Lamtiur Andaliah Panggabean
Lamtiur Andaliah Panggabean | |
|---|---|
![]() | |
| Duta Besar Indonesia untuk Romania | |
| Masa jabatan 28 Mei 1990 – 1993 | |
| Presiden | Soeharto |
| Asisten Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Kelembagaan | |
| Masa jabatan 1983 – 7 Juli 1990 | |
Pendahulu Kamarsyah Pengganti Waluyo Ratam | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 26 Oktober 1930 Tanjungkarang, Lampung, Hindia Belanda |
| Meninggal | 1993 (umur 62–63) |
| Anak | 2 |
| Orang tua |
|
| Pendidikan | Akademi Dinas Luar Negeri Universitas Indonesia (S.H.) University of Pittsburgh Graduate School of Public and International Affairs (MPIA) |
Lamtiur Andaliah Panggabean (26 Oktober 1930 – 1993) merupakan seorang diplomat Indonesia yang berkarier di Kementerian Luar Negeri dan Kantor Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. Jabatan terakhirnya adalah sebagai Duta Besar Indonesia untuk Romania, yang dipangkunya dari tahun 1990 hingga ia wafat pada tahun 1993.
Masa kecil dan pendidikan
Lamtiur lahir di Tanjungkarang, Lampung, pada tanggal 26 Oktober 1930[1] sebagai anak keenam dari sepuluh bersaudara dari pasangan Johannes Panggabean dan Milly Emma Siregar.[2] Ayahnya, Johannes Panggabean, meninggalkan tempat kelahirannya di Sumatera Utara di usia muda dan bekerja di perkebunan Belanda di Lampung.[3]
Johannes kehilangan pekerjaannya di Lampung setelah pendudukan Jepang di Hindia Belanda, dan keluarganya memutuskan untuk meninggalkan Lampung dan pindah ke Jakarta. Lamtiur, yang saat itu duduk di kelas empat SD, harus meninggalkan sekolah dasarnya di Lampung dan melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Lamtiur menyelesaikan pendidikan sekolah menengahnya di SMA Setiabudi pada tahun 1950. Awalnya ia ingin menjadi dokter dan belajar kedokteran tetapi membatalkannya setelah ayahnya jatuh sakit.[3]
Ia memutuskan untuk mendaftar masuk Akademi Dinas Luar Negeri, karena biaya kuliahnya sepenuhnya dibiayai oleh Kementerian Luar Negeri. Meskipun ia terlambat mendaftar, salah satu pelamar mengundurkan diri, sehingga ia dapat masuk akademi tersebut. Ia adalah satu-satunya perempuan dalam kelompoknya. Teman-teman sekelasnya di akademi tersebut termasuk Ali Alatas, yang kemudian menjadi menteri luar negeri.[3]
Lamtiur memutuskan untuk belajar hukum di Universitas Indonesia pada tahun 1951, karena ia merasa bahwa belajar di akademi tidak menyita banyak waktu. Pada tahun 1954, ia lulus dari akademi dan Universitas Indonesia dengan gelar sarjana muda. Selama menjadi mahasiswa, ia bergabung dengan Ikatan Wanita Universitas Indonesia.[2]
Ia memperoleh gelar sarjana hukum penuh dari Universitas Indonesia pada tahun 1962, dan gelar Magister Hubungan Masyarakat dan Internasional dari Sekolah Pascasarjana Hubungan Masyarakat dan Internasional Universitas Pittsburgh pada tahun 1974.[1] Ia juga mengikuti kursus staf dan kepemimpinan yang diadakan oleh departemen luar negeri selama beberapa bulan pada tahun 1972.[2]
Karier
Lamtiur memulai kariernya di kementerian luar negeri pada tahun 1954 sebagai diplomat muda yang diperbantukan di Departemen Kepemudaan. Setahun kemudian, ia ditugaskan di Sekretariat Jenderal Konferensi Asia–Afrika. Ia dikirim ke tugas luar negeri pertamanya pada tahun 1956 sebagai sekretaris ketiga di kedutaan besar Indonesia di Swiss.[4] Ia ditugaskan di Kantor Sekretaris Jenderal Konferensi Colombo Plan di Yogyakarta pada tahun 1959.[2]
Pada tahun 1962, Lamtiur ditugaskan di kantor perwakilan Indonesia di Nugini Belanda. Setelah administrasi wilayah tersebut diserahkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai Otoritas Eksekutif Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa, Lamtiur bekerja sebagai pegawai Indonesia di otoritas tersebut. Jabatan resminya di Departemen Luar Negeri dari tahun 1960 hingga 1967 adalah sebagai pegawai di Komite Pengarah Organisasi Internasional untuk Urusan Hukum, kemudian sebagai Kepala Subbagian Kekebalan, Perlindungan Pajak, dan Fasilitas di Kantor Protokol Kementerian Luar Negeri.[2]
Ia dikirim ke tugas luar negeri lainnya pada tahun 1967 sebagai sekretaris kedua, dan kemudian sekretaris pertama, di Kedutaan Besar Indonesia di Manila. Ia menyelesaikan tugas diplomatiknya di Filipina pada tahun 1970 dan diangkat sebagai kepala biro personalia di Kementerian Luar Negeri pada tahun 1971. Ia hanya menjabat selama satu tahun, karena dari tahun 1972 hingga 1974 ia harus menempuh pendidikan magister di Amerika Serikat. Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1974, ia menjabat sebagai Kepala Bagian Pembinaan Administrasi di Biro Organisasi Kementerian Luar Negeri.[2]
Lamtiur juga aktif di organisasi perempuan. Ia bergabung dengan Ikatan Wanita Kristen Indonesia pada tahun 1970 dan menjadi sekretaris jenderal organisasi tersebut selama dua periode, serta menjadi wakil organisasi tersebut di Kongres Perempuan Indonesia. Ia juga menjadi anggota Komisi Nasional Kedudukan Wanita selama dua periode,[5] dan dari tahun 1988 hingga 1993 ia menjadi staf ahli komisi tersebut.[2]
Pembantu Asisten Menteri dan Asisten Menteri
Saat bekerja di Kementerian Luar Negeri, ia bertemu dengan teman lamanya yang memberi tahu tentang lowongan jabatan tinggi di kantor Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. Ia berhasil melamar posisi tersebut dan dari tahun 1975 hingga 1983 menjabat sebagai Deputi Asisten Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara yang saat itu dijabat oleh Johannes Baptista Sumarlin. Setelah Sumarlin digantikan oleh Saleh Afiff pada tahun 1983, jabatan tersebut diubah namanya menjadi Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. Ia dipromosikan menjadi Asisten Pertama Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara yang membidangi urusan kelembagaan. Berbeda dengan pelantikan pejabat tinggi saat itu, pelantikannya sebagai Asisten Pertama tidak disiarkan oleh televisi nasional.[3] Selama periode ini, ia juga menjadi anggota Komite Nasional Pendidikan. Pada akhir masa jabatannya sebagai asisten pertama pada tahun 1990, Lamtiur menjadi bagian dari tim yang bertugas mempelajari pembentukan badan-badan otonom untuk berbagai fungsi dalam kerangka kerja sama antara Inggris pemerintah dan pemerintah Indonesia.[2]
Selain penugasannya sebagai Menteri Negara Aparatur Negara, Lamtiur terus diutus ke luar negeri. Ia mengikuti Seminar Hukum Internasional 1978 yang diselenggarakan oleh Mahkamah Internasional dan memimpin sekelompok delegasi Indonesia untuk melakukan benchmarking ke Filipina, Malaysia, dan Singapura pada 1982. Pada 1983 dan 1984, ia menjadi anggota delegasi Indonesia pada sesi persiapan pertama dan kedua Konferensi Internasional tentang Perempuan, yang diselenggarakan di Nairobi pada 1985. Pada 1980-an, ia berpartisipasi dalam Konferensi IASIA di Berlin, New York, Bloomington, Tunis, dan Minneapolis, serta dalam dua Organisasi Administrasi Publik Regional Timur (EROPA), yang diselenggarakan di Jakarta dan Manila. Sekitar waktu yang sama, pada 1980, ia mengunjungi Amerika Serikat sebagai bagian dari delegasi yang melakukan kunjungan pencari fakta ke universitas-universitas Amerika.[2]
Duta Besar Indonesia untuk Romania
Pada tanggal 28 Mei 1990, Lamtiur dilantik oleh Presiden Suharto sebagai duta besar untuk Rumania, menjadikannya wanita kelima di Indonesia yang menjabat sebagai duta besar.[3] Jabatan lamanya sebagai asisten menteri diserahkan kepada Waluyo Ratam pada tanggal 7 Juli 1990.[6][7] Ia kemudian diangkat sebagai duta besar Indonesia untuk Moldova pada tahun 1993, beberapa tahun setelah Moldova berdiri sebagai negara merdeka.[2]
Sebagai duta besar, Lamtiur mengawasi pembentukan Asosiasi Persahabatan Indonesia-Rumania pada tahun 1991.[2] Kedutaan juga bekerja sama dan membantu tim yang dipimpin oleh Dumitru Murariu dari Museum Nasional Sejarah Alam Grigore Antipa dalam ekspedisi empat bulan ke Jawa, Bali, Sulawesi, dan Sumatra. Salah satu anggota tim ekspedisi, Modest Guţu, menemukan spesies krustasea baru di pesisir Bali. Spesies baru yang termasuk dalam genus pagurapseudes ini diberi nama Latin pangtiruthuli, gabungan nama Lamtiur dan kedua anaknya, Ruth Hadassah dan Irianto Rouli Sukaton.[8][9]
Lamtiur menghadiri Gereja Baptis Kristen Golgota di Rumania dan sangat mengenal paduan suara gereja tersebut. Ia mengundang paduan suara tersebut dua kali ke kedutaan Indonesia, pada 17 Desember 1992 dan Natal tahun 1992.[10]
Lamtiur meninggal saat menjabat pada tahun 1993 akibat kanker.[10]
Kehidupan pribadi
Lamtiur merupakan penganut Kristen Protestan.[10]
Referensi
- ^ a b Panitia Peringatan 40 Tahun Hari Jadi ADLN (1990). Buku Peringatan Empat Puluh Tahun Hari Jadi Akademi Dinas Luar Negeri. Departemen Luar Negeri. hlm. 66. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ a b c d e f g h i j k Georgescu, Mircea (1994). Singur printre ambasadori (dalam bahasa Rumania). S.C. Esperance Impex S.R.L. hlm. 155–157. ISBN 978-973-0-00126-6.
- ^ a b c d e Massadiah, Egy; Amin, Muh. Asmianto; Amir, Baso, ed. (1991). Srikandi: Sejumlah Wanita Indonesia Berprestasi. Jakarta: Ciptawidya Swara. hlm. 520-527. ISBN 9789798208003.
- ^ Switzerland (1959). Staats-kalender der Schweizerischen eidgenossenschaft: Annuaire de la Confédération suisse. Annuario della Confederazione svizzera (dalam bahasa Jerman). etc. hlm. 81.
- ^ Komisi Nasional Kedudukan Wanita Indonesia. Departemen Penerangan RI. 1986. hlm. 28–30.
- ^ "Perbaikan Aparatur jangan Tunggu Munculnya Masalah Jakarta". Bali Post. 9 July 1990. Diakses tanggal 21 January 2025.
- ^ "Melantik". Harian Neraca. 9 July 1990. hlm. 5. Diakses tanggal 21 January 2025.
- ^ "Pameran Flora-Fauna Indonesia Di Bukares". Berita Yudha. 24 April 1992. hlm. 11. Diakses tanggal 21 January 2025.
- ^ Studii si̦ cercetări de biologie: Seria biologie animală (dalam bahasa Rumania). Editura Academia Republicii Socialiste România. 1992. hlm. 155.
- ^ a b c Silvesan, Marius; Pop, Ilie (2012). Ilie Pop, Un secol de har. Centenarul BCB Golgota București (dalam bahasa Rumania). hlm. 291. Diakses tanggal 21 January 2025.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.







