah. Maka ditanam akan baginda di Tanjung Keling, dengan sepenuh-penuh adat dianugerahkan baginda. Tiga hari baginda tiada nobat. Maka Khawaja Hasanlah jadi Laksamana, menggantikan mentuanya. Maka Laksamana Khawaja Hasan, beranak dengan anak Laksamana Hang Tuah, seorang laki-laki, bernama Tun Abdullah, wa'Llahu a'lam hlm. 159, disuratkan oleh Tengku Said pada 1272 H / 1855 M, kemudian manuskrip ini disalin pada tahun 1310 H / 1893 M

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement