Kanal Van der Wijck

| Kanal Van der Wijck | |
|---|---|
| ꦧꦸꦏ꧀ꦫꦺꦤ꧀ꦠꦺꦁ | |
| Banyurejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta di Indonesia | |
| Koordinat | 7°44′55″S 110°13′30″E / 7.74861°S 110.22500°E |
| Jenis | Kanal irigasi dan bangunan pengatur air |
| Informasi situs | |
| Pemilik | Pemerintah Republik Indonesia |
| Operator | Balai Besar Wilayah Sungai Serayu–Opak |
| Dikontrol oleh | Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat |
| Terbuka untuk umum | Ya |
| Kondisi | Bangunan Bersejarah |
| Riwayat situs | |
| Dibangun | 1909 |
Kanal Van der Wijck atau Buk Renteng (bahasa Jawa: ꦧꦸꦏ꧀ꦫꦺꦤ꧀ꦠꦺꦁ) adalah saluran irigasi peninggalan kolonial yang dibangun sekitar tahun 1909 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Sebutan Buk Renteng diberikan oleh masyarakat setempat dan merujuk pada bentuk saluran air yang berderet memanjang. Nama resminya diambil dari Carel Herman Aart van der Wijck, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjabat pada periode 1893–1899 dan dianggap sebagai tokoh yang memprakarsai pembangunan kanal ini.[1] Saluran ini masih aktif digunakan hingga saat ini dan menyuplai air untuk sekitar 20.000 hektare lahan pertanian. Hulu selokan terletak di Bendungan Karang Talun di Desa Bligo, yang merupakan pintu pengambilan air dari Sungai Progo. Saat ini, selokan ini telah ditetapkan sebagai bagian dari bangunan bersejarah non-gedung oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.[2]
Konstruksi dan Teknologi
Buk Renteng (Kanal Van der Wijck) dibangun menggunakan teknologi gravitasi bumi sebagai prinsip utama pengaliran air. Konstruksinya yang terletak lebih tinggi dari jalan dan area pertanian sekitarnya memungkinkan air mengalir secara alami tanpa menggunakan tenaga mekanik. Kanal ini memiliki panjang sekitar 17 kilometer, lebar 2,5 meter, dan kedalaman 2 hingga 3 meter, serta berada pada elevasi sekitar 4 meter di atas permukaan laut. Teknologi ini menjadi bentuk inovasi irigasi pada masa kolonial, yang masih fungsional hingga kini.[3]
Peran Strategis di Wilayah Pertanian
Buk Renteng (Kanal Van der Wijck) memainkan peran penting dalam sistem pertanian di wilayah barat Yogyakarta, khususnya di Kecamatan Moyudan, Sleman. Nama Moyudan sendiri dipercaya berasal dari tokoh bangsawan Keraton Yogyakarta, Kusumoyudo. Kanal ini telah mendukung irigasi sekitar 20.000 hektare sawah, memungkinkan produksi pertanian seperti padi dengan hasil hingga 7 ton per 1,25 hektare, serta tembakau dengan produktivitas tinggi. Keberadaan selokan ini menjadi faktor pendukung utama dalam kemakmuran sektor pertanian di daerah tersebut.[3]
Manfaat dan Dampak Sosial
Selain irigasi pertanian, Buk Renteng (Kanal Van der Wijck) juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Saluran ini menyuplai kebutuhan air rumah tangga, perikanan, hingga pertanian hortikultura. Pada 16 Oktober 2024, aliran air selokan ini kembali dibuka setelah sempat direncanakan untuk ditutup selama satu bulan dalam rangka pengeringan lima tahunan. Penutupan sementara tersebut berdampak langsung pada menurunnya produktivitas pertanian, yang menunjukkan betapa vitalnya peran selokan ini dalam mendukung keseharian masyarakat.[3]
Galeri
-
Kanal Van der Wijck dilihat dari bawah -
Kanal Van der Wijck dilihat dari atas sungai -
Ailran air dari Kanal Van der Wijck -
Kanal Van der Wijck tampak bawah -
Pemandangan dari Kanal Van der Wijck
Referensi
- ^ Liputan6.com (2025-05-20). "Buk Renteng, Saluran Irigasi yang Dibangun pada Masa Kolonial". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-06-15. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ "JOGJACAGAR | Sistem Informasi Cagar Budaya". jogjacagar.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ a b c Milagsita, Anindya. "Sejarah Selokan Van Der Wijck Jogja yang Dikenal dengan Nama Buk Renteng". detikjogja. Diakses tanggal 2025-06-15.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


