Jaranan Margowati
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Alasannya ialah: penulisan judul sumber ada yang ganda, beberapa kalimat butuh rujukan dan penulisan tanggal akses perlu dirapikan. (Juni 2025) |
Jaranan Margowati adalah seni pertunjukan tradisional khas Desa Margowati, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kesenian ini merupakan bentuk lokal dari tradisi jaran kepang atau kuda lumping yang mencerminkan perpaduan antara unsur magis, spiritual, dan hiburan rakyat. Dalam pertunjukannya, para penari menggunakan properti kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu atau kulit, diiringi dengan musik gamelan yang khas serta elemen trance atau kesurupan sebagai bagian dari puncak ritual.[1]
Ciri khas
Jaranan Margowati memiliki karakteristik yang membedakannya dari bentuk tari jaranan di daerah lain. Ciri khas utama tari ini terletak pada gerakannya yang merupakan interpretasi dari gerakan kuda perang, khususnya kuda peliharaan yang digunakan dalam pertempuran.[2] Gerakan tari menonjolkan kekuatan kaki dan tenaga para penari, mencerminkan kegagahan dan ketangguhan kuda perang. Penekanan pada aspek kekuatan ini sejalan dengan karakter masyarakat Margowati yang tinggal di wilayah pegunungan dan dikenal ulet serta berani.[butuh rujukan]
Selain kekuatan dalam gerakan, Jaranan Margowati juga memiliki jenis gerak penghubung yang khas dan berbeda dari bentuk jaranan lain yang kerap menampilkan adegan trance atau ndadi. Dalam Jaranan Margowati, unsur ndadi tidak ditampilkan, karena fokus utama pertunjukan adalah pada kekuatan fisik dan ketangkasan, bukan aspek spiritual atau kesurupan. Hal ini menunjukkan orientasi tari ini pada ketokohan kuda perang sebagai simbol utama.[butuh rujukan]
Kostum dalam tari Jaranan Margowati juga memperkuat tema keprajuritan. Penari menggunakan busana berupa ikat kepala, rompi, celana, serta kain jarik berbentuk supit urang. Atribut lainnya mencakup keris sebagai bagian dari kelengkapan busana, dan riasan wajah yang menggambarkan karakter prajurit. Seluruh unsur tersebut berpadu untuk menampilkan citra gagah dan kuat, selaras dengan makna filosofis dari tarian ini.[2]
Asal-usul dan perkembangan
Asal-usul Jaranan Margowati berkaitan erat dengan sejarah masyarakat pedesaan di Temanggung yang sejak lama menjadikan kuda sebagai simbol kekuatan dan penjaga wilayah. Konon, kesenian ini telah ada sejak masa kolonial dan menjadi sarana masyarakat dalam mengekspresikan harapan, doa, serta perlawanan simbolik terhadap tekanan kehidupan. Nama Margowati merujuk pada desa asal kesenian ini, yang dikenal sebagai salah satu sentra budaya tradisional di lereng Gunung Sumbing.[2]
Hingga kini, Jaranan Margowati masih dipentaskan secara aktif oleh berbagai kelompok seni di Desa Margowati, terutama oleh grup seni Krido Turonggo. Pertunjukan ini tidak hanya tampil dalam acara ritual desa seperti bersih desa atau peringatan hari besar, tetapi juga diundang dalam berbagai festival budaya di tingkat kabupaten dan provinsi. Salah satu momen penting dalam sejarah modern kesenian ini terjadi pada tahun 2025, ketika Jaranan Margowati diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) ke UNESCO.[3][4] Pemerintah Kabupaten Temanggung menunjukkan dukungan penuh terhadap inisiatif ini dengan menggelar berbagai kegiatan pendukung seperti festival tari rakyat dan pertunjukan massal (flashmob) seni jaranan.[5]
Upaya pelestarian
Pelestarian Jaranan Margowati dilakukan melalui berbagai strategi yang melibatkan komunitas lokal, pemerintah daerah, serta institusi pelestarian budaya. Pemerintah Kabupaten Temanggung secara resmi mengusulkan Jaranan Margowati sebagai Warisan Budaya Takbenda ke UNESCO pada tahun 2025 sebagai bentuk pengakuan atas nilai budaya dan spiritualnya.[3] Di tingkat lokal, kelompok seni seperti Krido Turonggo secara aktif melatih generasi muda untuk memahami dan melestarikan teknik tari, musik pengiring, serta makna ritual dalam jaranan.[2] Dinas Kebudayaan Temanggung juga memberikan dukungan melalui program pendampingan seniman dan dokumentasi audiovisual. Kegiatan publik seperti flashmob tari jaranan yang digelar di Alun-alun Temanggung menjadi strategi promosi efektif untuk menarik perhatian masyarakat luas, terutama kalangan muda.[5] Selain itu, kerja sama dengan Badan Pelestarian Kebudayaan Wilayah X yang membawahi Yogyakarta dan Jawa Tengah turut memperkuat dukungan kelembagaan dalam proses pengusulan ke UNESCO.[6] Upaya pelestarian ini tidak hanya bertujuan mempertahankan bentuk pertunjukan, tetapi juga menjaga nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.[butuh rujukan]
Referensi
- ^ Rizqi, Devi Khofifatur. "Bupati Agus Setyawan Minta Dukungan agar Jaranan Margowati Temanggung Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO - Radar Magelang". Bupati Agus Setyawan Minta Dukungan agar Jaranan Margowati Temanggung Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO - Radar Magelang. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ a b c d Slamet (2020). "Pendampingan Jaranan Margowati sebagai Ikon Temanggung dan Penetapan Warisan Budaya Tak Benda". Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 11 (1): 33–44.
- ^ a b developer, mediaindonesia com. "Kesenian Jaranan Mergowati Diusulkan jadi Warisan Budaya Tak Benda". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ developer, medcom id (2025-04-09). "Jaranan Resmi Diusulkan Sebagai Warisan Budaya Takbenda di UNESCO". medcom.id. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ a b Prakata (2025-04-27). "Dukung Jaranan Temanggung Jadi Warisan UNESCO, Ratusan Seniman Gelar Flashmob Jaran Kepang". Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ Redaksi, Tim. "Seniman Temanggung Dorong Seni Jaranan Masuk UNESCO". Berita Nasional. Diakses tanggal 2025-06-15.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


