Konfederasi Minahasa

Konfederasi Minahasa adalah sebuah Konfederasi yang ada di Sulawesi Utara sekitar abad 2 sampai 4 yang menjadi bentuk demokrasi pertama di Nusantara,[1] Konfederasi ini dibentuk oleh walak-walak Minahasa di Watu Pinawetengan[2] yang tercipta karena budaya masyarakat Minahasa tidak mengakui adanya raja atau dinasti maka dibentuklah sebuah konfederasi.[3]

Peta Konfederasi Minahasa dengan perbatasan sungai poigar

Makna Minahasa sendiri berarti "Mina-esa" yang artinya "menjadi satu" yaitu persatuan suku suku keturunan Toar Lumimuut yang berikrar untuk bersatu menjadi satu kesatuan.[4]

Lambang Manguni

Lambang Minahasa, burung Manguni

Manguni merupakan lambang Konfederasi Minahasa. Burung Hantu atau "Manguni" merupakan binatang yang dianggap sakral oleh masyarakat Minahasa, sehingga banyak lambang Manguni dalam budaya dan sejarah masyarakat Minahasa. Burung Manguni dianggap suci karena telah menjadi pemberi arah dan petunjuk hidup sepanjang sejarah Minahasa sehingga burung Manguni bisa dibilang lambang daripada bangsa Minahasa. Bangsa Minahasa sendiri terdiri dari suku suku yang berbeda dari keturunan Toar Lumimuut tetapi tersatukan di Watu Pinawetengan. Setiap suku (atau sub-etnis) di Minahasa mensakralkan burung Manguni hingga menjadi lambang universal bagi bangsa Minahasa. Manguni sudah dipakai menjadi lambang tanah Minahasa dari jaman malesung kuno hingga jaman belanda sampai ke jaman sekarang.[5]

Asal Usul

Masyarakat Minahasa menolak adanya raja di tanah Minahasa dan memilih untuk hidup duduk sama tinggi dan hidup secara demokratis tanpa adanya dinasti. Pemimpin atau walak setiap daerah dipilih dari yang paling kuat dari setiap sub-etnis Minahasa, yang di mana masing masing pemimpin atau walak memiliki hak berunding di Watu Pinawetengan hingga terbentuklah konfederasi, pembentukan konfederasi ini didasari oleh sumpah Toar dan Lumimuut yang berbunyi:[6]

"Manusia semua sama setara sederajat, tidak ada manusia yang akan disembah, tidak ada manusia yang akan dipertuan, saling berbaikanlah selalu, tidak berbuat jahat terhadap sesama, saling menyayangi, saling menopang, saling membantu, saling menghormati"

Watu Pinawetengan, tonggak berdirinya persatuan suku Minahasa

Tujuan utama dari konfederasi ini adalah untuk persatuan bangsa Minahasa dan penyelesaian masalah bersama secara demokratis dan untuk menghadapi serangan dari luar salah satunya dari kerajaan Bolaang Mongondow. Pada tahun 1679, mereka mengadakan perjanjian persahabatan dengan VOC dan diakui sebagai bangsa yang berdaulat oleh belanda[7]

Peta Minahasa Raya

Perang dengan Spanyol

Perang Minahasa-Spanyol adalah perperanganan antara masyarakat Minahasa yang terdiri dalam konfederasi walak-walak melawan Spanyol. Perang awal timbul karena adanya ketidakpuasan rakyat Minahasa terhadap monopoli perdagangan oleh Spanyol, tingkah laku sewenang-wenang dan kekerasan militer Spanyol terhadap masyarakat Minahasa. Pertempuran bermula dari sebuah insiden di Tanawangko tahun 1644, sekitar 40 tentara kolonial Spanyol tewas. Rakyat Minahasa berhasil mengalahkan tentara Spanyol dan melindungi tanah Minahasa. Perang ini berlangsung selama 10 tahun dan berakhir dengan kemenangan Minahasa dan kekalahan Spanyol yang melarikan diri kembali ke filipina. Perang ini berhasil menggagalkan ekspansi Spanyol ke arah selatan melalui sulawesi dari filipina.

Perjanjian dengan belanda

Perjanjian antara Konfederasi Minahasa dan VOC ditandatangani pada tanggal 10 Januari 1679,[8] disaksikan oleh gubernur VOC yang berkedudukan di Maluku, Robertus Padtbrugge. Dalam perjanjian tersebut, 23 kepala walak dari berbagai daerah di Minahasa menyatakan kesetiaan mereka dan berjanji untuk bekerja sama dalam melawan musuh bersama, dan belanda menyatakan kesetiaan dan aliansi pada bangsa Minahasa bahwa hubungan belanda dengan Minahasa adalah setara sebagai sekutu bukan sebagai bawahan belanda, dan bahwa kedaulatan Minahasa tetap dihargai dan diakui belanda sebagai kedaulatan yang merdeka. Beberapa walak yang terlibat dalam perjanjian tersebut antara lain Aris, Bantik, Kakas, Kakaskasen, Klabat, Klabat Atas, Langowan, Pasan, Remboken, Rumoong, Sarongsong, Tombariri, Tombasian, Tomohon, Tompaso, Tondano, Tonkimbut Atas, Tonkimbut Bawah, Tonsawang, dan Tonsea. Perjanjian dengan VOC ini memberikan keuntungan bagi Konfederasi Minahasa dalam hal militer dan ekonomi.

Referensi

Wenas, Jessy (April 2007). Sejarah Dan Kebudayaan Minahasa. Institut Seni Budaya Sulawesi Utara.

"Sejarah Minahasa". Hardy Saerang's Blog. Diakses tanggal 2023-11-23.

  1. ^ KPU. "Demokrasi Itu Bermula dari Minahasa". www.kpu.go.id. Diakses tanggal 2025-02-17.
  2. ^ "Sejarah Minahasa". Hardi_Saerang. 2013-06-25. Diakses tanggal 2025-02-15.
  3. ^ Sumolang, Steven (2015-5-9). "Konflik, Musyawarah, Model Pemerintahan, Nasionalisme dan Unifikasi bangsa Minahasa". kebudayaan kemdikbud. Diakses tanggal 2025-02-17.
  4. ^ "Tahukah Kamu Asal Kata Minahasa, Maknanya Sama Seperti Bhineka Tunggal Ika". Tempo. 5 Januari 2021 | 16.09 WIB. Diakses tanggal 2025-02-17.
  5. ^ Gosal, Clifford Israel (2023-11-30). "Burung Manguni, Identitas Budaya Minahasa: Komposisi Musik Programatik bebasis Practice-Based Research".
  6. ^ bpnbsulut (2017-09-05). "LEGENDA TOAR LUMIMUUT DAN TURUNANNYA - Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Utara". Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Utara. Diakses tanggal 2025-02-15.
  7. ^ "TOAR DAN LUMIMU'UT, LELUHUR SUKU MINAHASA DI SULAWESI UTARA ~ Cerita Dimulai". www.cerita-dimulai.com. Diakses tanggal 2025-02-15.
  8. ^ Talumewo, Bode Grey (Rabu, 15 Oktober 2008). "Terjemahan Verbond/Perjanjian 10 Januari 1679". Bodewyn Grey Talumewo Blog. Diakses tanggal 2025-02-15.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement