Kesenian

Arah jarum jam, dari kiri atas:

Kesenian, atau seni kreatif, merupakan ranah luas dari berbagai praktik manusia yang melibatkan ekspresi kreatif, penceritaan, serta partisipasi budaya. Seni mencakup beragam cara berpikir, bertindak, dan bereksistensi dalam aneka media yang sangat luas. Sebagai unsur kehidupan manusia yang sekaligus dinamis dan abadi, seni telah berkembang menjadi bentuk yang semakin bergaya dan kompleks. Perkembangan ini lahir dari proses pembelajaran, pelatihan, atau penalaran yang berkelanjutan dan disengaja, baik dalam satu tradisi, antar generasi, maupun lintas peradaban. Melalui seni, manusia menumbuhkan identitas sosial, budaya, dan individual yang khas, sembari mewariskan nilai, kesan, penilaian, gagasan, visi, makna spiritual, pola hidup, serta pengalaman dari masa ke masa dan dari satu tempat ke tempat lain.

Seni terbagi ke dalam tiga cabang utama: seni rupa, sastra, dan seni pertunjukan. Contoh seni rupa antara lain arsitektur, seni keramik, menggambar, pembuatan film, melukis, fotografi, dan patung. Contoh sastra mencakup fiksi, drama, puisi, dan prosa. Adapun seni pertunjukan meliputi tari, musik, dan teater. Seni dapat memanfaatkan keterampilan dan imajinasi untuk menghasilkan objek fisik maupun pertunjukan, menyampaikan wawasan dan pengalaman, serta membentuk lingkungan atau ruang alam baru.

Seni dapat merujuk pada praktik yang umum, populer, atau keseharian, sekaligus pada bentuk yang lebih canggih, sistematis, atau terlembaga. Seni dapat berdiri sendiri sebagai wujud yang utuh, atau berpadu dengan bentuk seni lain—misalnya penggabungan karya visual dengan tulisan dalam komik. Bentuk seni juga dapat berkembang dan menyumbang pada dimensi dari bentuk seni yang lebih kompleks, seperti dalam sinematografi. Secara hakikat, seni selalu terbuka terhadap penafsiran dan pendefinisian ulang yang tiada henti. Praktik seni modern, misalnya, menjadi bukti batas-batas yang terus bergeser, ruang bagi improvisasi dan eksperimen, sifat reflektif, serta kritik diri dan penelusuran ulang atas kondisi penciptaan, penerimaan, dan kemungkinan seni itu sendiri.

Sebagai sarana untuk mengasah kepekaan dan perhatian sekaligus tujuan pada dirinya sendiri (seni untuk seni), seni dapat menjadi bentuk tanggapan manusia terhadap dunia. Ia merupakan cara untuk mentransformasikan respons manusia serta menafsir ulang apa yang dianggap bernilai atau layak dikejar. Dari lukisan gua prasejarah pada masa Paleolitik Atas, hingga bentuk ritual kuno maupun kontemporer, hingga film modern, seni telah merekam, mewujudkan, dan melestarikan hubungan manusia yang senantiasa berubah—baik dengan sesamanya maupun dengan dunia tempat mereka hidup.

Definisi

Seni dipandang sebagai beragam bentuk praktik atau objek yang diciptakan manusia dengan keterampilan, kreativitas, dan imajinasi, yang hadir lintas budaya dan sejarah.[1] Aktivitas ini mencakup lukisan, patung, musik, teater, sastra, dan berbagai bentuk lainnya.[2] Secara umum, seni merujuk pada cara manusia menerapkan kemampuan kreatifnya, biasanya—meski tidak selalu—dalam bentuk visual.[3][4]

Namun, sepanjang sejarah, terdapat perdebatan mengenai apa yang layak digolongkan sebagai karya seni; hal ini dikenal sebagai perselisihan klasifikatori tentang seni. Sebagai contoh, pada abad ke-20, perdebatan semacam itu mencakup lukisan Kubis dan Impresionis, karya Marcel Duchamp berjudul Fountain, film, tiruan uang kertas yang luar biasa realistis oleh J. S. G. Boggs, seni konseptual, hingga permainan video.[5]

Sejarah dan klasifikasi

Venus of Brassempouy, sebuah patung kecil dari gading yang berasal dari masa Paleolitik Atas

Dalam kebudayaan Yunani Kuno, seni dan kerajinan dikenal dengan istilah techne. Seni Yunani memperkenalkan penghormatan terhadap bentuk hewan serta pengembangan kemampuan untuk menggambarkan otot, keseimbangan tubuh, keindahan, dan proporsi anatomi yang tepat. Seni Romawi Kuno menampilkan para dewa dalam wujud manusia yang diidealkan, sering kali dengan atribut khas yang menandai identitasnya—misalnya Zeus dengan petirnya. Dalam seni Bizantium dan seni Gotik pada Abad Pertengahan, gereja yang berkuasa menekankan penggambaran tema-tema Kristen karena kuatnya hubungan antara gereja dan negara di Eropa abad pertengahan.[6]

Seni Asia umumnya berkembang dalam gaya yang serupa dengan seni abad pertengahan Barat, yakni penekanan pada pola permukaan dan warna lokal.[a] Ciri khas gaya ini adalah warna lokal yang dibatasi oleh garis luar, mirip dengan konsep kartun dalam pengertian modern. Gaya semacam ini tampak jelas dalam seni India, seni Tibet, dan seni Jepang. Adapun seni Islam menghindari penggambaran makhluk hidup, khususnya manusia dan hewan, dalam konteks keagamaan.[7] Sebagai gantinya, ia mengekspresikan gagasan spiritual melalui kaligrafi dan pola geometris.[8]

Catatan

  1. ^ Warna dasar dari suatu objek, misalnya merah polos pada jubah merah, tanpa mempertimbangkan perubahan warna akibat cahaya, bayangan, atau pantulan.

Referensi

  1. ^ Fernandez 2024.
  2. ^ Merriam-Webster 2023.
  3. ^ Oxford 2016.
  4. ^ Adajian 2007.
  5. ^ Deborah Solomon (14 December 2003). "2003: the 3rd Annual Year in Ideas: Video Game Art". The New York Times Magazine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 April 2017. Diakses tanggal 18 February 2017.
  6. ^ Thorson 2020.
  7. ^ Canby 2005, hlm. 33.
  8. ^ Canby 2005, hlm. 21, 81.

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement