Larung Sesaji Pantai Tambakrejo
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Juni 2025) |

Larung Sesaji Pantai Tambakrejo adalah sebuah tradisi adat masyarakat pesisir di Pantai Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Diselenggarakan setahun sekali pada penanggalan Jawa (1 Muharam atau 1 Sura), tradisi ini melibatkan ritual adat berupa pengarakkan sesaji ke bibir pantai dan pelarungan ke laut sebagai ungkapan syukur atas limpahan hasil laut, keselamatan nelayan, serta harapan akan berkah dan kesejahteraan.[1]
Sejarah dan perkembangan
Larung Sesaji di Pantai Tambakrejo merupakan tradisi syukuran masyarakat pesisir Blitar atas hasil laut yang berlangsung sejak tahun 1838.[2] Tradisi ini diyakini bermula dari Ki Atmo Wijoyo atau Atmaja, seorang prajurit laskar Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke pantai selatan dan memulai tasyakuran sebagai ungkapan syukur atas kelangsungan hidup di alam liar. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi ritual larung sesaji.[butuh rujukan]
Selain penghormatan kepada Tuhan dan alam, tradisi ini juga dikaitkan dengan sosok gaib Mbok Ratu Mas, yang diyakini sebagai Kanjeng Ratu Kidul. Oleh karena itu, sesaji dilarung ke laut sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan.[butuh rujukan]
Seiring waktu, Larung Sesaji mengalami perubahan, antara lain inisiatif Kepala Desa Soebadi pada 1969 dan penambahan ukuran tumpeng oleh Bupati Blitar, Rijanto. Namun, elemen inti seperti tumpeng emas dan berbagai sesaji tetap dipertahankan. Hingga kini, tradisi ini digelar bergantian setiap tahun antara Pantai Tambakrejo dan Pantai Serang, dan diawali dengan pembacaan sejarah desa serta pertunjukan budaya seperti wayang kulit.[butuh rujukan]
Pelaksanaan
Ritual dimulai malam hari sebelum hari Muharam dengan pagelaran wayang kulit dan doa bersama. Esoknya, dilakukan upacara larungan dengan pengusung gunungan berisi hasil bumi, buah‑buahan, takir plon‑tang, dan kepala ternak (sapi/kambing), diarak dari kantor desa menuju pantai. Gelombang doa dan pukulan gong menandai upacara. Sesaji dilarung ke laut, diiringi musik gamelan dan kuda lumping, yang diikuti pembacaan doa oleh tokoh adat.[3] Uniknya, larung ini sering dilakukan dua kali—pada 1 dan 15 Muharam—dengan tujuan yang sedikit berbeda: satu untuk syukur, satunya lagi fokus pada keselamatan saat melaut.[3]
Nilai dan fungsi
Tradisi Larung Sesaji Pantai Tambakrejo mengandung makna spiritual dan sosial yang kuat. Secara spiritual, ritual ini mencerminkan rasa syukur masyarakat pesisir kepada Tuhan atas rezeki laut serta permohonan keselamatan dan keberkahan di masa mendatang. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya meliputi penghormatan terhadap alam, pengakuan terhadap kekuatan gaib seperti Mbok Ratu Mas, serta pelestarian tradisi leluhur. Dalam konteks sosial, tradisi ini memperkuat solidaritas dan identitas budaya masyarakat pesisir melalui kerja sama kolektif dan partisipasi lintas generasi. Fungsi budaya tradisi ini mencakup sebagai media edukasi nilai-nilai lokal, perekat sosial, serta sarana atraksi wisata budaya yang memperkenalkan kekayaan adat Blitar kepada masyarakat luas.[4]
Pelestarian
Pada 16 Agustus 2019, Larung Sesaji Pantai Tambakrejo resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.[5] Dengan dukungan pemerintah kabupaten dan desa, tradisi ini menjadi bagian agenda pariwisata budaya tahunan. Kini, tokoh daerah seperti Bupati Blitar hadir sebagai bentuk legitimasi, dan generasi muda dilibatkan agar kelestariannya terus terjaga. Meski alat ritual dan bentuknya disesuaikan—seperti larungan dilakukan di Tempat Pelelangan Ikan saat Covid‑19—esensi syukur dan gotong royong tetap dipegang teguh.[6]
Referensi
- ^ "Tradisi Larung Sesaji Pantai Tambakrejo, Wujud Ungkapan Syukur Masyarakat Pesisir di Blitar – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata – Kabupaten Blitar" (dalam bahasa American English). 2023-07-21. Diakses tanggal 2025-06-18.
- ^ ditwdb. "Larung Sesaji Pantai Tambakrejo, Ritual ini merupakan ungkapan syukur – Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya". Diakses tanggal 2025-06-18.
- ^ a b Prasetiyo, Agung. "Lestarikan Budaya, Pemdes Tambakrejo Kecamatan Wonotirto Gelar Larung Sesaji, Dimeriahkan Berbagai Kegiatan - Blitar Kawentar". Lestarikan Budaya, Pemdes Tambakrejo Kecamatan Wonotirto Gelar Larung Sesaji, Dimeriahkan Berbagai Kegiatan - Blitar Kawentar. Diakses tanggal 2025-06-18.
- ^ "Upacara Adat Larung Sesaji Pantai Tambakrejo Blitar • D'Travellers". 2023-07-23. Diakses tanggal 2025-06-18.
- ^ Jatim, TIMES. "Larung Sesaji Pantai Tambakrejo Blitar Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda". TIMES Jatim. Diakses tanggal 2025-06-18.
- ^ Riady, Erliana. "Larung Sesaji Suroan di Pantai Tambakrejo Blitar Akan Digelar Tertutup". detiknews. Diakses tanggal 2025-06-18.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


