Kentring Manik Mayang

Kentring Manik Mayang atau Kentring Manik Mayang Sunda merupakan istri dari Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Ratu Dewata atau lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Kentring Manik Mayang merupakan putri Prabu Susuk tunggal raja dari Kerajaan Sunda[1] serta memiliki seorang kakak bernama Prabu Amuk Marugul.

Kentring Manik Mayang Sunda memiliki peran penting dalam sejarah penyatuan dua kerajaan besar di tanah Sunda, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Pernikahannya dengan nama Prabu Siliwangi yang merupakan putra mahkota Kerajaan Galuh, menjadi awal dari persatuan dua kerajaan ini. Pada tahun 1482, kedua kerajaan tersebut bersatu di bawah satu kekuasaan, membentuk Kerajaan Pajajaran.[2]

Kentring Manik Mayang Sunda diangkat menjadi permaisuri, mendampingi suaminya Raden Pamanah Rasa, yang kemudian menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja. Dari pernikahannya dengan Sri Baduga Maharaja, Kentring Manik Mayang Sunda dikaruniai tiga orang anak, yakni Surawisesa, Surasowan, dan Surawati.[3] Keturunan mereka, khususnya dari jalur Surawisesa, kelak menjadi raja-raja Pajajaran yang meneruskan kekuasaan setelah Prabu Siliwangi. Peran Kentring Manik Mayang Sunda sebagai permaisuri dan ibu dari penerus kerajaan membuatnya menjadi sosok penting dalam sejarah Sunda dan Galuh. Kerajaan Pajajaran sendiri dikenal dalam sejarah sebagai salah satu kerajaan besar di wilayah Jawa Barat.[2]

Keberadaan Makam Nyi Kentring Manik Mayang Sunda hingga kini terdapat beberapa versi yakni Buniwangi di Kabupaten Bandung dan Gunung Putri di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Masyarakat Bandung, kerap mengaitkan sosok Nyi Kentring Manik dengan penunggu Situ Cisanti yang merupakan hulu Sungai Citarum. Sebagian penduduk Bandung meyakini, sosok Nyi Kentring Manik dikebumikan di sebuah kompleks makam keramat di kawasan Buniwangi. Kisah lain adalah Gunung Putri di Kabupaten Bogor yang disebut sebagai tempat peristirahatan terakhir atau makam dari Kentring Manik Mayang Sunda, yang terdapat sebuah makam tua yang kerap diziarahi masyarakat dari berbagai daerah.[3]

Anak

Pernikahan Prabu Siliwangi dengan Kentring Manik Mayang Sunda memperoleh beberapa anak, akan tetapi yang paling terkenal adalah dua orang putra, yaitu Pangeran Surawisesa dan (2) Sang Surosowan. Pangeran Surawisesa cukup dikenal oleh kalangan sejarawan, sebab putra Prabu Siliwangi dan Kentring Manik Mayang Sunda ini dikemudian hari menjadi Raja Kerajaan Sunda (Pajajaran) pengganti ayahnya Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja).[4]

Sementara Sang Surosowan dikemudian hari menjadi Raja (Pucuk Umun) di Banten, kekuasannya meliputi Banten Pedalaman dan Pasisir, Sang Surasowan berkuasa atas pelabuhan perdagangan laut Banten dan juga mampu mendirikan keraton yang memadai. Sang Surasowan mempunyai dua orang putra dan putri, yaitu Sang Arya Surajaya dan Nyimas Kawunganten. Dikemudian hari Nyimas Kawunganten dalam sejarah Cirebon diperistri oleh Sunan Gunung Jati.[4]

Referensi

  1. ^ Sulasman; Ruhiyat; Wirabudiman, Agus; Syehabudin, Abud; Aripudin, Acep (2017). ISLAMISASI DI TATAR SUNDA Era kerajaan Sukapura (PDF). Jakarta: Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. ; Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ a b rakyatempatlawang.com. "Mengulik Sejarah Kentring Manik Mayang Sunda: Permaisuri yang Menyatukan Kerajaan Sunda dan Galuh". rakyatempatlawang.com. Diakses tanggal 2026-02-26.
  3. ^ a b Heni, Bagea Awi Dan (2024-06-08). "Mengenal sosok Kentring Manik Mayang Sunda, ibu dari Raja-raja Pajajaran". Diakses tanggal 2026-02-26.
  4. ^ a b "Keturunan Prabu Siliwangi dan Kentring Manik Mayang Sunda". 2020-06-23. Diakses tanggal 2026-02-26.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement