Kebaikan dan kejahatan

Dalam banyak agama, malaikat dianggap makhluk baik.
Dan setan umumnya dipandang sebagai makhluk jahat.

Dalam filsafat, agama, dan psikologi, "kebaikan dan kejahatan" merupakan dikotomi umum. Dalam agama-agama yang dipengaruhi oleh Manikheisme dan Abrahamik, kejahatan dianggap sebagai kebalikan dari kebaikan, yang mana kebaikan harus menang dan kejahatan harus dikalahkan.[1]

Kejahatan sering digunakan untuk menunjukkan amoralitas yang mendalam.[2] Kejahatan juga digambarkan sebagai kekuatan supernatural.[2] Definisi kejahatan bervariasi, seperti halnya analisis motifnya.[3] Namun, unsur-unsur yang umumnya dikaitkan dengan kejahatan melibatkan perilaku tidak seimbang yang melibatkan kemanfaatan, keegoisan, ketidaktahuan, atau kelalaian.[4]

Studi utama tentang kebaikan dan kejahatan (atau moralitas) adalah etika, yang memiliki tiga cabang utama: etika normatif tentang bagaimana kita seharusnya berperilaku, etika terapan tentang isu-isu moral tertentu, dan metaetika tentang hakikat moralitas itu sendiri.[5]

Lihat pula

Catatan

  1. ^ Ingram, Paul O.; Streng, Frederick John (1986). Buddhist-Christian Dialogue: Mutual Renewal and Transformation. Honolulu, Hawaii: University of Hawaii Press. hlm. 148–149.
  2. ^ a b "Evil". Oxford, England: Oxford University Press. 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-08-22.
  3. ^ Staub, Ervin (2011). Overcoming Evil: Genocide, Violent Conflict, and Terrorism. New York City: Oxford University Press. hlm. 32. ISBN 978-0195382044.
  4. ^ Matthews, Caitlin; Matthews, John (2004). Walkers Between the Worlds: The Western Mysteries from Shaman to Magus. Rochester, Vermont: Inner Traditions / Bear & Co. hlm. 173. ISBN 978-0892810918.
  5. ^ Internet Encyclopedia of Philosophy "Ethics"

Referensi

  • Anders, Timothy (1994). The evolution of evil. Chicago: Open Court. ISBN 9780812691757.
  • Atkinson, Philip. Recognising Good And Evil from ourcivilisation.com
  • Aristotle. "Nicomachean Ethics". 1998. US: Oxford University Press. (1177a15)
  • Bentham, Jeremy. The Principles of Morals and Legislation. 1988. Prometheus Books.
  • Boyce, Mary (1979). Zoroastrians: Their Religious Beliefs and Practices. London: Routledge/Kegan Paul. Corrected repr. 1984; repr. with new foreword 2001.
  • Dewey, John. Theory of Valuation. 1948. University of Chicago Press.
  • Durant, Ariel and W. Durant. The Lessons of History. 1997. MJF Books. (p72)
  • Garcia, John David. The Moral Society — A Rational Alternative to Death. 2005. Whitmore Publishing.
  • Griffin, James. Well-Being: Its Meaning, Measurement and Moral Importance. 1986. Oxford: Oxford University Press.
  • Hume, David. A Treastise of Human Nature. 2000. Oxford: Oxford University Press.
  • Hurka, Thomas. Perfectionism. 1993. Oxford: Oxford University Press.
  • Kant, Immanuel. Groundwork of the Metaphysic of Morals. 1996. Cambridge University Press. Third section, [446]-[447].
  • Kierkegaard, Søren. Either/Or. 1992. Penguin Classics.
  • Rawls, John. A Theory of Justice. 1999. Belknap Press.
  • Romero, Rhys. "Just Being a Student". 2009. Austin Student Press.

Bacaan lebih lanjut

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement