Kasampurnan Ketuhanan Awal dan Akhir
Organisasi Kasampurnan Ketuhanan Awal dan Akhir merupakan salah satu organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berkembang di Indonesia pada paruh kedua abad ke-20.[1] Organisasi ini didirikan pada tanggal 1 September 1971 di Tuban, Jawa Timur oleh Hadiprayitno. Selain sebagai pendiri, Hadiprayitno juga dikenal sebagai penerima dan pengamal utama ajaran Kasampurnan Ketuhanan Awai dan Akhir. Sebelum mendirikan organisasi tersebut, Hadiprayitno pernah bekerja sebagai pegawai Inspeksi Pendidikan Dasar di Kabupaten Tuban. Latar belakangnya sebagai aparatur pendidikan turut memengaruhi pendekatannya dalam menyampaikan ajaran, yang kemudian berkembang di kalangan masyarakat sekitar.[2][3]
Latar belakang
Ajaran Kasampurnan Ketuhanan Awal dan Akhir diyakini bersumber dari tradisi spiritual Jawa yang dikaitkan dengan tokoh pujangga Keraton Surakarta, yaitu Raden Ngabei Ronggowarsito. Ajaran ini dikatakan awalnya dikenal di lingkungan kerabat raja dan abdi dalem keraton sebelum kemudian diperluas ke masyarakat umum. Hadiprayitno, tokoh yang kemudian menjadi pendiri organisasi yang mempelajari ajaran ini, menerima ajaran tersebut melalui perantara tokoh bernama Bakri, yang menurut penuturan internal organisasi menerima dari seorang abdi dalem keraton. Hadiprayitno menjalani praktik spiritual berupa semedi dan manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa selama beberapa tahun, dan pada tahun 1942 dikatakan mencapai tingkatan manunggal, yakni konsep persatuan dengan Tuhan menurut kepercayaan tradisional Jawa. Ajaran ini kemudian dibawa ke masyarakat luas dan memicu pembentukan Organisasi Kasampurnan Ketuhanan Awal dan Akhir yang resmi berdiri pada tahun 1971 sebagai tempat pembelajaran dan pengamalan ajaran tersebut secara teratur. Setelah Hadiprayitno wafat pada Januari 1979, kepemimpinan organisasi dilanjutkan oleh putranya, Kardono Sosrohadiwidjojo. [4][5]
Tujuan
Secara umum, tujuan Organisasi Kasampurnan Ketuhanan Awai dan Akhir adalah untuk mempertinggi derajat manusia agar menjadi pribadi yang berakhlak baik serta memiliki ikatan batin yang kuat sebagai warga Kasampurnan. Penekanan utama ajaran terletak pada pembinaan jiwa yang bersih, yaitu jiwa yang mampu melepaskan diri dari pengaruh keduniawian dan senantiasa bersyukur atas anugerah yang diterima. Ajaran ini menekankan pentingnya kesadaran spiritual yang diwujudkan melalui laku batin, pengendalian diri, serta sikap moral yang luhur dalam kehidupan sehari-hari. Dalam praktiknya, para pengikut diarahkan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, memohon ampun atas kesalahan, dan menumbuhkan rasa terima kasih atas karunia yang diterima.[5]
Referensi
- ^ ACHMAD, SRI WINTALA (2017). Filsafat Jawa : Menguak Filosofi, Laku Hidup, dan Ajaran Leluhur Jawa. Araska Publisher. ISBN 978-602-300-383-9.
- ^ Akhir (Organization), Kerokhanian Kasampurnan Ketuhanan Awal dan (1980). Kerokhanian Kasampurnan Ketuhanan Awal dan Akhir. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
- ^ Resume ajaran dan keterangan singkat organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di seluruh Propinsi Jawa Timur. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 1986.
- ^ Pengkajian nilai-nilai luhur budaya spiritual bangsa Propinsi Jawa Timur. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998.
- ^ a b Ensiklopedi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 2006. ISBN 978-979-16071-1-7.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


