Kriya Logam Tumang Boyolali

Kerajinan tembaga kuningan boyolali
Peta Cepogo penghasil Kriya Logam

Kriya Logam Tumang Boyolali merupakan seni kerajinan tradisional berbahan logam yang berasal dari Dukuh Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Kerajinan ini memiliki akar sejarah yang panjang, diperkirakan telah berkembang sejak abad ke-16, dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Pemerintah sejak tahun 2021. Dukuh Tumang dikenal luas sebagai sentra produksi kriya logam, khususnya tembaga dan kuningan. Beragam produk berkualitas tinggi dihasilkan dari kawasan ini, meliputi karya dekoratif, perlengkapan rumah tangga, hingga ornamen arsitektural, yang sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor. Keahlian kriyawan Tumang dalam mengolah logam secara turun-temurun menjadikan wilayah ini salah satu pusat kerajinan logam terkemuka di Indonesia.[1]

Sejarah

Seni kriya logam Tumang merupakan warisan budaya yang berakar sejak masa Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16. Kesenian ini pertama kali dikembangkan oleh Kyai Rogosasi, seorang tokoh keturunan Kesultanan Mataram yang menetap di Dukuh Tumang, Desa Cepogo, Kabupaten Boyolali.[2]

Pemilihan wilayah Tumang oleh Kyai Rogosasi didasarkan pada reputasi daerah tersebut sebagai sentra pengolahan logam. Untuk mendukung pengembangan kriya logam di wilayah ini, pihak Kesultanan Mataram turut mengirimkan tiga empu yang ahli dalam bidang penatahan, perancangan desain, serta tata administrasi produksi. Kehadiran ketiga empu ini memperkuat fondasi pengetahuan dan keterampilan dalam seni logam yang diwariskan secara turun-temurun hingga generasi masa kini.[2]

Meskipun mengalami perkembangan yang signifikan, seni kriya logam Tumang sempat mengalami penurunan pada dekade 1980-an. Kondisi ini dipengaruhi oleh pergeseran kebutuhan masyarakat dari peralatan rumah tangga berbahan logam ke produk-produk serupa berbahan aluminium yang lebih ringan dan ekonomis.[1]

Untuk mempertahankan keberlangsungan industri, para perajin di Tumang mulai berinovasi dengan menciptakan produk-produk logam yang memiliki nilai estetika tinggi. Inovasi tersebut meliputi pembuatan benda-benda hias seperti lampu gantung, jam dinding, ukiran motif gambar, serta karya kaligrafi dari logam. Langkah ini menandai transformasi seni kriya logam Tumang dari kebutuhan utilitarian menuju karya seni bernilai dekoratif.[3]

Pengembangan dan pelestarian

Industri kerajinan logam di Tumang mengalami penurunan pada era 1980-an. Kondisi ini disebabkan oleh maraknya penggunaan peralatan rumah tangga berbahan aluminium yang menggantikan produk tradisional. Untuk mencegah kepunahan industri tersebut, masyarakat setempat mulai mengembangkan produk logam yang memiliki nilai estetika tinggi. Upaya inovatif ini membuahkan hasil, ditandai dengan meningkatnya produksi benda-benda hias seperti lampu gantung, jam dinding, ukiran dekoratif, serta kaligrafi, yang kemudian mendapat sambutan positif dari konsumen.[2]

Kerajinan logam asal Tumang dikenal memiliki kualitas unggul di tingkat nasional dan telah menembus pasar internasional. Sekitar 53% produk kerajinan logam dari Tumang dipasarkan ke luar negeri, sementara sisanya dipasarkan untuk kebutuhan domestik. Baik masyarakat maupun pemerintah secara konsisten berupaya melestarikan industri kerajinan ini. Berkat komitmen tersebut, pada akhir tahun 2021, kerajinan logam Tumang diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.[4]

Referensi

  1. ^ a b Kurniawati, Anisa (2025-01-21). "Seni Kriya Tumang Boyolali, Warisan Budaya yang Mendunia". emmanus.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-18.
  2. ^ a b c Darmojo, Kuntadi Wasi (2018-10-04). "KEBERADAAN KERAJINAN LOGAM DI TUMANG CEPOGO BOYOLALI". Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa (dalam bahasa Inggris). 10 (1): 16–30. doi:10.33153/bri.v10i1.2173. ISSN 2622-0652.
  3. ^ Sudarwanto, Aan; Darmojo, Kuntadi Wasi (2018-05-29). "STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI KRIYA LOGAM DI DESA TUMANG CEPOGO BOYOLALI". Corak (dalam bahasa Inggris). 7 (1): 62–69. doi:10.24821/corak.v7i1.2647. ISSN 2685-4708.
  4. ^ admbyl. "Regenerasi Seni Kriya Logam Tumang Sebagai Upaya Pelestarian" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-18.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement