Kabupaten Muara Enim

Kabupaten Muara Enim
Lematang Ilir Ogan Tengah ( LIOT )
Transkripsi bahasa daerah
 • Surat Uluꤸꥈꥀꥍꤽꥍ ꥆꥉꤵꥇꤸ꥓
 • Abjad Jawiموارا آنيم
Wisata Danau Shuji - Muara Enim
Wisata Danau Shuji - Muara Enim
Lambang resmi Kabupaten Muara Enim
Motto: 
Serasan sekundang
(Bahasa Besemah) Senasib untuk berkorban dan sepenanggung jawab untuk membangun daerah
Peta
Peta
Kabupaten Muara Enim di Sumatra
Kabupaten Muara Enim
Kabupaten Muara Enim
Peta
Kabupaten Muara Enim di Indonesia
Kabupaten Muara Enim
Kabupaten Muara Enim
Kabupaten Muara Enim (Indonesia)
Koordinat: 4°13′58″S 103°36′51″E / 4.2327°S 103.6141°E / -4.2327; 103.6141
Negara Indonesia
ProvinsiSumatera Selatan
Tanggal berdiri26 Juni 1959[1]
Dasar hukumUU No. 28 Tahun 1959[1]
Hari jadiNovember 20, 1946; 79 tahun lalu (1946-11-20)
Ibu kotaKecamatan Kota Muara Enim
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kecamatan: 22
  • Kelurahan: 10
  • Desa: 246
Pemerintahan
 • BupatiEdison
 • Wakil BupatiSumarni
 • Sekretaris DaerahIr. Yulius, M.Si.
Luas
 • Total6.764 km2 (2,612 sq mi)
Populasi
 • Total653.731
 • Kepadatan97/km2 (250/sq mi)
Demografi
 • AgamaIslam 96,34%
Kristen 1,71%
- Protestan 1,20%
- Katolik 0,51%
Buddha 1,63%
Hindu 0,30%
Konghucu 0,01%
Lainnya 0,01%[2]
 • IPMKenaikan 69,43 (2022)
sedang[3]
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode BPS
1603 Suntingan nilai di Wikidata
Kode area telepon0734
0713
Pelat kendaraanBG xxxx D** ( Masih Digunakan ) BG "xxxx" O** ( Tidak lagi digunakan)
Kode Kemendagri16.03 Suntingan nilai di Wikidata
DAURp627.992.666,- (2023)[4]
Situs webwww.muaraenimkab.go.id

Kabupaten Muara Enim ( Sebelum-nya Bernama Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah/LIOT ) (Surat Ulu: ꤸꥈꥀꥍꤽꥍ ꥆꥉꤵꥇꤸ꥓ Jawi: موارا آنيم) adalah sebuah kabupaten di provinsi Sumatera Selatan, Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam. Ibu kota kabupaten ini terletak di kecamatan Kota Muara Enim. Kabupaten ini adalah salah satu kabupaten dengan jumlah tetangga kabupaten terbanyak di Indonesia dan salah satu kabupaten yang memiliki daerah eksklave di Indonesia yaitu Kecamatan Gelumbang, Kelekar, Lembak, Sungai Rotan, Belida Darat dan Muara Belida akibat pembetukan Daerah Otomomi Baru (DOB) Kabupaten PALI dan peningkatan status kota administratif (Kotif) Kota Prabumulih. Kantor Pusat Pertambangan Batu Bara PT Bukit Asam berada di kabupaten ini, tepatnya di Kelurahan Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, sekitar 15 Kilometer dari Ibukota Kabupaten. Jumlah penduduk Kabupaten Muara Enim pada tahun 2021 adalah sebanyak 653.731 jiwa.[2] Kabupaten ini juga dijuluki sebagai Bumi Serasan Sekundang.

Geografi

Secara geografis posisi Kabupaten Muara Enim terletak antara 4° sampai 6° Lintang Selatan dan 104° sampai 106° Bujur Timur.[5] Kabupaten Muara Enim merupakan daerah agraris dengan luas wilayah 7.483,06 km², terdiri atas 22 kecamatan, 246 desa, dan 10 kelurahan.[6] Bumi Serasan Sekundang memiliki batas wilayah:

Batas Wilayah

Berikut adalah batas wilayah Kabupaten Muara Enim:

Utara Banyuasin, Kota Palembang, dan PALI Sumatera Selatan,
Timur OKU, Ogan Ilir, dan Kota Prabumulih Sumatera Selatan,
Selatan OKU Selatan, Sumatera Selatan, dan Kaur, Bengkulu
Barat Musi Rawas, Lahat, dan Kota Pagar Alam Sumatera Selatan

Kondisi topografi daerah cukup beragam. Daerah dataran tinggi di bagian barat daya yang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan, meliputi Kecamatan Semende Darat Laut, Semende Darat Ulu, Semende Darat Tengah, dan Kecamatan Tanjung Agung. Daerah dataran rendah bermula dari bagian tengah (Muara Enim, Ujan Mas, Benakat, Gunung Megang, Rambang Dangku, Rambang, Lubai) terus ke utara–timur laut di mana terdapat daerah rawa yang berhadapan langsung dengan daerah aliran Sungai Musi, meliputi Kecamatan Gelumbang, Sungai Rotan, dan Muara Belida.

Pemerintahan

Pada awal terbentuknya, Kabupaten Muara Enim bernama Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah (LIOT). Terbentuknya Kabupaten Muara Enim berawal dari panitia Sembilan sebagai realisasi surat Keputusan Bupati Daerah Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah tanggal 20 November 1946, hasil karya panitia tersebut disimpulkan dalam bentuk laporan yang terdiri dari 10 bab, dangan judul Naskah Hari Jadi Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah dan telah dikukuhkan dengan surat keputusan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah tanggal 14 Juni 1972 No. 47/Deshuk/1972. Tanggal 20 November tersebut kemudian menjadi dasar hari jadi Kabupaten Muara Enim. Namun, dasar hukum pembentukan Kabupaten Muara Enim juga tertuang dalam Undang-undang nomor 28 tahun 1959, tanggal 26 Juni 1959.[1]

Kabupaten Muara Enim sebelumnya terdiri dari 22 kecamatan[7] kemudian pada tahun 2012 bertambah tiga kecamatan, yaitu Belimbing, Belida Darat, dan Lubai Ulu, sehingga menjadi 25 kecamatan, dan menjadi 20 kecamatan sejak keluarnya UU Nomor 7 Tahun 2013, di mana lima kecamatan dalam kabupaten ini, yaitu Talang Ubi, Penukal Utara, Penukal, Abab, dan Tanah Abang, bergabung membentuk kabupaten sendiri yaitu Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir,[8] serta terakhir menjadi 22 kecamatan dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Kabupaten Muara Enim Nomor 10 Tahun 2018.[9]

Daftar Bupati

No Potret Bupati Mulai Jabatan Akhir Jabatan Prd. Ket. Wakil Bupati
1
Amaludin
1950
1956
1
2
Aziz
1956
1958
2
3
Abbas Ali Rachman
1958
1958
3
4
Ahmad Wani
1958
1965
4
5
Ahmad Kasim Djaki
1965
1974
5
6
Asnawi Mangkualam
1974
1975
6
7
Muhammad Sai Sohar
1975
1980
7
1980
1985
8
8
Nang Ali Solichin
1985
1990
9
9
H.
Hasan Zen
S.H., M.M.
1990
1995
10
1995
1998
11
10
Ramli Hasan Basri (Ct) 1998 1998 -
11
Sofyan Effendi
1998
2003
12
12
H.
Kalamudin Djinab
S.H., M.H.
2003
2008
13
Ir. H. Hanan Zulkarnain, MTP
2008
27 Mei 2009
14
[Ket. 1]
Ir. H. Muzakir Sai Sohar
13
Ir. H. Muzakir Sai Sohar
2009
2013
H. Nurul Aman, S.H.
2013
2018
15
H. Nurul Aman, S.H.
14
Teddy Meilwansyah
S.STP., M.M.
21 Juni 2018
18 September 2018
-
[Ket. 2]
[10]
15
Ir. H.
Ahmad Yani
M.M.
18 September 2018
3 September 2019
16
[11]
H.
Juarsah
S.H.
16
H.
Juarsah
S.H.
4 September 2019
16 September 2019
[Ket. 3]
[12]
16 September 2019
11 Desember 2020
[Ket. 4]
[13]
11 Desember 2020
16 Februari 2021
[14]
17
Dr. H.
Nasrun Umar
S.H., M.M.
16 Februari 2021
11 Mei 2021
[Ket. 5]
[15]
11 Mei 2021
11 Mei 2022
[Ket. 6]
[16]
18
Kurniawan
A.P., M.Si.
12 Mei 2022
23 Juni 2022
[Ket. 7]
[17]

23 Juni 2022

24 Januari 2023

[Ket. 8]
[18]
19
Ahmad Usmarwi Kaffah, S.H., LL.M. (Bham), LL.M. (Abdn), Ph.D.
25 Januari 2023
17 September 2023
[Ket. 9]
[19]
Ahmad Usmarwi Kaffah, S.H., LL.M. (Bham), LL.M. (Abdn), Ph.D.
20
Dr. H. Ahmad Rizali, M.A.
18 September 2023
22 Juli 2024
-
[Ket. 10]
[20]
21
Henky Putrawan
22 Juli 2024
20 Februari 2025
-
[Ket. 11]
[21]
22
Edison, S.H., M.Hum.
20 Februari 2025
sekarang
17
[22]
Ir. Sumarni, M.Si.
Catatan
  1. ^ Meninggal dunia saat menjabat
  2. ^ Penjabat Bupati Muara Enim
  3. ^ Pelaksana Harian Bupati Muara Enim
  4. ^ Pelaksana Tugas Bupati Muara Enim
  5. ^ Pelaksana Harian Bupati Muara Enim
  6. ^ Penjabat Bupati Muara Enim
  7. ^ Pelaksana Harian Bupati Muara Enim
  8. ^ Penjabat Bupati Muara Enim
  9. ^ Pelaksana Tugas Bupati Muara Enim sekaligus Wakil Bupati Muara Enim definitif
  10. ^ Penjabat Bupati Muara Enim
  11. ^ Penjabat Bupati Muara Enim


Dewan Perwakilan

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Muara Enim (disingkat DPRD Muara Enim) adalah lembaga perwakilan rakyat daerah tingkat kabupaten yang ada di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Anggota DPRD Muara Enim berjumlah 45 orang yang tersebar di 13 partai politik, dengan perolehan suara mayoritas diraih oleh Partai Gerakan Indonesia Raya.

Pemekaran

Anggota DPRD Muara Enim periode 2014-2019 berjumlah 45 orang dilantik pada 27 September 2014. Karena adanya pemekaran Kabupaten PALI pada tahun 2013, pemilihan anggota DPRD Muara Enim dan PALI digabung atas nama DPRD Muara Enim. Barulah pada tahun 2015, anggota DPRD Muara Enim dibagi menjadi dua: anggota DPRD Muara Enim dan anggota DPRD PALI, dengan beberapa penyesuaian.

Kecamatan

Kabupaten Muara Enim memiliki 20 kecamatan, 10 kelurahan dan 245 desa (dari total 236 kecamatan, 386 kelurahan dan 2.853 desa di seluruh Sumatera Selatan). Pada tahun 2017, jumlah penduduknya sebesar 567.450 jiwa dengan luas wilayahnya 7.383,90 km² dan sebaran penduduk 77 jiwa/km².[23][24]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Muara Enim, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Jumlah
Desa
Status Daftar
Desa/Kelurahan
16.03.24 Belida Darat 10 Desa
16.03.23 Belimbing 10 Desa
16.03.19 Benakat 6 Desa
16.03.26 Empat Petulai Dangku 10 Desa
16.03.06 Gelumbang 1 22 Desa
Kelurahan
16.03.04 Gunung Megang 13 Desa
16.03.21 Kelekar 7 Desa
16.03.07 Lawang Kidul 3 4 Desa
Kelurahan
16.03.17 Lembak 10 Desa
16.03.14 Lubai 10 Desa
16.03.25 Lubai Ulu 11 Desa
16.03.22 Muara Belida 8 Desa
16.03.02 Muara Enim 6 10 Desa
Kelurahan
16.03.27 Panang Enim 12 Desa
16.03.15 Rambang 13 Desa
16.03.03 Rambang Niru 16 Desa
16.03.08 Semende Darat Laut 10 Desa
16.03.09 Semende Darat Tengah 12 Desa
16.03.10 Semende Darat Ulu 10 Desa
16.03.16 Sungai Rotan 19 Desa
16.03.01 Tanjung Agung 14 Desa
16.03.11 Ujan Mas 8 Desa
TOTAL 22 10 245


Pembagian Wilayah Kecamatan

Nama Kecamatan Luas per km2 Populasi (pertengahan 2024) Ibukota
Muara Enim 187,08 80.782 Muara Enim
Lawang Kidul 287,26 76.736 Keban Agung
Tanjung Agung 517,10 30.097 Tanjung Agung
Panang Enim 192,94 13.367 Lebak Budi
Wilayah Melayu Enim 1184,38 200.982
Rambang Niru 634,98 35.282 Tebat Agung
Rambang 378,07 28.882 Sugih Waras
Empat Petulai Dangku 138,35 20.547 Dangku
Lubai Ulu 478,49 34.640 Karang Agung
Lubai 529,32 27.764 Beringin
Wilayah Melayu Rambang 2159,21 147.115
Semende Darat Laut 269,14 15.473 Pulau Panggung
Semende Darat Tengah 302,24 11.478 Sri Tanjung
Semende Darat Ulu 426,64 18.346 Aremantai
Wilayah Melayu Semende 998,02 45.315
Gunung Megang 471,36 36.026 Gunung Megang Dalam
Ujan Mas 311,13 27.145 Ujan Mas Baru
Benakat 451,96 10.648 Padang Bindu
Belimbing 148,69 26.970 Cinta Kasih
Wilayah Melayu Lematang 1383,14 100.789
Gelumbang 705,57 64.082 Gelumbang
Muara Belida 204,67 8.345 Patra Tani
Kelekar 138,03 11.715 Menanti
Belida Darat 264,26 13.556 Tanjung Bunut
Lembak 101,44 19.957 Lembak
Sungai Rotan 344,14 33.412 Sukarami
Wilayah Melayu Belida 1758,11 151.067

Demografi

Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia 2010, jumlah penduduk kabupaten ini sebanyak 716.676 jiwa. Kemudian pada Sensus Penduduk Indonesia 2020, penduduk Muara Enim menjadi 6152.900 jiwa, dengan kepadatan 82 jiwa/km. Jumlah penduduk terbanyak berada di kecamatan Muara Enim (73.550 jiwa) dan Lawang Kidul (72.120 jiwa), sementara penduduk lebih sedikit berada di kecamatan Muara Belida (7.940 jiwa).[25]

Kepadatan penduduk tertinggi ada di Kecamatan Muara Enim yaitu 308 penduduk per kilometer persegi, diikuti Kecamatan Lawang Kidul sebanyak 169 penduduk dan Kecamatan Sungai Rotan sebanyak 103 penduduk. Namun sebaran penduduk menurut kecamatan di wilayah Kabupaten Muara Enim tidak merata. Kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Lawang Kidul (64.180) dan Muara Enim (62.851). Sementara kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit adalah Muara Belida (7.750) dan Kelekar (9.574 persen).

Mayoritas penduduk Kabupaten Muara Enim, memeluk agama Islam, yang umumnya dianut oleh penduduk asli setempat, seperti Suku Melayu Lematang, , suku Rambang , Melayu Enim, Melayu Semende, Belide kemudian Jawa, Sunda dan suku bangsa lainnya. Penduduk Kabupaten Muara Enim yang memeluk agama Kristen (Protestan dan Katolik) umumnya dianut oleh Suku Batak (Batak Angkola dan Batak Toba) dan sebagian Suku Jawa. Penganut agama Hindu umumnya berasal dari Suku Bali. Terakhir, agama Budha dianut oleh Suku Tionghoa.

Adapun persentase penduduk Kabupaten Muara Enim menurut agama yang dianut, yaitu Islam sebanyak 96,34%. Kemudian Kekristenan sebanyak 1,71%, dengan rincian Protestan sebanyak 1,20% dan Katolik sebanyak 0,51%. Sebagian lagi menganut agama Buddha sebanyak 1,63%, Hindu sebanyak 0,30%, Konghucu dan aliran kepercayaan sebanyak 0,01%.[2] Untuk sarana rumah ibadah yang tersedia adalah sebanyak 812 masjid, 499 mushala, 9 gereja Protestan, 6 gereja Katolik, 6 vihara dan 3 pura.[25]

Sejarah

Nama “Muara Enim” berasal dari kata “Muara” yang berarti pertemuan sungai, dan “Enim” yang merupakan nama sungai utama yang membelah wilayah ini: Sungai Enim.[26]

Berdasarkan cerita rakyat “Asal Mula Berdirinya Semende”, puyang (Nenek Moyang) masyarakat Semende di Muara Enim adalah enam orang dari Pagaruyung, Sumatera Barat, dan satu orang dari Basemah, Sumatera Selatan. Konon puyang dari Pagaruyung yakni Tuan Raja, Alim Raja, Legam Bumi, Raja Ngekop, Nakan Adin, dan Sarna Wali. Sementara dari Suku Basemah bernama Prabu Sahmat. Selain itu, banyak juga yang berasal dari Jawa dan Banten[27]

Abad ke-13 Masehi, Islam diperkenalkan di Muara Enim Penduduk Muara Enim zaman dahulu memiliki hubungan dagang dengan Kayu Agung dan Palembang, lagipula Muara Enim pernah menjadi wilayah Kesultanan Palembang. Saat Palembang berperang dengan Belanda, banyak tokoh agama dari pedalaman, termasuk Muara Enim, ikut mati dalam perang sehingga terjadi krisis ulama, dan kemudian Belanda menduduki Muara Enim[28]

Kantor pusat PT Bukit Asam (Saat itu dikenal sebagai perusahaan milik belanda yang mengelola Tambang Air Laya di Tanjung Enim pada tahun 1929)

Berdasarkan sejarah, Kabupaten Muara Enim pada masa pendudukan Hindia Belanda, marga-marga di sepanjang Sungai Enim, mulai dari marga Semendo Darat sampai ke marga Tamblang Patang Puluh Bubung. Kemudian, marga-marga di sepanjang Sungai Lematang mulai dari marga tamblang ujan mas hingga marga sungai rotan digabung menjadi satu wilayah administratif dengan nama "Onderafdeling Lematang Ilir" yang tunduk dengan Afdeling Palembangsche Boven Landen dengan asisten residen yang bertempat di Lahat. Batu bara mulai digali Belanda pada tahun 1919[26][29]

Taman Adipura, taman yang memperingati pemberian piala Adipura tiga tahun berturut-turut (2009-2011) kepada Kabupaten Muara Enim.[30]

Pada masa pendudukan Jepang, wilayah yang dikenal dengan nama Lematang Ilir diubah menjadi Lematang Sijo dan dibentuk wilayah administratif baru yang dikenal dengan Lematang Ogan Tengah, selanjutnya dikenal dengan nama Kawedanan Lematang Ogan Tengah.

Ketika masa awal kemerdekaan Indonesia, hasil sidang Dewan Keresidenan Palembang pada tanggal 20 November 1946 dalam surat Keputusan Bupati Daerah Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah, wilayah Kawedanan Lematang Ilir dan Lematang Ogan Tengah digabung menjadi Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah (LIOT).[26] Panitia Sembilan dibentuk untuk bertanggung jawab atas pembentukan LIOT, dan hasil karya panitia tersebut disimpulkan dalam bentuk laporan yang terdiri dari 10 bab, dangan judul Naskah Hari Jadi Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah dan telah dikukuhkan dengan surat keputusan Bupati LIOT tanggal 14 Juni 1972 No. 47/Deshuk/1972. Tanggal 20 November tersebut kemudian menjadi hari jadi Kabupaten Muara Enim. Namun, dasar hukum pembentukan Kabupaten Muara Enim juga tertuang dalam Undang-undang nomor 28 tahun 1959, tanggal 26 Juni 1959.[1]

Kabupaten LIOT dibentuk pada Masa Bersiap, jadi jabatan kepala daerah dipegang oleh gubernur daerah tingkat I Sumatera Selatan antara tahun 1946-1950. Bupati non-gubernur pertama Muara Enim adalah Amaludin.

Pada tanggal 1 April 1980, nama Muara Enim menjadi nama baru kabupaten ini.

Kemudian, 21 Juni 2001, Kota Prabumulih dimekarkan dari Muara Enim, dan pada 11 Januari 2013, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir dimekarkan dari Kabupaten Muara Enim[31]

Pada 5 Maret 2024, Muara Enim meraih penghargaan adipura ke-15 kalinya.[32]

Pendidikan

Data sarana pendidikan pada semua jenjang pendidikan pada tahun 2010 adalah jumlah sekolah TK sebanyak 110 atau bertambah 23,6% dibanding tahun 2009. Jumlah sekolah dasar dan MI sebanyak 507 atau meningkat 2,01%. Pada tingkat SLTP/MTs terdapat 153 sekolah atau meningkat 12,5%. Sedangkan Sekolah SMU/SMK/MA pada tahun ini menjadi 78 atau meningkat 5,4%.

Kesehatan

Pada tahun 2010 di Kabupaten Muara Enim telah terdapat 3 buah rumah sakit, 24 unit puskesmas dan 107 unit puskesmas pembantu. Sementara untuk jumlah tenaga kesehatan di Kabupaten Muara Enim seluruhnya sebanyak 1.872 orang dengan rincian 101 dokter, 13 Apoteker, 185 Sarjana Kesehatan, 804 tenaga keperawatan, 571 bidan, dan 198 Non Medis.

Ekonomi

Kabupaten Muara Enim mengandalkan pertanian terutama perkebunan dalam mendorong perekonomiannya. Hal ini terlihat dari besarnya luas lahan yang digunakan untuk perkebunan. Lahan yang ada di Kabupaten Muara Enim umumnya merupakan lahan bukan sawah yaitu sekitar 96,19 persen dan sisanya merupakan lahan sawah. Produk pertanian Muara Enim yang terkenal adalah Karet, Kelapa Sawit, Kopi (Kopi Semende), Kelapa, Kakao, Lada, Kapuk, Pinang dan Kayu Manis.[33]

Sektor pertambangan juga berperan cukup besar dalam perekonomian Kabupaten Muara Enim, baik komposisi dengan migas maupun tanpa migas. Dalam komposisi dengan migas, peranan dominan sektor pertambangan dibentuk oleh dominasi produk minyak dan gas bumi, sementara dalam komposisi tanpa migas, sumbangan batubara, yang dikel;ola oleh Bukit Asam masih cukup dominan. Jumlah produksi batubara tahun 2010 tercatat sebanyak 11.948.767 ton atau naik 3,54% dari tahun lalu yang mencapai 11.540.720 ton. Walaupun produksi briket batubara turun 88,64% dibanding tahun sebelumnya.

Pelayanan umum

PLTU Tanjung Enim merupakan pembangkit listrik yang berada di Kabupaten Muara Enim, tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di wilayah Sumatra bagian selatan yang dihubungkan melalui jaringan transmisi interkoneksi Sumatra bagian selatan. Daya terpasang pembangkit listrik PLTU Tanjung Enim mencapai 260.000 kW dengan tenaga listrik yang dibangkitkan mencapai 1.753.805 MWh.

Budaya

Seni

Muara Enim, yang dihuni Suku Semende Darat, memiliki berbagai budaya, seperti Tari sambut (Muara Enim) yang berkembang dari Tari Sembah dalam masyarakat Kikim [26]

Masyarakat

Dalam kehidupan masyarakat pedesaan Muara Enim, bebehas dahulu menjadi bagian penting dalam persiapan hajatan, terutama pernikahan atau yang dikenal dengan ngantenkan. Secara harfiah, istilah ini merujuk pada proses mengumpulkan dan mengolah padi hingga menjadi beras.[34]

Mereka juga memiliki tradisi pewarisan Tunggu Tubang, yakni tradisi dimana harta pusaka (Rumah, Sawah, dll) diberikan pada anak perempuan tertua (Matrilineal). Kalau tidak ada anak perempuan, anak laki-laki tertua yang menjadi Tunggu tubang (Ngangkit).[35] Jika keluarga Tunggu tubang tidak punya anak, pusaka dialihkan ke adik perempuan sang tunggu tubang. Meski demikian, kuasa Tunggu Tubang terikat norma-norma adat dan diawasi Meraje/Jurai (Paman dari pihak ibu) serta keluarga besar.[27]

Tunggu Tubang memiliki tugas menjaga aset seperti mengatur waktu tanam dan panen. Mereka juga harus menentukan siapa yang berhak diberi hasil panen. Tunggu Tubang juga harus melayani kerabat yang berkunjung ke desanya, yang membuat rumah itu harus muat dengan seluruh keluarga. Tunggu Tubang bertanggung jawab atas semua urusan keluarga, mulai dari pernikahan, acara kematian atau ziarah besar[36]. Sistem Tunggu Tubang terbukti dapat menjaga ketahanan pangan di daerah Semende.[27] Sistem adat Tunggu Tubang berlaku di Semende Darat yang luas wilayahnya sekitar 99.802 hektar, sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan Gunung Patah. Diperkirakan, sistem adat Tunggu Tubang dipengaruhi sistem adat di Suku Minangkabau, yang juga mewariskan pusaka keluarga kepada perempuan.[27]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b c d "Pembentukan Daerah-Daerah Otonom di Indonesia s/d Tahun 2014" (PDF). www.otda.kemendagri.go.id. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 12 Juli 2019. Diakses tanggal 12 Februari 2022.
  2. ^ a b c d "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2021". www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-08-05. Diakses tanggal 12 Februari 2022.
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2020-2022". www.sumsel.bps.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-08-16. Diakses tanggal 16 Agustus 2023. ;
  4. ^ "Dana Alokasi Umum (DAU". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-08-16. Diakses tanggal 2023-08-16.
  5. ^ bappeda.muaraenimkab.go.id Muara Enim Dalam Angka 2010[pranala nonaktif permanen]
  6. ^ "Luas Daerah - Tabel Statistik". muaraenimkab.bps.go.id. Diakses tanggal 2025-05-18.
  7. ^ "Lampiran Permendagri No 66 Tahun 2011" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2012-07-10. Diakses tanggal 2012-11-01.
  8. ^ "Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 07 Tahun 2013 Tentang Pembentukan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir di Provinsi Sumatera Selatan". Diarsipkan dari asli tanggal 2013-08-24. Diakses tanggal 2013-03-03.
  9. ^ Peraturan Daerah Kabupaten Muara Enim Nomor 10 Tahun 2018[pranala nonaktif permanen]
  10. ^ Gubernur Alex Noerdin Lantik Teddy Meilwansyah Sebagai PJ Bupati Muaraenim, diakses 27 Desember 2020.
  11. ^ "Alex Noerdin lantik 7 kepala daerah hasil pilkada serentak di Sumsel". merdeka.com. 18-09-2018. Diakses tanggal 08-03-2022. ;
  12. ^ "Juarsah Resmi Menjadi PLH Bupati Muara Enim". tribunnews.com. 05-09-2019. Diakses tanggal 08-03-2022.
  13. ^ "H Juarsah SH Terima SK Plt Bupati Muara Enim". sriwijayaonline.com. 16-09-2019. Diakses tanggal 08-03-2022.
  14. ^ "Usai Dilantik, Juarsah Resmi Jabat Bupati Muara Enim". kabarmuaraenim.com. 12-12-2020. Diakses tanggal 08-03-2022.
  15. ^ "Ditunjuk Jadi Plh Bupati Muara Enim, Sekda Sumsel Akan Lakukan Pembenahan". liputan6.com. Diakses tanggal 08-03-2022.
  16. ^ "Herman Deru Lantik Nasrun Umar Jadi Penjabat Bupati Muara Enim". palugadanews.com. 11-05-2021. Diakses tanggal 08-03-2022.
  17. ^ "Gubernur Sumsel Tunjuk Kurniawan Jadi Plh Bupati Muara Enim". infopublik.id. Diakses tanggal 30-05-2022.
  18. ^ "Kurniawan Resmi Dilantik Menjadi Penjabat Bupati Muara Enim". muaraenimkab.go.id. 23-06-2022. Diakses tanggal 24-06-2022.
  19. ^ HD Resmi Lantik Wakil Bupati Muara Enim, diakses 26 Januari 2023.
  20. ^ Gubernur Sumsel Lantik Pj Bupati Muara Enim, diakses 18 September 2023.
  21. ^ rmolnetwork. "Portal Berita Politik Terkini Palembang - RMOLSUMSEL.ID". RMOLSUMSEL. Diakses tanggal 2024-12-11.
  22. ^ "Daftar Lengkap 481 Pasangan Kepala Daerah Dilantik Prabowo Hari Ini". CNN Indonesia. cnnindonesia.com. 20 Februari 2025. Diakses tanggal 2 Agustus 2025.
  23. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019.
  24. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020.
  25. ^ a b "Kabupaten Muara Enim Dalam Angka 2021". muaraenimkab.bps.go.id. hlm. 10, 75. Diarsipkan dari asli (pdf) tanggal 2022-02-12. Diakses tanggal 12 Februari 2022.
  26. ^ a b c d Yusuf, Amir. "Sejarah Muara Enim: Asal Usul, Fakta-fakta, Tokoh, dan Budaya". Diakses tanggal 2025-09-12.
  27. ^ a b c d Wijaya, Taufik. "Tunggu Tubang, Sistem Adat Masyarakat Semende Jaga Ketahanan Pangan". Diakses tanggal 04-04-2026.
  28. ^ "Sejrah kota Muara Enim kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan". Diakses tanggal 2025-09-12.
  29. ^ "Asal Usul Kabupaten Muara Enim, Tambang Tua Legendaris di Sumsel yang Nyaris Terlupakan". Diakses tanggal 2025-09-12.
  30. ^ "Wisata Taman Adipura, Prestasi Muara Enim sebagai Kota Terbersih yang Wajib Kamu Kunjungi saat Liburan". Diakses tanggal 2025-09-12.
  31. ^ "Video Sejarah Kabupaten Muara Enim". Diakses tanggal 2025-09-12.
  32. ^ "Pj. Bupati Muara Enim melaksanakan arak-arakan Piala Adipura ke-15". Eaglenews. Diakses tanggal 2025-09-12.
  33. ^ Hati, Ika Permata dan Sardjito. "Arahan Pengembangan Komoditas Unggulan di Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan" (PDF). Diakses tanggal 04-04-2026. ;
  34. ^ "Menghidupkan Kembali Bebehas, Warisan Budaya Muara Enim". Diakses tanggal 04-04-2026.
  35. ^ Oktarina, Evi dan Erniwati. "SISTIM KEWARISAN MASYARAKAT SEMENDO BERBASIS KEARIFAN LOKAL" (PDF). Diakses tanggal 04-04-2026. ;
  36. ^ Pieter, Yoppy. "Bumi Perempuan Tunggu Tubang di Muara Enim: Menjaga Warisan Keluarga Demi Masa Depan Bersama".

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement