Jamasan Meriam Nyai Setomi

Jamasan Meriam Nyai Setomi adalah ritual adat yang dilaksanakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat untuk membersihkan meriam pusaka bernama Nyai Setomi. Meriam ini memiliki nilai sakral dan sejarah panjang, dan upacara jamasan biasanya dilakukan sebelum perayaan keagamaan seperti Grebeg Syawal atau Grebeg Besar.[1]

Sejarah

Tradisi jamasan meriam Nyai Setomi bermula pada masa pemerintahan Pakubuwono III sekitar tahun 1745, sebagai bagian dari praktik perawatan pusaka di keraton yang mencerminkan penghormatan dan pemeliharaan spiritual terhadap benda suci. Meriam Nyai Setomi sendiri diyakini merupakan salah satu meriam andalan Sultan Agung Hanyokrokusuma dari Kesultanan Mataram Islam, yang pernah digunakan dalam konflik melawan VOC di Batavia pada 16281629.[butuh rujukan]

Selama beberapa abad, ritual ini menjadi bagian ritual tahunan yang dilakukan dua kali, yakni menjelang perayaan Syawal dan Mulud. Namun, pelaksanaannya dulu bersifat tertutup dan eksklusif, hanya melibatkan Abdi Dalem yang telah disumpah. Baru pada era Pakubuwono XII tradisi ini dibuka untuk disaksikan masyarakat umum sebagai salah satu bentuk edukasi budaya, meski prosesi tetap dijalankan oleh abdi dalem resmi yang ditunjuk.[1]

Dalam prosesi jamasan, digunakan berbagai media tradisional seperti minyak boreh, minyak koyoh, minyak gaharu, minyak cendana, kemenyan, dan pepak ageng (pisang, ketela, nasi uduk) untuk merawat meriam secara ritual dan simbolik. Ritual ini biasanya berlangsung selama 2–2,5 jam dan dilakukan dengan khidmat: mengenakan busana tradisional Jawa, dalam keheningan, serta diiringi dzikir dan shalawat di dalam hati.[butuh rujukan]

Masyarakat sering berebut mengambil sisa air jamasan untuk dibawa pulang, dengan harapan mendapat keberkahan dan keselamatan menunjukkan bahwa air jamasan dianggap memiliki nilai spiritual dan. Hingga kini, ritual jamasan meriam Nyai Setomi tetap dipelihara sebagai bagian dari warisan budaya takbenda serta simbol penghormatan terhadap sejarah Keraton Surakarta.[butuh rujukan]

Pelaksanaan

Ritual Jamasan Meriam Nyai Setomi biasanya dilaksanakan dua kali dalam setahun oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yakni menjelang perayaan Grebeg Syawal dan Grebeg Besar (Idul Adha).[2] Prosesi ini digelar di halaman Kamandungan Keraton Surakarta, dan dilakukan oleh para abdi dalem khusus yang telah ditunjuk dan disumpah.[butuh rujukan]

Upacara diawali dengan persiapan perangkat jamasan yang terdiri atas minyak-minyak tradisional seperti minyak boreh, minyak cendana, minyak koyoh, dan minyak gaharu, serta dilengkapi dengan kembang setaman, kemenyan, dan pepak ageng berupa makanan tradisional seperti pisang raja, ketela, serta nasi uduk. Perangkat tersebut disusun secara simbolik dan memiliki makna spiritual yang dipercaya dapat membersihkan energi negatif serta memelihara kekuatan pusaka.[butuh rujukan]

Meriam Nyai Setomi kemudian dibersihkan secara perlahan dan khidmat menggunakan air kembang, diiringi pembacaan dzikir dan shalawat dalam hati oleh para pelaksana.[3] Proses pembersihan berlangsung sekitar dua hingga dua setengah jam, dengan suasana yang sakral dan penuh kekhusyukan. Para abdi dalem mengenakan busana adat Jawa lengkap, seperti beskap, blangkon, dan jarik, yang memperkuat nuansa kehormatan dan kesakralan upacara.[butuh rujukan]

Setelah ritual selesai, air bekas jamasan yang telah digunakan oleh para abdi dalem biasanya dibagikan atau diambil oleh warga yang menyaksikan prosesi. Air tersebut diyakini membawa berkah, keselamatan, serta keberuntungan bagi siapa saja yang membawanya pulang. Antusiasme masyarakat terhadap ritual ini menunjukkan betapa besarnya nilai simbolik dan spiritual dari Meriam Nyai Setomi dalam budaya masyarakat Jawa.[butuh rujukan]

Meski merupakan tradisi keraton, upacara jamasan ini kini telah menjadi bagian dari atraksi budaya tahunan yang terbuka untuk umum. Banyak masyarakat, akademisi, hingga wisatawan hadir untuk menyaksikan langsung ritual ini sebagai salah satu warisan budaya takbenda yang masih hidup dan lestari hingga sekarang.[butuh rujukan]

Upaya pelestarian

Sebagai bagian dari warisan budaya takbenda, tradisi Jamasan Meriam Nyai Setomi terus dijaga dan dilestarikan oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat melalui berbagai upaya. Pelestarian ini dilakukan tidak hanya dalam bentuk pelaksanaan upacara secara rutin, tetapi juga melalui adaptasi terhadap perkembangan zaman dan keterlibatan publik.[butuh rujukan]

Salah satu upaya pelestarian yang utama adalah menjadikan ritual jamasan sebagai agenda budaya tahunan yang terbuka untuk umum. Jika dahulu upacara ini hanya dilakukan secara tertutup di lingkungan keraton, kini masyarakat luas dapat menyaksikan prosesi tersebut, bahkan turut merasakan nilai-nilai spiritual dan budaya yang terkandung di dalamnya. Pembukaan akses publik ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap tradisi leluhur dan memperkuat identitas budaya lokal.[butuh rujukan]

Selain itu, keraton juga bekerja sama dengan instansi pemerintah, seperti Dinas Kebudayaan dan pariwisata setempat, dalam mendokumentasikan dan mempromosikan ritual ini melalui berbagai media. Penyebaran informasi dilakukan melalui publikasi daring, peliputan media massa, serta promosi dalam kegiatan pariwisata budaya.[4] Dalam beberapa tahun terakhir, ritual ini telah menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara yang tertarik pada budaya tradisional Jawa.[butuh rujukan]

Ritual jamasan ini juga telah diusulkan dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Penetapan tersebut menjadi pengakuan resmi atas nilai sejarah dan budaya dari Meriam Nyai Setomi, serta menjadi dasar hukum untuk pelestariannya secara lebih luas.[butuh rujukan]

Di kalangan internal keraton, regenerasi abdi dalem pelaksana jamasan juga menjadi perhatian. Para abdi dalem muda dilatih dan diajarkan tentang makna, tata cara, serta nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ritual jamasan. Hal ini penting untuk menjaga kesinambungan tradisi agar tetap lestari dan tidak tergerus oleh zaman.[butuh rujukan]

Dengan berbagai langkah tersebut, tradisi Jamasan Meriam Nyai Setomi diharapkan tetap hidup, dihargai, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.[butuh rujukan]

Referensi

  1. ^ a b Aprilia, Nindia. "Mengenal Jamasan Meriam Nyai Setomi, Upacara Pembersihan Benda-Benda Pusaka Sejak Zaman Pakubuwono III - Solo Balapan". Mengenal Jamasan Meriam Nyai Setomi, Upacara Pembersihan Benda-Benda Pusaka Sejak Zaman Pakubuwono III - Solo Balapan. Diakses tanggal 2025-06-16.
  2. ^ Asyhad, Moh Habib. "Meriam Nyai Setomi, Pusaka Keraton Surakarta Warisan Sultan Agung". intisari.grid.id. Diakses tanggal 2025-06-16.
  3. ^ Marsudi, Ali (30 Maret 2025). "Perlengkapan Sesaji Jamasan Nyai Setomi di Kraton Surakarta". RRI Surakarta. Diakses tanggal 16 Juni 2025.
  4. ^ iMNews (2023-09-25). "Jamasan Meriam Nyai Setomi di Bangsal Sewayana Pendopo Sitinggil Pagi Tadi Molor". Istana Mataram News (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-16.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement