Haritsah bin Nu'man
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Haritsah bin al-Nu‘man adalah seorang sahabat Nabi Muhammad dari kalangan Anshar yang berasal dari kabilah Khazraj, keturunan Bani Najjar. Panggilannya adalah Abu Abdullah. Nasab lengkapnya Haritsah bin Nu'man bin Nufai' bin Zaid bin Ubaid bin Tsa'labah bin Ghanm bin Malik bin Najjar. Ibunya bernama Amr bin Ubaid bin Tsa'labah.[1] la sangat mencintai Nabi.
Kehidupan
Haritsah memiliki beberapa rumah di Madinah dan salah satunya berdekatan dengan rumah Nabi. Ketika Nabi menikah, Haritsah segera mengosongkan kediamannya untuk Nabi dan memindahkan keluarganya ke rumah yang lain. Kebaikannya itu membuat Nabi merasa malu karena Haritsah sering berpindah rumah dan memindahkan barang-barangnya semata-mata untuk Nabi.[2]
Pada saat Ali menikahi Fathimah, Nabi berkata kepada Ali, “Carilah tempat persinggahan." Ali pun mendapatkan tempat persinggahan yang posisinya sedikit ke belakang daripada tempat Nabi, lalu ia menikmati malam-malam pertamanya dengan Fathimah di tempat persinggahan itu. Kemudian Nabi menemui Fathimah. “Aku ingin memindahkanmu ke tempatku,” kata beliau kepada Fathimah. “Bicaralah kepada Haritsah bin Nu'man agar ia pindah dariku!" pinta Fathimah kepada Nabi.
Nabi berkata, “Haritsah sudah pindah dari kita, aku malu kepadanya." Begitu mengetahui hal ini, Haritsah pindah lagi kemudian menemui Nabi “Wahai Rasulullah, aku mendapat berita bahwa engkau memindahkan Fathimah ke tempatmu, ini aku sediakan tempat-tempat tinggalku, di antara perumahan Bani Najjar yang merupakan tempat paling dekat denganmu. Sesungguhnya aku dan hartaku hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, wahai Rasulullah, harta yang engkau ambil dariku lebih aku sukai daripada yang engkau tinggalkan." Beliau pun mengapresiasinya, “Kamu benar, semoga Allah memberkahimu.” Haritsah pun pindah dari satu rumahnya yang kemudian ditempati oleh Ali dengan Fathimah.[1]
Aisyah menuturkan, “Tidak ada wanita yang membuatku berat selain Mariah. Ini karena Mariah berkulit putih, cantik, berambut keriting, sehingga Rasulullah terpikat kepadanya. Saat pertama kali beliau tiba dengannya, beliau menempatkannya di rumah milik Haritsah bin Nu'man sehingga ia menjadi tetangga kami. Beliau menghabiskan kebanyakan waktu malam dan siang di tempatnya sampai kami melabraknya hingga membuatnya resah dan beliau memindahkannya ke daerah Aliyah. Beliau pun sering mendatanginya di sana. Namun ini justru yang paling berat bagi kami.”[1]
Manakala Shafiyah tiba dari Khaibar, ia ditempatkan di rumah milik Haritsah bin Nu'man lagi, setelah ditinggalkan oleh Haritsah. Begitu mendengar kedatangannya, wanita-wanita Anshar datang untuk melihat kecantikannya. Aisyah pun datang dengan mengenakan cadar.[1]
Aisyah berkata bahwa Nabi bersabda,“Aku masuk surga, dan aku mendengar bacaan Al-Quran. Aku berkata, ‘Siapa ini?’ Lalu dijawab, ‘la adalah Haritsah ibn al-Nu‘man.” Nabi lalu berkata, “Seperti itulah balasan untuk ketaatan (pada ibunya).”[2]
Abdullah bin Amir bin Rabiah berkata Haritsah bin al-Nu‘man bercerita, “Aku berpapasan dengan Rasulullah saw. dan bersama beliau kulihat seseorang (malaikat Jibril a.s.) sedang duduk di bangku. Kuucapkan salam kepada beliau, dan aku merasa cukup. Ketika aku kembali, Nabi saw. berpaling kepadaku dan bersabda, ‘Apakah kau melihat seseorang bersamaku?’
Aku menjawab, ‘Ya.’ ‘Dia adalah Jibril, ia menjawab salammu.[2] Haritsah mengikut semua pertempuran bersama Nabi dari Badar sampai Hunain.[3] Ia termasuk yang melindungi Utsman bin Affan saat dikepung pemberontak.
Saat penaklukkan wilayah Persia, Pasukan al-Ahnaf berangkat menuju marwa Ar-Ruz untuk mengejar Raja Persia Yazdigird, dan dia telah menunjuk Haritsah bin an-Nu'man untuk mengawasi daerah Marwa as-Syahjan.[4]
Kematian
Di akhir hayatnya, Haritsah bin Nu'man mengalami kebutaan. Oleh karena itu ia memasang tali dari tempat shalatnya sampai ke pintu kamarnya, dan di sisi pintu itu ia menaruh keranjang berisi kurma dan lainnya. Begitu orang miskin datang, maka Haritsah mengambil sebagian dari kurma itu kemudian menyusuri tali hingga dapat meraih pintu kamar, lalu memberikan kurma kepada orang miskin secara langsung. Keluarganya berkata, “Cukup kami saja yang melakukannya." la mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda,“Menyerahkan pemberian secara langsung kepada orang miskin menghindarkan dari kematian yang buruk."[1]
Haritsah wafat di Masa Khalifah Muawiyah.[2]
Referensi
- ^ a b c d e Badr, Dr.Jasim Muhammad (2014). Profil Keluarga 30 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga. Jakarta: Kiswah, hlm.294-303. ISBN 978-602-9176-44-5
- ^ a b c d Muhammad Raji Hassan, Kinas (2012). Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Jakarta: Penerbit Zaman, hlm.369-372. ISBN 978-979-024-295-1
- ^ Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam, hlm. 441-442. ISBN 978-602-236-270-8
- ^ Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
Artikel ini membutuhkan tambahan kategori atau kategori yang lebih spesifik. (November 2025) |
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


