Kelenteng Tjoe Hwie Kiong
| Tempat Ibadah Tridharma Tjoe Hwie Kiong | |
|---|---|
![]() Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Kota Kediri | |
| Informasi umum | |
| Gaya arsitektur | Kelenteng |
| Lokasi | |
| Alamat | Jalan Yos Sudarso No 148 Kota Kediri, Jawa Timur |
| Mulai dibangun | Abad ke-19 M |
| Data teknis | |
| Jumlah lantai | 1 |
Kelenteng Tjoe Hwie Kiong adalah salah satu kelenteng serta bangunan lawas di Kota Kediri yang dibangun sekitar Abad 19 Masehi. Umur dari kelenteng ini sudah mencapai 200 tahun.
Sejarah
Di Kediri terdapat Klenteng yang didirikan sekitar tahun 1817 dan tidak diketahui siapa nama pendirinya karena dari usia Klenteng sendiri yang sudah mencapai 200 tahun. Cerita di mulai ketika China pada saat itu sedang mengalami kondisi yang tidak baik karena masalah perekonomian dan terjadi perang saudara.
Dari situlah ada seorang musafir dari Tiongkok yang singgah ke Kota Kediri yang dulunya masuk dalam jalur perdagangan melalui jalur air yang melintas di Sungai Brantas. Musafir membawa dewa mereka yakni Dewi Laut atau Thian Sang Sing Bo karena sudah menjadi suatu kebiasaan musafir atau perantau dari China untuk membawa dewa mereka untuk melakukan ibadah dan mendrikan tempat sederhana untuk berdo'a.
Tepat di sekitaran Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Pakelan, Kota Kediri tempat musafir Tiongkok mendirikan tempat sederhana untuk ibadah . Lambat laun semakin banyak Dewa atau Dewi yang ada di tempat ibadah itu karena teman seperjuangan musafir Tiongkok ketika bepergian selalu membawa Dewa atau Dewi Mereka. Rekan-rekan musafir Tiongkok datang dan membawa Dewa atau Dewi masing_masing, seperti Dewi Laut atau Thian Sang Sing Bo, Dewi Kwang in, Dewa Kwan Kong hingga pra nabi agung. Karena semakin banyak Dewa atau Dewi yang ada di sana tempat para Dewa atau Dewi ditata. Mulai dari Dewi Thian Sang Sing Bo sebagai tuan rumah terletak di tengah bangunan utama menghadap ke Sungai Brantas berdasarkan pertama kali musafir meletakkan Dewi Thian Sang Sing Bo persis di sisi Sungai Brantas inilah yang menjadi alas an kenapa Klenteng berada tepat di sisi timur Sungai Brantas.
Arsitektur dan tata ruang
Bangunan Kelenteng Tjoe Hwie Kiong menunjukkan karakter arsitektur tradisional kelenteng Tionghoa yang telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan pesisir serta iklim tropis Jawa Timur. Denah bangunan memanjang ke belakang dengan ruang serambi di depan yang menjadi area transisi sebelum memasuki ruang suci utama. Sistem struktur bangunan menggunakan rangka kayu sebagai penyangga utama dengan sambungan tradisional tanpa paku yang umum ditemukan pada kelenteng-kelenteng tua di Nusantara.[1]
Atap bangunan utama menggunakan genteng bergelombang khas kelenteng Tionghoa dengan hiasan ornamen naga, burung Fenghuang, dan motif flora yang dianggap melambangkan kesejahteraan, pelindung dari energi negatif, serta keseimbangan kosmologis. Warna dominan merah dan emas secara tradisional mewakili keberuntungan dan kemakmuran dalam praktik keagamaan Tridharma.[2]
Elemen pintu, jendela, serta hiasan relief di muka bangunan menunjukkan perpaduan antara tradisi ukir asal Tionghoa dan detail ornamen lokal Jawa Timur, sebuah indikasi proses akulturasi budaya yang berlangsung di komunitas Tionghoa Kediri sejak awal abad ke-19.
Praktik ritual dan kosmologi
Kelenteng Tjoe Hwie Kiong tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat ritual sosial budaya bagi komunitas Tionghoa di Kediri. Dewi Laut atau Thian Sang Sing Bo dipuja sebagai pelindung para pelaut, pedagang, dan musafir. Penempatan altar utama Dewi Thian Sang Sing Bo yang menghadap ke arah Sungai Brantas mencerminkan keterkaitan kuat antara kepercayaan pelaut/pedagang dan arsitektur tempat ibadah mereka.
Selain Dewi Thian Sang Sing Bo, kelenteng ini juga menempatkan berbagai dewa dan dewi lain seperti Dewi Kwan Im, Dewa Kwan Kong, serta tiga “nabi agung”, masing-masing dipuja sesuai kebutuhan spiritual umat. Pola pemujaan yang fleksibel ini mencerminkan karakter Tridharma sebagai tradisi religius yang mengakomodasi beragam dewa tanpa aturan pusat yang ketat.[3]
Aktivitas sembahyang di sini umumnya dilakukan dengan persembahan berupa buah-buahan, dupa, minyak, dan kertas persembahan. Masyarakat kerap datang untuk berdoa memohon keselamatan, kemakmuran, serta berkah perjalanan, terutama menjelang musim pelayaran atau hari-hari besar keagamaan seperti Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh.
Peran sosial budaya
Kelenteng Tjoe Hwie Kiong memainkan peran penting dalam menjaga solidaritas komunitas Tionghoa di Kota Kediri. Selain fungsi keagamaan, kelenteng ini menjadi wadah interaksi sosial, pendidikan budaya, dan pelestarian tradisi keluarga Tionghoa keturunan Jawa Timur. Kegiatan sosial seperti bazar amal, perayaan komunitas, serta kegiatan lintas etnis turut digelar di kompleks kelenteng, menjadikannya turut berkontribusi pada harmoni budaya lokal.
Sebagai situs historis, kelenteng ini turut menjadi tujuan wisata sejarah dan budaya, menarik pengunjung lokal maupun nasional yang ingin memahami sejarah komunitas Tionghoa di pesisir Jawa Timur, serta hubungan historis antara migrasi, perdagangan, dan religi di Nusantara.
Konteks sejarah dan kajian akademik
Sejarah panjang Kelenteng Tjoe Hwie Kiong telah menjadi perhatian dalam kajian sejarah lokal dan antropologi budaya. Beberapa penelitian di repositori akademik Indonesia, termasuk karya studi yang dimuat dalam jurnal sejarah dan arsitektur, menempatkan kelenteng ini sebagai contoh penting bagaimana komunitas Tionghoa di luar wilayah metropolitan Jakarta dan Surabaya tetap mempertahankan identitas budaya dan keagamaan sejak permulaan abad ke-19.
Dalam perspektif sumber primer dan sekunder, narasi lisan tradisional tentang musafir Tiongkok yang membawa Dewi Thian Sang Sing Bo dan mendirikan tempat ibadah sederhana di tepian Sungai Brantas menjadi bukti penting proses migrasi, adaptasi budaya, dan pembentukan komunitas etnis di kawasan pesisir Jawa Timur.
Pelestarian
Sebagai salah satu kelenteng tua di Jawa Timur, Kelenteng Tjoe Hwie Kiong menjadi bagian dari warisan arsitektur komunitas Tionghoa di Indonesia. Upaya pelestarian bangunan dilakukan oleh pengurus kelenteng bekerja sama dengan tokoh masyarakat setempat, termasuk perbaikan struktur kayu, konservasi ornamen hias, dan pemeliharaan fungsi ritual agar sesuai dengan praktik tradisional tanpa merusak nilai historis bangunan.
Perhatian akademik dan antusiasme khalayak terhadap sejarah kelenteng ini juga mendorong penyusunan dokumentasi arsitektur dan sejarah oral yang lebih sistematis, guna mendukung pelestarian baik secara fisik maupun naratif.
- ^ Handinoto. 2010. “Arsitektur Pecinan di Jawa.” Dimensi Teknik Arsitektur 38(2).
- ^ Pratiwo & S. Nazir. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Yogyakarta: Ombak.
- ^ "Kisah Thian Sang Sing Bo, Penghuni Pertama Klenteng Kediri". Pemerintah Kota Kediri. Diakses tanggal 23 Januari 2026.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



