Kerajaan Sungai Lemau
Kerajaan Sungai Lemau merupakan sebuah kerajaan yang berdiri di wilayah hulu Sungai Gunung Bungkuk (dikenal sebagai Sungai Lemau) sekitar tahun 1625-1630. Pendirinya adalah Baginda Maharaja Sakti, yang sebelumnya menjabat sebagai panglima dari Sungai Tarab di Kerajaan Pagaruyung, yang datang ke wilayah ini untuk membantu menyelesaikan konflik internal di Kerajaan Sungai Serut sebelum akhirnya mendirikan pemerintahan sendiri di daerah Sungai Lemau.[1]
Sejarah
Kerajaan Sungai Lemau merupakan entitas politik tradisional yang berdiri di wilayah Bengkulu pada akhir abad ke-15, didirikan oleh Maharaja Sakti (sebelumnya dikenal sebagai Raja Manguyang dari Pagaruyung) sebagai hasil kesepakatan perdamaian antara Kerajaan Aceh dan Kerajaan Sungai Serut.[2][3]
Pusat pemerintahannya terletak di hulu Sungai Gunung Bungkuk (Sungai Lemau) dengan populasi mayoritas Suku Rejang, kelompok etnis Melayu Proto yang telah menghuni wilayah pedalaman Sumatera selama berabad-abad. Kerajaan ini mengembangkan sistem pemerintahan terstruktur di bawah Pangeran Mangkuraja (cicit Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten) yang membagi wilayah Bengkulu menjadi empat pasar dengan hierarki administrasi meliputi Menteri Hilir (Datuk), Pemangku, dan Penghulu Muda di daerah hilir, serta Menteri Hulu, Pesirah, dan Pembarap di wilayah hulu.[2][3][4]
Masa Kejayaan dan Konflik dengan Kolonial
Pada masa keemasan abad ke-18, Kerajaan Sungai Lemau menjadi pusat perdagangan rempah yang makmur dengan pelabuhan strategis di Kampung Bangkahulu. Puncak ketegangan dengan Inggris terjadi pada 1719 ketika Pangeran Mangkuraja memimpin serangan gabungan suku Rejang, Melayu, dan Lembak yang berhasil merebut Benteng Marlborough, peristiwa yang kini diperingati sebagai Hari Jadi Kota Bengkulu. Namun, kerajaan mulai mengalami kemunduran pasca Traktat London (1824), dan secara resmi dibubarkan Belanda pada 1850 setelah kematian raja terakhir Muhammadsyah II tanpa pewaris, mengakhiri 4 abad eksistensi politiknya. Warisan kerajaan tetap terlihat dalam sistem marga (Pasirah) yang diadopsi Belanda serta Masjid Al-Mujahidin (1687) yang masih berdiri hingga kini.[1]
Kerajaan Sungai Lemau meninggalkan berbagai artefak dan warisan budaya yang menjadi bukti historis keberadaannya di wilayah Bengkulu, terutama di sepanjang daerah pesisir dan hulu Sungai Lemau. Peninggalan tersebut mencakup:
- Koleksi Pusaka Kerajaan, termasuk dua meriam kecil bernama Si Corang dan Si Curik, pedang Jabatan, serta senjata tradisional berupa tembak. Artefak-artefak ini kini menjadi bagian dari koleksi museum di Bengkulu, merepresentasikan simbol kekuasaan dan warisan budaya kerajaan.
- Situs Arkeologis, seperti temuan benda-benda prasejarah dari batu dan tembikar di Bukit Mulang, yang mengindikasikan keberadaan permukiman manusia sejak abad ke-5 hingga ke-7 Masehi.
- Struktur Pertahanan Kolonial, termasuk Benteng Marlborough, yang meskipun dibangun oleh Inggris, berlokasi di kawasan yang dulunya merupakan pusat politik dan ekonomi Kerajaan Sungai Lemau.
- Warisan Budaya Takbenda, berupa adat istiadat dan tradisi Suku Rejang yang tetap lestari hingga saat ini, mencerminkan pengaruh kerajaan dalam kehidupan masyarakat setempat.
Peninggalan-peninggalan ini tidak hanya menjadi bukti fisik kejayaan kerajaan yang berdiri sejak abad ke-17, tetapi juga menggambarkan perannya dalam membentuk identitas budaya Bengkulu sebelum kerajaan ini dibubarkan pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
Referensi
- ^ a b c Subarkah, Muhammad (27 Oktober 2023). "Sungai Lemau: Kerajaan Warga Suku Rejang di Pesisir Barat Bagian Selatan Sumatra". Republika. Diakses tanggal 15 Juni 2025.
- ^ a b "Kisah Cerita, Raja Manguyang Maharaja Sakti Kerajaan Sungai Lemau Bengkulu". bintuhan.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ a b Kurniawan, Iman. "Kisah Raja Sungai Lemau, Tuanku Pangeran Mangkuraja dan Perannya Dalam Syiar Islam di Bengkulu". PR Bengkulu. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ "Sejarah Bengkulu: Kisah Kejayaan Kerajaan Sungai Lemau dan Pertempuran Hebat Benteng Marlborough". KopiCurup.Id. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ "Badan Registrasi Wilayah Adat". berita BRWA. Diakses tanggal 2025-06-15.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


