Legenda Tapak Tuan

Legenda Tapak Tuan adalah cerita rakyat Nusantara yang berkembang di Tapak Tuan, Aceh mengenai seorang pertapa bertubuh raksasa bernama Syekh Tuan Tapa dan pertempurannya melawan sepasang naga. Terdapat sejumlah situs yang terkait dengan legenda ini. Situs terkenal yakni cerukan besar menyerupai jejak kaki manusia raksasa di tepi Pantai Gunung Lampu, Kampung Pasar yang diyakini sebagai jejak kaki Syekh Tuan Tapa.[1]
Kisah Syekh Tuan Tapa melawan naga sekaligus menjadi asal-usul penamaan Tapak Tuan yang juga dijuluki sebagai Kota Naga. Saat ini, Tapak Tuan menjadi ibu kota Kabupaten Aceh Selatan.[2]
Asal-usul dan cerita
Selain Suku Aceh, wilayah Tapak Tuan dihuni oleh Suku Aneuk Jamee yang merupakan perantau dari Minangkabau. "Tapak Tuan" berasal dari dua kata dalam bahasa Aneuk Jamee, yakni: tapak (jejak kaki) dan tuan (panggilan untuk tokoh yang dihormati). Dalam legenda, Syekh Tuan Tapa diceritakan sebagai pertapa yang mengasingkan diri di sebuah gua di Gunung Tuan untuk beribadah.[2]
Suatu hari, sepasang naga menemukan seorang bayi perempuan terapung di Samudra Hindia. Kedua naga merawat dan membesarkan anak itu di tempat yang kini disebut sebagai Gunung Alur Naga. Saat sang anak sudah tumbuh dewasa, raja dan permaisuri dari Kerajaan Asralanoka datang ke sana karena yakin anak itu adalah putri mereka yang hilang. Sang raja hendak merebut anak itu dari kedua naga dalam pertempuran di tengah laut. Suara dan kekacauan akibat perempuran tersebut mengganggu semadi Syekh Tuan Tapa.[3][4]
Dari tempat pertapaannya, Syekh Tuan Tapa melompat ke laut tempat pertempuran untuk membantu raja Kerajaan Asralanoka menyelamatkan sang putri. Dengan tongkat kayunya, ia mengalahkan kedua naga. Sang raja dan permaisuri akhirnya mendapatkan kembali anak mereka dan memilih menetap di kawasan itu, yang kelak menjadi cikal bakal pemukiman Tapak Tuan.[3][4]
Situs terkait
Terdapat beberapa situs di lokasi berbeda yang diyakini masyarakat setempat berkaitan dengan legenda ini. Situs paling terkenal adalah cerukan besar menyerupai jejak kaki manusia raksasa di Gunung Lampu, Kampung Pasar berukuran panjang 6 meter dan lebar 2,5 meter. Tidak jauh dari situ, terdapat sebuah batu besar di tengah laut berbentuk menyerupai kopiah, yang dipercaya sebagai milik Tuan Tapa yang terlepas saat bertempur. Selain itu, terdapat formasi batu yang diyakini sebagai tongkat Tuan Tapa yang telah berubah menjadi batu.[3][4]
Sekitar lima kilometer dari situs jejak kaki raksasa, terdapat karang berbentuk hati di Desa Batu Itam dan sisik naga di Desa Batu Merah, yang diyakini sebagai sisa potongan tubuh naga jantan yang kalah dalam pertarungan. Di Pantai Batu Berlayar, sekitar 20 kilometer dari Gunung Lampu, terdapat karang menyerupai layar kapal yang diyakini merupakan sisa kapal raja dan permaisuri Kerajaan Asralanoka yang hancur saat pertempuran.[3][4]
Di Kampung Padang, terdapat situs yang diyakini masyarakat sebagai makam Syekh Tuan Tapa berukuran panjang 25 meter dan lebar 8 meter. Makam ini berada di belakang sebuah masjid yang kini dimakan sebagai Masjid Tua Tapak Tuan.[5]
Referensi
- ^ Assabariah (Hajjah.) (1989). Mutiara Nusantara: kisah 16 tahun lebih jalan kaki keliling Indonesia. Yayasan Bhakti Sarinah.
- ^ a b Ahmad, Sayed Mudhahar (1992). Ketika pala mulai berbunga: seraut wajah Aceh Selatan. Pemda Aceh Selatan.
- ^ a b c d https://www.kompas.com/stori/read/2022/08/13/110000979/legenda-tapaktuan-?page=all#page2
- ^ a b c d "Misteri Telapak Kaki Raksasa di Aceh". gaya hidup. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ Tifani, Agung (2022-09-06). "Mengenal Tapak Tuan, Jejak Kaki Raksasa yang Melegenda di Aceh Selatan - Daerah Katadata.co.id". katadata.co.id. Diakses tanggal 2025-06-17.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


