Kerajaan Hulu Aik
Kerajaan Hulu Aik adalah sebuah kerajaan tertua di Kalimantan Barat. Kerajaan tersebut telah ada sejak abad ke-4 Masehi dan sezaman dengan Kerajaan Nansarunai di Kalimantan Selatan, Kerajaan Wijayapura di Sarawak, Kerajaan Kutai Martadipura di Kalimantan Timur, dan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Kerajaan tersebut memiliki 51 orang raja.[1]
Menurut Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca, wilayah kerajaannya meliputi Labai Lawai atau Laman Sembilan Domong Sepuluh (sekarang meliputi Pantai-Darat Kapuas, hulu Kapuas, hulu Landak, Sanggau, Jelai-Kendawangan, Pesaguan, Kayong-Gerunggang, Jokak-Laur, Bihak-Krio, Kalteng).[2]
Kerajaan Hulu Aik memiliki lima rutinitas adat. Pertama, Bacampui Roba, upacara adat membakar ladang. Kedua, Bacampui Makan Bayam-Sawi yakni, upacara adat makan sayur-sayuran. Ketiga, Bacampui Puyak Kanukng Padi, upacara adat padi bunting. Keempat, Bacampui Maharu Padi Baru, upacara adat makan beras baru. Kelima, Maruba, membersihkan pusaka Kerajaan Hulu Aik.[3]
Kerajaan Hulu Aik adalah satu-satunya kerajaan Dayak yang masih berdiri di dunia sampai saat ini. Kerajaan tersebut memiliki peninggalan yang berupa pusaka-pusaka kerajaan dan Prasasti Lingga.[4]
Referensi
- ^ "Maruba Menguak Asal-muasal Kerajaan Hulu Aik". Kabar 65 News.
- ^ "Singa Bansa, Raja Ulu Aik ke-51 : Bukti Raja Lokal Punya Wlayah dan Punya Tanah". Patih Jagapati.
- ^ "Wacanakan Bangun Istana Raja Hulu Aik". Pontianak Post.
- ^ "Ritual Adat Maruba 2024, Merawat Warisan Budaya Kerajaan Hulu Aik". Suara Kalbar.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


