Jurnalisme kolaboratif

Jurnalisme Kolaboratif adalah praktik yang berkembang di bidang kejurnalistikan. Salah satu definisinya adalah "suatu pengaturan kerja sama (formal atau informal) antara dua atau lebih berita dan informasi organisasi, yang bertujuan untuk melengkapi sumber daya masing-masing organisasi dan memaksimalkan dampak konten yang dihasilkan."[1] Hal ini dipraktikkan baik oleh wartawan profesional maupun pemula. Jurnalisme Kolaboratif tidak boleh disamakan dengan jurnalisme warga.

Perkembangan

Perkembangan jurnalisme kolaboratif semakin menonjol seiring dengan perubahan lanskap industri media. Banyak ruang redaksi, terutama yang berukuran kecil, menghadapi keterbatasan sumber daya, tenaga kerja, dan jangkauan distribusi. Melalui kolaborasi, organisasi media dapat menggabungkan keahlian, berbagi sumber daya, serta memperluas jangkauan audiens. Pendekatan ini juga memungkinkan peliputan isu yang lebih kompleks dan berskala besar yang mungkin sulit dilakukan oleh satu organisasi saja. Dalam praktiknya, jurnalisme kolaboratif biasanya melibatkan beberapa tahapan kerja sama. Tahapan tersebut antara lain mengidentifikasi mitra kolaborasi yang memiliki nilai jurnalistik atau minat liputan yang sejalan, menentukan ruang lingkup kerja sama seperti pembagian tugas dan penggunaan sumber daya, serta menetapkan mekanisme komunikasi dan alur kerja yang jelas. Selain itu, proses kolaborasi juga mencakup penentuan peran, tenggat waktu, serta penggunaan alat atau platform untuk proses penyuntingan, verifikasi fakta, dan publikasi.[2]

Referensi

  1. ^ Stonbely, S. "Comparing Models of Collaborative Journalism, Center for Cooperative Media" (PDF).
  2. ^ "What is Collaborative Journalism? | Collaborative Journalism" (dalam bahasa American English). 2017-08-31. Diakses tanggal 2026-03-30.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement