Kelenteng Tan Seng Ong
Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus. |
| Tan Seng Ong Bio | |
|---|---|
陳聖王廟 | |
Klenteng Tan Seng Ong | |
| Agama | |
| Afiliasi | Tridharma |
| Wilayah | Jakarta |
| Dewa | Tan Seng Ong |
| Lokasi | |
| Lokasi | Glodok, Jakarta |
| Negara | Indonesia |
| Arsitektur | |
| Tipe | Klenteng |
| Gaya | Tionghoa |
| Didirikan | 1757 |
Tan Seng Ong Bio (Hanzi: 陳聖王廟) atau Vihara Tanda Bhakti adalah salah satu Klenteng Tionghoa tertua di Jakarta, Indonesia. Klenteng ini berlokasi di Jalan Kemenangan III kawasan Pecinan Glodok, Indonesia.
Sejarah
Klenteng Tan Seng Ong / Chen Shi Zu Miao (陳氏祖廟) / Vihara Tanda Bhakti
Berlokasi di pinggir kali Krukut, tepatnya di Jl. Kemenangan III Gang 6 no 97, Blandongan, Kelenteng ini memiliki tampilan arsitektur yang unik.
Klenteng Tan Seng Ong ini juga merupakan (tuan) rumah bagi sang Dewa Pelindung, Tan Seng Ong.
Menurut buku Da Jiang Hao Hai Yin Hua Fung Yu, Klenteng Tan Seng Ong berdiri sejak 1756.
Dibangun pasca peristiwa Geger Pecinan, suatu peristiwa sadis pembunuhan lebih dari sepuluh ribu etnis Tionghoa di Batavia oleh tentara Belanda pada saat itu. Akibatnya sebagian besar orang Tionghoa yang bermukim di Batavia dan Jawa Barat menjadi orang pelarian ke daerah sekitar Jawa Tengah dan ikut serta memberontak dan menentang Belanda.
Mereka lalu bergabung dengan masyarakat suku Jawa yang juga melawan VOC dan mengobarkan Perang Sepanjang di pulau Jawa, yang berlangsung selama 4 tahun (1740-1743).
Pasca peristiwa tersebut, selama beberapa tahun Batavia menjadi kota mati. Setiap hari masyarakat Tionghoa sembahyang kepada Dewata yang dibawa serta dari kampung halaman, salah satunya yaitu Tan Seng Ong.
Sedikit mengenai riwayatnya, dulunya Tan Seng Ong yang kelahiran tahun 657 dan hidup sampai tahun 711 adalah seorang pejabat militer dan pendiri daerah Zhang Zou, Provinsi Fujian di Tiongkok. Beliau bernama Chen Yuan Guang, yang hidup pada jaman Dinasti Tang, masa pemerintahan Kaisar wanita Wu Ze Tian.
Di Indonesia, pemujaan terhadap beliau dimulai dari kaum imigran Hokian yang bermarga Tan (Chen) yang berasal dari Zhang Zhou dan Quan Zhou, yang meninggalkan kampung halaman dan menyeberangi lautan untuk mencari mata pencaharian dan membawa serta budaya penyembahannya ke tempat pemukiman baru untuk sembahyang meminta dan berharap agar masyarakat setempat juga terlindungi, hidup selamat, harmonis dan aman sentosa.
Komunitas Hokkian di Batavia pada masa itu cukup besar, mereka pada masa yang suram dan penuh derita itu ikut serta membangun Batavia dengan salah satu peninggalannya adalah Klenteng Tan Seng Ong ini.
Bio Tan Seng Ong Jakarta adalah lambang, tanda dan gambaran pergulatan hidup nenek moyang Tionghoa sejak ratusan tahun lalu, dengan jerih payah menebas onak dan duri, mengatasi bencana dan musibah khususnya pasca Peristiwa Geger Pecinan dan terus bertahan hingga saat ini.
Sejak tahun 2014 lalu, Klenteng Tan Seng Ong mendapatkan pengakuan khusus dari Pemerintah Indonesia melalui Pemprov DKI Jakarta, menjadikan kelenteng ini sebagai salah satu warisan sejarah dan ragamnya budaya yang bernilai di tanah air.
Daftar Altar
- Thian Kong
- Tan Seng Ong
- Chen Ciu Kwan Im
- Macopoh
- Ba Xian
- Buddha, Avalokitesvara, Ksitigarbha
- Thai Siang Lo Kun
- Bun Ciang Tee Kun
- Hua Tho
- Hok Tek Ceng Sin
- Hian Thian Siang Tee
- Kong Tek Cun Ong
- Kwan Seng Tee Kun
- Thai Sui Seng Kun
- Bu Ciong Kun
- Tu Ti Pak Kung
Referensi
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.




