Janger Kedaton Sumerta dan Pegok Sesetan

Janger Kedaton Sumerta dan Pegok Sesetan merupakan dua tradisi pertunjukan Tari Janger yang tumbuh dan berkembang di kawasan Denpasar Bali.[1] Keduanya menampilkan kekhasan dalam sejarah, bentuk penyajian, fungsi sosial, dan peran budaya yang mencerminkan keragaman praktik kesenian rakyat Bali pada abad ke-20 hingga abad ke-21.[1]

Janger Kedaton Sumerta berasal dari Banjar Kedaton Sumerta Denpasar Timur hyang berkembang semenjak abad ke-20 berasal dari tradisi ritual desa adat, sementara Pegok Sesetan berasal dari Banjar Pegok, Denpasar Selatan yang berkembang semenjak akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21 ang dipengaruhi oleh modernisasi komunitas setempat.

Meskipun berbagai akar dalam tradisi Janger sebagai seni pertunjukan vokal-tari, kedua kelompok ini mengembangkan identitas artistis yang berbeda menurut konteks sosial dan perkembangan kebudayaan setempat.[1]

Latar Belakang Umum

Tari Janger merupakan bentuk seni pertunjukan Bali yang diperkiran muncul pada awal abad ke-20 sebagai hasil perkembangan kesenian rakyat, teruutama dari tradisi Sekehe Taruna, seni vokal tradisional, dan pertunjukan sosial yang melibatkan pasangan muda-mudi.[2] Ciri utama Janger terdiri dari atas dua kelompok penari laki-laki dan perempuan yang menyanyikan syair bersahutan sambil menari gerakan yang bersifat komunikatif dan dinamis.[3]

Intrumen musik yang digunakan bervariasi, namun barungan Gamelan Batel Gede atau Batel Ringan merupakan salah satu pengiring yang paling sering digunakan.[4] Fungsi kesenian ini pada awalnya berhubungan dengan kegiatan sosial masyarakat desa, tetapi berkembang menjadi pertunjukan panggung yang banyak diikutsertakan dalam festival seni, upacara adat, maupun kegiatan komunitas.[4]

Asal Usul dan Sejarah

Janger Kedaton Sumerta

Janger Kedaton Sumerta berasal dari Banjar Kedaton, Desa Sumerta Kelod, Denpasar Timur, Kelompok ini sering disebut sebagai salah satu Sekaa Janger tertua di Denpasar.[5] Berdasarkan peneltian dan arsip lokal, tradisi Janger di Sumerta telah aktif sejak sekitar awal tahun 1900-an ketika kesenian rakyat Bali mulai berkembang dan mengalami pembentukan struktur kelompok seni desa.[5]

Sekaa Janger Kedaton Sumerta terus mempertahankan karakter tradisionalnya, termsuk pola-pola gerak sederhana namun khas, serta bentuk musikal dan vokal yang mengikuti pakem klasik Janger Bali.[5]

Pegok Sesetan

Pegok Sesetan tumbuh di Banjar Pegok, Kelurahan Sesetan, Denpasar Selatan. Kelompok ini berkembang kuat pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 sebagai bagian dari kebangkitan seni komunitas urban di Denpasar.[6] Berbeda dengan Janger Kedaton Sumerta, kelompok Janger di Pegok berkembang melalu semangat kreatif generasi muda yang ingin melestarikan seni Janger sambil memperkenalkan elemen estika modern yang lebih baru.[6]

Bentuk Pertunjukan

Janger Kedaton Sumerta mengikuti format tradisional Janger dengan susunan penari laki-laki dan perempuan berhadapan. Struktur vokal laki-laki (kecak-kecak) dan perempuan (janger) disajikan dalam pola antiphonal (saling bersahutan). Gerakan tarinya menekankan keserempakan, kesederhanaan, dan pengutamaan ekspresi wajah.[5]

Kostum yang digunakan mempertahankan ciri tradisional, antara lain pakaian adat Bali sederhana yang di dominasi warna-warna cerah, hiasan kepala minimalis, serta atribut tangan yang tidak banyak mengalami modifikasi modern.[5]

Janger Pegok Sesetan dikenal lebih dinamis dan inovatif. Koreografi yang ditampilkan sering menggunakan pola gerak modern dengan eksplorasi ruang yang lebih luas. Penataan formasi penari lebih fleksibel dan penggunaan ekspresi wajah serta gerakan tangan dikembang melampaui pola klasik.[6] Kostum yang digunakan sering mengalami inovasi warna, motif dan aksesoris, meskipun tetap mengacu pada gaya busana Bali tradisional.[6]

Musik Pengiring

Gamelan Batel Gede menjadi pengiring utama dalam pementasan Janger Kedaton Sumerta dan perpaduan Barungan yang menghasilkan warna suara ringan namun ritmis, sesuai untuk mengiringi vokal dan gerak Janger yang bersifat komunikatif. Susunan gong, kendang, ceng-ceng dan intrumen melodis kecil menciptakan suasana tradisional yang khas.[7]

Pegok Sesetan selain menggunakan Batel sebagai dasar dikembangkan pula dengan dukungan elemen multimedia untuk edukasi dan dokumentasi. Hal ini menunjukan adaptasi tekhnologi dalam praktik kesenian masyarakat kota yang modern.[6]

Fungsi

Janger Kedaton Sumerta tetap memegang fungsi sosial-ritual dalam konteks desa adat. Penari yang terlibat seringkali harus memenuhi persyaratan adat, termasuk mengikuti proses mawinten sebagai bentuk penyuncian diri sebelum tampil. Fungsi Janger secara umum dalam upacara desa, perayaan adat, atau kegiatan sosial merupakan aspek yang masih dijaga hingga saat ini.[7]

Janger Pegok Sesetan berfungsi untuk kegiatan komuniatas, festival budaya, parade seni, dan pesta kesenian Bali (PKB). Peranya menonjol dalam memperluas identitas masyarakat Sesetan dan membuka ruang kreatifitas bagi generasi muda. Kelompok ini menjadi contoh perkembangan seni tradisi yang bersifat adaptif terhadap perkembangan zaman[6]

Perbandingan kedua Tradisi

  • Janger Kedaton Sumerta: Gaya penyajian tradisional klasik, kostum menjaga bentuk tradisional, alat musik memakai Batel Gede klasik, berfungsi sebagai ritual desa dan sosial tradisional mulai berkembang di abad ke-20.[5]
  • Pegok Sesetan: Gaya penyajian yang dinamis-kontemporer, kostum mengalami variasi modern, alat musik menggunakan Batel dan eksperimen multimedia, fungsi sebagai kesenian pda Festival, pendidika, dan komunitas, berkembang pada akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21.[6]

Signifikansi kedua Budaya

Kedua kelompok Janger ini berperan penting dalam keberlanjutan seni pertunjukan di Bali. Janger Kedaton Sumerta menjadi representasi kesinambungan tradisi kuno dan warisan desa adat, sedangakan Janger Pegok Sesetan menggambarkan kreatifitas serta inovasi generasi muda dalam mempertahankan kesenian tradisional ditengah perubahan sosial budaya.[1]

Referensi

  1. ^ a b c d Sunaryo; Setiowati, Fransiska Dewi (2020). "Bali adn UNESCO revitalization of local culture" (PDF). One Week International FDP (Faculty Development Program) Webinar on Self, Society, and Personal Development: 166.
  2. ^ Kusuma, Zheerlin Larantika Djati. "Tari Janger Bali: Sejarah, Makna, Pola Lantai, hingga Keunikan". detikbali. Diakses tanggal 2025-11-18.
  3. ^ "Wayback Machine". download.isi-dps.ac.id. Diakses tanggal 2025-11-18.
  4. ^ a b Gaby. "Tari Janger: Sejarah, Tari Tradisional, Fungsi, Makna, dan Properti". Diakses tanggal 2025-11-18.
  5. ^ a b c d e f Sukraka, I. Gde (2005). "Janger Kedaton-Sumerta Bali :: Kesinambungan dan Perubahannya". Universitas Gadjah Mada.
  6. ^ a b c d e f g hadiwiguna;, I. Nyoman angga (2020). Multimedia Interaktif Pengenalan Tari Janger Banjar Pegok Kelurahan Sesetan (dalam bahasa Indonesia). STIKOM Bali. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  7. ^ a b Doktrinaya, I. Komang Gede. "Penari Janger Kedaton Wajib Warga Lokal dan Mawinten - Bali Express". Penari Janger Kedaton Wajib Warga Lokal dan Mawinten - Bali Express. Diakses tanggal 2025-11-18.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement