KH. Jufri Amin

KH. Jufri Amin Tingkir

KH. Jufri Amin merupakan tokoh ulama' pendiri Pondok Pesantren di Desa Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga. Ulama' yang sangat luas keilmuanya, Hafidzul Al Qur'an waa hadist, merupakan Mursyid Thoriqoh Qodiriyah Waa Naqsabandiyah. Beliau merupakan putra dari H. Amin. Beliau merupakan adik KH. Qurdi Amin. Dari beliaulah lahir beberapa pondok pesantren di Tingkir Lor. Beliau dimakamkan di Makam Cungkup Tingkir Lor, satu komplek dengan makam Mbah Wahid yang merupakan kakek buyut KH. Abdurrahman Wahid / Gus Dur ( Presiden RI ke 4 ).[1]

Biografi

Al Maghfurlah KH. Jufri Amin adalah seorang ulama' Pendiri Pondok Pesantren di Tingkir Lor, salah satu desa di kecamatan Tingkir, Kota Salatiga , sebuah desa yang banyak menyimpan sejarah perjalanan seorang tokoh legendaris di Nusantara yakni Mas Karebet alias Sultan Hadiwijaya atau yang lebih masyhur dipanggil Joko Tingkir.

Nama kecil beliau adalah Jufri sedangkan nama Amin dinisbatkan kepada nama ayahnya yakni H. Amin seorang pendatang dari Daerah Surakarta. Adapun H. Amin sendiri menurut cerita yang dituturkan salah satu dzuriyahnya adalah bukan seorang ulama' atau kyai, namun kecintaan beliau terhadap para ulama' ahli ilmu sangatlah besar, alhasil para putranya yakni KH. Qurdi Amin, KH. Jufri Amin dan KH. Sodiq Amin semua menjadi tokoh ulama' atau kyai yang mengajarkan ilmu agama.

Keluarga

Beliau merupakan putra dari H.Amin yang seorang pendatang dari Surakarta yang konon nasabnya bersambung dengan Kanjeng Sunan Kalijogo. Beliau menikah dengan Nyai Hj. Aisyah. Dikaruniai beberapa putra dan putri diantaranya :
1. Nyai Badriyah
2. Nyai Malikah
3. Nyai Milkiyah
4. KH. Maliki
5. KH. Sulthon
6. Nyai Nafisah
7. Nyai Nadzir
8. Kyai Fanani(Gus Fan)

Khidmah & Dakwah

Mendirikan Pesantren.

KH. Jufri Amin diketahui berguru kepada beberapa Masyayikh dan juga pernah menimba ilmu kepada para ulama' di Makkah Al Mukaramah. Setelah itu, beliau pulang di kampung halaman untuk khidmah kepada masyarakat, beliau mengajarkan agama pertama di sebuah surau panggung dari kayu jati yang menjadi awal mula sejarah berdirinya pondok pesantren di Tingkir Lor yang diberi nama Asta'in, dipesantren inilah beliau bersama kakak dan adiknya mengasuh santri dari berbagai daerah. Sepeninggal beliau estafet kepengasuhanya diteruskan oleh kakak beliu yakni KH. Qurdi Amin serta putra beliau yakni KH. Maliki Jufri, setelah KH. Qurdi Amin wafat pesantren ini diteruskan oleh para dzuriyah beliau. Sedangkan KH. Maliki Jufri mendirikan Pesantren tak jauh dari tempat ini yang diberi nama Assabab Asyakur yang selanjutnya berkembang menjadi Pondok Pesantren Darul Muhajirin yang mengasuh santri putra maupun putri dari berbagai daerah ,metode pendidikan di pesantren ini masih mempertahankan khas salafnya yakni mengkaji kitab kitab kuning berbagai fan keilmuan. Namun para santri juga dibekali berbagai pelatihan life skill, bahkan para santri banyak yang ketika diluar kegiatan kepesantrenan diminta oleh masyarakat sekitar untuk membantu berbagai pekerjaan, ada yang di sawah, konveksi, rumah tangga dan lainya, hubungan yang saling menguntungkan masyarakat terbantu oleh keberadaan para santri, sedangkan para santri terbantu kebutuhan sehari-hari seperti makan, kebutuhan mandi dan lainya, sehingga banyak sekali santri di pesantren ini yang masih tetap bertahan di pesantren walaupun tidak mendapatkan uang saku dari orang tuanya, dan alhasil para alumni yangbaru boyong dari pesantren pulang ke daerahnya akan lebih mudah bersosial tidak kagetan , karena di pesantren sudah sering berhubungan sosial dengan masyarakat.

Setelah KH. Maliki Jufri wafat kepengasuhan pondok pesantren diteruskan oleh adiknya yaitu KH. Sulthon Jufri Al Hafidz dan Kyai Fanani Jufri sampai dengan tulisan ini dibuat.

Mursyid Thoriqoh.

KH. Jufri Amin, selain mengajar agama lewat pondok pesantren juga merupakan seorang Mursyid Thoriqoh Qodiriyah Waa Naqsyabandiyah, titah mursyid beliau bersanad dari Syech Dardiri sanggrahan, sedangkan murid thoriqoh beliau yakni jamaah yang baiat thoriqoh datang dari berbagai daerah, selain para santri dan wali santri banyak juga jama'ah atau masyarakat yang mengambil baiat thoriqoh kepada beliau mulai dari kota Salatiga, Semarang, Magelang, Boyolali bahkan banyak dari luar jawa. Sepeninggal beliau mursyid thoriqoh dilanjutkan oleh putra beliau yakni KH. Sulthon Jufri Al Hafidz. Berbagai kegiatan thoriqoh dilaksanakan di Pondok Pesantren hingga sekarang, seperti sewelasan sekaligus tawajuhan yang dilaksanakan tanggal 11 disetiap bulanya. pembacaan manaqib, mujahadah dan lain sebagainya. Haul Guru Agung Syech Abdul Qadir Al Jailany dilaksanakan setahun sekali pada bulan Rabi'ul Akhir sekaligus memperingati Haul Al Mukaram KH. Jufri Amin dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren Darul Muhajirin Tingkir Lor.

Kisah Teladan

Referensi

  1. ^ Arriza, Afan (2015). Profil Pondok Pesantren Darul Muhajirin. Salatiga: Assadam. hlm. 5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement