Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas

Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas adalah ritual tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Tradisi ini bertujuan untuk memelihara tombak pusaka bernama Kyai Upas, yang dihormati sebagai pusaka sejarah, simbol perlindungan, dan identitas budaya Tulungagung.[1]

Asal-usul dan legenda

Tombak Kanjeng Kyai Upas adalah pusaka sakti milik masyarakat Tulungagung yang dipercaya memiliki daya magis dan mampu menangkal bala, termasuk saat penjajahan Belanda. Pusaka ini memiliki bilah sepanjang 35 cm dan landhean 4 meter, dengan ukiran lafaz "Allah" dan "Muhammad".[1]

Legenda pusaka ini bermula dari kisah Baru Klinthing, anak dari juru masak dan Ki Wonoboyo yang lahir dalam wujud ular.[1] Saat dewasa, Baru Klinthing mencari ayahnya ke Gunung Merapi. Dalam ujian untuk diakui sebagai anak, lidahnya yang dipakai melingkari gunung diputus dan jatuh ke tanah, lalu berubah menjadi tombak sakti. Kayu tangkainya muncul dari laut setelah Baru Klinthing menghilang. Sepeninggal Ki Wonoboyo, pusaka Tombak Kanjeng Kyai Upas diwariskan kepada putranya yang bernama Ki Ajar Mangir yang dikenal menolak tunduk kepada kekuasaan Mataram. Kisah berlanjut ketika Raja Mataram mengutus putrinya, Putri Pembayun, menyamar sebagai penari keliling untuk memikat Ki Ajar Mangir. Setelah menikah, Putri Pembayun berhasil membawa suaminya ke hadapan raja. Namun, saat bersujud di hadapan Raja Mataram, Ki Ajar Mangir justru dibunuh dengan cara kepalanya dibenturkan ke dhampar (singgasana). Karena membawa malapetaka di lingkungan keraton, pusaka tombak Kyai Upas akhirnya diserahkan kepada salah satu putra raja yang menjadi Adipati di Ngrawa—wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Tulungagung.[1]

Sejak saat itu, pusaka ini diwariskan secara turun temurun sebagai pusaka piyandel (andalan) Bupati Tulungagung.[2] Konon, pada masa penjajahan Belanda, tombak ini menunjukkan kesaktiannya dengan menggagalkan upaya penjajahan di wilayah Tulungagung. Tombak Kanjeng Kyai Upas yang ada sekarang diyakini berasal dari Kesultanan Mataram dan dibawa oleh R.M. Tumenggung Pringgodiningrat (putra Pangeran Notokoesumo) saat menjadi Bupati Ngrowo (Tulungagung).[3] Pusaka ini dipercaya memiliki daya mistis: konon pernah menolak banjir besar, serta menjadi simbol semangat mempertahankan daerah dari penjajah.[butuh rujukan]

Pelaksanaan upacara

Setiap tahun pada bulan Sura (tanggal 10 Sura, hari Jumat Kliwon menurut penanggalan Jawa), tombak Kiai Upas diarak dari tempat penyimpanan—semenjak 2023, di Pendopo Kanjengan Kepatihan, yang kini menjadi milik Pemkab Tulungagung—oleh Bupati, pejabat daerah, dan tokoh adat.[4] Ritual dimulai dengan kirab membawa air suci dari sembilan mata air dan diiringi alunan gamelan dan “Reog Kendang” sebelum dilakukan prosesi siraman pusaka (jamasan) menggunakan air bercampur kembang tujuh rupa. Pencucian meliputi pembersihan fisik (dengan jeruk nipis, sikat) dan spiritual dalam suasana khidmat, diikuti selametan atau kenduri bersama.[5]

Upaya pelestarian

Upacara jamasan Pusaka Kiai Upas diakui sebagai sarana pelestarian budaya oleh Pemerintah Kabupaten Tulungagung. Sebagai bentuk pengakuan atas pentingnya nilai budaya tersebut, pada tahun 2020 Ritual Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.[6] Penetapan ini mendorong berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, komunitas adat, dan lembaga pendidikan, untuk terus melestarikan tradisi melalui pendokumentasian, edukasi, serta pengenalan ke generasi muda. Sejak tahun 2023, bangunan Pendopo Kanjengan juga diakuisisi agar ritual dapat kembali digelar di lokasi aslinya. Harapannya, ritual ini tidak hanya mempertahankan kesakralan tetapi juga berfungsi sebagai ikon wisata budaya regional.[butuh rujukan]

Referensi

  1. ^ a b c d Pusdatin Kemendikbudristek (2019). "Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas". Referensi Data Kemdikbud. Diakses tanggal 18-06-2025.
  2. ^ Hidayah, Nurul. "Mengenal Tradisi Jamasan Kyai Upas di Tulungagung Pada Bulan Suro - Radar Tulungagung". Mengenal Tradisi Jamasan Kyai Upas di Tulungagung Pada Bulan Suro - Radar Tulungagung. Diakses tanggal 2025-06-18.
  3. ^ "Prosesi Jamasan Tombak "Kanjeng Kyai Upas" – PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG". Diakses tanggal 2025-06-18.
  4. ^ Agency, ANTARA News. "Ritual jamasan pusaka Kiai Upas kembali digelar di Rumah Kanjengan Kepatihan". ANTARA News Jawa Timur. Diakses tanggal 2025-06-18.
  5. ^ Muttaqin, Adhar. "Melihat Dari Dekat Tradisi Jamasan Pusaka Kiai Upas Tulungagung". detikjatim. Diakses tanggal 2025-06-18.
  6. ^ "PENERIMAAN PENGHARGAAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA KEPADA PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG – PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG". Diakses tanggal 2025-06-18.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement