Kedhuk Beji

Kedhuk Beji atau dikenal juga dengan sebutan Keduk Beji adalah tradisi upacara adat tahunan masyarakat Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, yang bertujuan untuk membersihkan dan menjaga kelestarian sumber mata air suci (sendang). Tradisi ini telah diakui sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2020.[1]

Sejarah

Menurut legenda lokal, Sendang Tawun pertama kali ditemukan oleh Ki Ageng Metawun dan dikelola oleh putranya, Raden Ludrojoyo, pada abad ke‑15.[2] Saat Ludrojoyo melakukan tapa kungkum hingga menghilang, dipercaya bahwa sendang bergeser lokasinya ke tempat yang saat ini dikenal sebagai Sendang Tawun. Sejak saat itu, masyarakat memaknai keberadaan sendang sebagai berkah berkelanjutan, dan menggelar upacara pembersihan tahunan sebagai penghormatan dan bentuk syukur.[3]

Pelaksanaan

Pelaksanaan Kedhuk Beji berlangsung selama lima hari, dimulai dari Kamis Kliwon hingga Selasa Kliwon pada bulan Sura kalender Jawa.[4] Prosesi dimulai dengan doa dan selamatan, dilanjutkan dengan gotong royong membersihkan area sendang dan mandi lumpur oleh warga. Pada puncaknya, juru kunci atau keturunan Ludrojoyo melakukan penyilepan (menyelam) ke dasar sendang untuk menukar kendi lama dengan kendi baru berisi air. Ritual ini dilengkapi dengan sesaji berupa kambing yang disembelih dan kepala kambing yang diletakkan di lubang sendang.[5] Di sela-sela acara juga diisi dengan hiburan tradisional dan pementasan Tari Kecetan.[2]

Nilai dan fungsi budaya

Kedhuk Beji sarat akan nilai spiritual—sebagai bentuk syukur dan permohonan kesejahteraan—serta nilai ekologis, yaitu menjaga kelestarian air dan lingkungan sekitarnya.[6] Secara sosial, tradisi ini mempererat solidaritas masyarakat melalui kegiatan gotong royong dan prosesi bersama. Secara edukatif, ritual ini menjadi sarana pengenalan nilai sejarah desa dan penghormatan terhadap leluhur seperti Raden Ludrojoyo.[butuh rujukan]

Pelestarian

Sejak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2020 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, tradisi Kedhuk Beji mendapatkan perhatian lebih dalam hal pelestarian.[7] Pemerintah Kabupaten Ngawi secara aktif mendorong pemajuan budaya lokal melalui pendokumentasian, penguatan kelembagaan adat, dan integrasi kegiatan budaya ke dalam agenda tahunan pariwisata daerah.[butuh rujukan]

Selain itu, pelestarian tradisi ini juga dilakukan melalui pendekatan edukatif dan partisipatif dengan melibatkan lembaga pendidikan, sanggar seni, serta masyarakat umum agar nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap terwariskan kepada generasi muda. Penyelenggaraan ritual Kedhuk Beji kini tidak hanya sebagai bagian dari siklus budaya lokal, tetapi juga menjadi wahana promosi potensi wisata budaya Kabupaten Ngawi, khususnya destinasi wisata religi dan ekologi di sekitar Sendang Tawun.[butuh rujukan]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2019). "Kedhuk Beji". Diakses tanggal 18-06-2025.
  2. ^ a b Kurnia, Ardian Dwi. "Tradisi Keduk Beji Sendang Tawun Ngawi Dipercaya Tolak Bala Warga". detikjatim. Diakses tanggal 2025-06-18.
  3. ^ Setyawan, Dony (2022-09-06). "Keduk Beji, Desa Tawun, Tradisi dan Pelestarian Budaya". SUARA NGAWI (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-18.
  4. ^ "Mengulik Upacara Adat Jawa Timur Keduk Beji, Mulai dari Sejarah hingga Tradisinya - Bobo". bobo.grid.id. Diakses tanggal 2025-06-18.
  5. ^ "RITUAL KEDUK BEJI SENDANG TAWUN". Desa Kiyonten Kecamatan Kasreman Kabupaten Ngawi. Diakses tanggal 2025-06-18.
  6. ^ Fadilah, Hani (24-12-2024). "Keduk Beji Tawun, Wujud Syukur atas Karunia Sumber Mata Air". RRI. Diakses tanggal 18-06-2025.
  7. ^ Setyawan, Dony (2020-11-17). "Keduk Beji, Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) 2020 Oleh Kemendikbud RI". Pemerintah Kabupaten Ngawi (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-18.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement