Kendari Caddi, Kendari, Kendari
Kendari Caddi | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Sulawesi Tenggara | ||||
| Kota | Kendari | ||||
| Kecamatan | Kendari | ||||
| Kode Kemendagri | 74.71.02.1013 | ||||
| Kode BPS | 7471030011 | ||||
| Luas | ... km² | ||||
| Jumlah penduduk | ... jiwa | ||||
| Kepadatan | ... jiwa/km² | ||||
| |||||
Kendari Caddi adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Kendari, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia.
Lurah
Lurah Kendari Caddi saat ini dijabat oleh Muhammad Sakar, S.Si. Ia merupakan salah satu dari 34 lurah yang ditunjuk sebagai pelaksana harian (Plh) setelah Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu, menonaktifkan dua camat dan 34 lurah pada 21 Agustus 2023.[1] Penonaktifan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kinerja pemerintahan di tingkat kecamatan dan kelurahan. Dalam kapasitasnya sebagai lurah, Muhammad Sakar bertanggung jawab untuk mengelola administrasi dan pelayanan publik di wilayah Kendari Caddi, serta berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Proyek yang menarik perhatian
Salah satu proyek yang menarik perhatian di kawasan ini adalah pembangunan Gerbang Wisata Kendari-Toronipa. Desain awal gerbang ini direncanakan menggunakan bahan beton dengan anggaran sebesar Rp 19 miliar. Namun, seiring berjalannya waktu, desain tersebut mengalami perubahan, dan pada tahun 2023, gerbang dibangun menggunakan papan semen (GRC) dengan anggaran yang melonjak menjadi Rp 32,8 miliar. Perubahan ini menimbulkan pertanyaan mengenai alasan di balik peningkatan biaya dan pergeseran material yang digunakan, mengingat proyek ini merupakan bagian dari rencana pembangunan jalan Kendari-Toronipa yang telah direncanakan sejak tahun 2019 dan menjadi prioritas bagi Gubernur Ali Mazi dan Wakil Gubernur Lukman Abunawas pada periode 2018-2023.[2]
Mengalami kerusakan
Gerbang Wisata Toronipa di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi sorotan publik setelah hanya tujuh bulan diresmikan, gerbang yang menelan anggaran lebih dari Rp 32 miliar ini sudah mengalami kerusakan di sejumlah bagian. Kerusakan tersebut mencakup lubang di beberapa sisi bangunan, dan video amatir yang beredar menunjukkan dinding gerbang yang bolong di bagian luar, serta struktur dalam yang tidak tampak kokoh, mengindikasikan bahwa dinding tersebut tidak terbuat dari bata seperti yang seharusnya.[3]
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menyatakan bahwa kerusakan ini disebabkan oleh perilaku orang yang tidak bertanggung jawab, dan menegaskan bahwa struktur gerbang tidak terbuat dari beton, melainkan diduga menggunakan bahan gypsum, yang membuatnya tampak kosong dari dalam. Dinas Sumber Daya Alam dan Bina Marga Sultra menginformasikan bahwa perbaikan akan dilakukan oleh kontraktor, karena proyek tersebut masih dalam tanggung jawab mereka.
Penjabat Gubernur Sulawesi Tenggara merespons viralnya kondisi gerbang dengan menurunkan tim untuk melakukan audit terhadap pembangunan gerbang Kendari. Proyek ini merupakan bagian dari pembangunan akses pariwisata senilai Rp 1,1 triliun, dan dikerjakan oleh PT Karya Inti Bumi Konstruksi dengan nilai kontrak mencapai Rp 32.809.000.000. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran, serta potensi adanya praktik korupsi dalam proyek pembangunan infrastruktur di daerah tersebut.
Dugaan Korupsi dalam Proyek Gerbang Wisata Toronipa-Kendari
Meskipun baru diresmikan pada Februari 2024, gerbang tersebut sudah mengalami kerusakan signifikan, termasuk dinding yang bolong dan struktur yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang dijanjikan. Kapolda Sultra, Irjen Pol Dwi Irianto, telah memerintahkan penyelidikan untuk mengungkap kemungkinan penyimpangan dalam proyek ini, yang dilaksanakan selama masa jabatan mantan Gubernur Ali Mazi. Penjabat Gubernur Sulawesi Tenggara juga telah menginstruksikan audit terhadap proyek tersebut, sementara pihak kepolisian mengumpulkan informasi dan dokumen untuk menentukan siapa saja yang terlibat dalam pembangunan gerbang yang kini menjadi sorotan publik.[4]
Upaya Perbaikan
Upaya perbaikan tersebut meliputi penambalan beberapa bagian pilar yang bocor. Meskipun pembangunan gerbang ini menelan anggaran sebesar Rp 32 miliar, banyak masyarakat yang terkejut mengetahui bahwa pilar-pilar gerbang tersebut tidak sepenuhnya terbuat dari beton, melainkan memiliki ruang kosong di dalamnya yang hanya dilapisi dengan material gypsum.[5]
Salah seorang warga, Indrayadhi, mengungkapkan kekecewaannya saat mengetahui kondisi pilar gerbang yang selama ini ia kira dibangun dengan campuran beton yang kokoh. Ia juga menyayangkan tindakan oknum yang merusak gerbang, yang telah menjadi salah satu ikon di Kota Kendari. Berdasarkan pantauan, beberapa lubang yang sebelumnya menjadi sorotan masyarakat kini telah diperbaiki, sehingga diharapkan gerbang tersebut dapat kembali berfungsi dengan baik dan menjadi daya tarik wisata yang aman bagi pengunjung.
Referensi
- ^ "Nama-nama Camat Lurah Ditunjuk Wali Kota Kendari Usai Nonaktifkan 36 Pejabat Absen Upacara HUT RI". Tribunnewssultra.com. Diakses tanggal 2025-01-22.
- ^ YUNUS, SAIFUL RIJAL (2024-09-19). "Desain Awal Gerbang Kendari-Toronipa Pakai Beton dan Lebih Murah". kompas.id. Diakses tanggal 2025-01-22.
- ^ "7 Bulan Diresmikan, Gerbang Kendari dengan Anggaran Rp32,8 Miliar Rusak". Kompas.tv. Diakses tanggal 2025-01-22.
- ^ "Dugaan Korupsi, Gerbang Kendari-Toronipa Rp 33 Miliar Rusak Dinilai Tak Sesuai dengan Kualitas".
- ^ Agency, ANTARA News (2024-09-11). "Gerbang jalan Kendari-Toronipa yang viral karena rusak kini diperbaiki". Antara News Sultra. Diakses tanggal 2025-01-22.
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



