Mahanyari
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Juni 2025) |
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |
Mahanyari adalah pesta panen padi yang dilakukan masyarakat Dayak Meratus.[1] Mahanyari merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas panen dan berkah yang diberikan. Mahanyari berasal dari kata hanyar yang dalam bahasa banjar artinya baru. Secara harfiah, Mahanyari artinya memulai panen padi pada tahun itu.
Padi sangat dihargai keberadaannya oleh Dayak Meratus, sehingga ketika menanam dan memanen dilakukan acara adat atau ritual. Acara dapat dilakukan secara berkelompok maupun idividual.
Mahanyari yang dilakukan secara berkelompok dan dilakukan di Balai Adat disebut Aruh.
Tihang Bekambang
Mahanyari diawali dengan penyiapan sesajen yang dibawa ke pehumaan di Tihang Bekambang. Tihang Bakambang terdiri dari tiang berupa bambu kuning, bagian paling atas melambangkan huruf atau kepala manusia yang disebut songkol. Di bawah songkol terdapat daun sejenis palem yang disebut daun Risi dan ditambah kembang merah (habang). Bagian tengah berupa papan bundar berdiameter 70 cm tempat menyimpan berbagai sesajen yang disebut Dulang Campan yang melambangkan bumi.[butuh rujukan]
Sesajen disimpan di atas Dulang Campan yang terdiri dari darah ayam di tempurung kelapa, wajit, minyak kelapa, dodol ketan, darah ayam, air kunyit yang diletakkan di Campan serta gulungan daun teureup (sukun hutan) yang di dalamnya terdapat daun mada, daun risi, buah merah/hiba hibak, daun ribu ribu, daun binturung, daun buluh, daun sirih benaik, daun singgae singgae.[butuh rujukan]
Prosesi Mahanyari
Balian memulai prosesi dengan membaca mantra yang pada dasarnya adalah doa dan pemujaan kepada Tuhan atas berkah panen padi yang diberikan.[butuh rujukan]
Ayam dipotong di bawah Dulang Campan untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Darahnya dikucurkan di bawah Tihang Bekambang di tanah dan di tiang bambu kuning. Ayam tersebut dibawa ke pondok untuk dimasak dan dimakan bersama.[butuh rujukan]
Aruh Mahanyari juga dilengkapi sajian berbagai macam makanan seperti lamang, dan sajian lainnya khas adat Dayak Meratus.[2]
Tarian Batandik
Mahanyari biasanya juga diiringi tarian batandik.[3]
Pamali
Ada beberapa larangan atau pamali yang berhubungan dengan Mahanyari. Esok hari setelah aruh digelar, warga tidak boleh melakukan aktivitas di ladang, membunuh satwa, menebang pohon, dan berhubungan badan suami istri. Lamang yang disajikan dalam aruh juga tidak boleh dikonsumsi sebelum diperbolehkan oleh Balian. Setelah aruh selesai, warga yang hadir diberikan sekantung beras yang berasal dari hasil panen yang tidak boleh dijual, hanya untuk konsumsi sendiri.[4]
Referensi
- ^ Zainuddin, Hasan. ""mahanyari" Pesta Panen Dayak". ANTARA News Kalimantan Selatan. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ Hanani (12 Mei 2025). Nugroho, Edi (ed.). "Berhasil Panen Padi, Warga Adat di Desa Pambakulan HST Gelar Aruh Mahanyari". Banjarmasinpost.co.id. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ Sugianto, Aya (2022-06-19). Widodo, Hari (ed.). "Ucap Syukur, Masyarakat Adat Dayak Dusun Kedayang Loksado HSS kalsel Gelar Aruh Mahanyari". Banjarmasinpost.co.id. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ ridzki.sigit (2017-06-23). "Aruh Mahanyari, Ritual Ucapan Syukur Hasil Panen Berlimpah Dayak Pitap". Mongabay.co.id. Diakses tanggal 2025-06-15.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


