Hamzah Tuppu
| Hamzah Tuppu | |
|---|---|
| Lahir | 20 Agustus 1920 Bontosunggu, Hindia Belanda |
| Meninggal | 30 Juni 1986 (umur 65) |
| Pengabdian | Indonesia |
| Dinas/cabang | TNI-AL |
| Lama dinas | 1945-? |
| Pangkat | |
| Anak | 4 |
A Hamzah Tuppu (20 August 1920 - 30 Juni 1986), sering juga ditulis Hamzah Daeng Tuppu, adalah perwira menengah TNI-AL dan jurnalis. Dia adalah perintis TNI-AL di Surabaya.
Lahir dan Kehidupan awal
Hamzah lahir di Borongcalla, Desa Bontosunggu pada tanggal 20 Agustus 1920. Ayahnya bernama Sayyid Daeng Ngempo dan ibunya bernama I Tallasa Daeng Rannu. Dia adalah keturunan ketujuh dari Yusuf Al-Makassari.[1]
Selama masa kecilnya, ia dibesarkan oleh Karaeng Galesong XVI, I Laringau Daeng Mangingruru. Ia sering dipanggil Cakkua. Dia juga bersekolah di Makassar.[1]
Seusai menyelesaikan bangku sekolah, Hamzah sempat bekerja sebagai mantri di Kantor Pertanahan di Makassar pada tahun 1938. Ia mulai terlibat dalam gerakan anti kolonialisme Belanda pada tahun 1941. Keterlibatannya dalam gerakan anti penjajahan Belanda membuatnya ia ditahan dan dipenjara di Sengkang dan kemudian di Garut.[1] Selama ditahan di Garut, ia berteman dengan Sukarni dan membaca buku karangan Tan Malaka, termasuk Naar de Republiek Indonesie. Dari situlah, dia mengagumi Tan Malaka.[2] Pada tahun 1942, dia dibebaskan dari penjara.[1]
Karier militer
Pada masa pendudukan Jepang, ia bergabung dengan Jawa Hokokai dan PETA Angkatan Laut. Dia juga mendapatkan pelatihan militer dari Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.[1]
Seusai proklamasi kemerdekaan, Hamzah bertemu dengan Tan Malaka di rumahnya Sukarni di Jalan Minangkabau, Jakarta. Dalam pertemuannya dengan Tan Malaka, ia mendapatkan pengetahuan mengenai taktik perang geriliya. Kemudian Sukarni meminta Hamzah untuk pergi ke Surabaya bersama dengan Sjamsu, Abidin Effendi, dan Deibel Effendi untuk aksi politik. Mereka mengangguk permintaan Sukarni dan pergi ke Surabaya. Setibanya di Surabaya, mereka membentuk pasukan BKR Laut dengan merekrut pelaut dari Djawa Unko Kaisha, Akatsuki Butai, Heiho Laut, sekolah pelayaran, buruh pelabuhan, dan anggota eks Angkatan Laut Kerajaan Belanda.[2]
Sebagai pemimpin angkatan laut, ia dikenal sebagai orang yang merancang pertahanan laut ketika pasukan NICA masuk ke Jawa.[1] Kepada pasukan pemuda Raha yang bernama Barisan 20, ia memberikan mandat kepada mereka untuk mendirikan Batalyon Sadar.[3] Dia juga memerintahkan L.M. Idrus Effendi yang juga menjabat sebagai Komandan Batalyon Sadar untuk kembali ke Raha dan melancarkan perlawanan terhadap Belanda.[4] Pada tahun 1947, Hamzah memimpin KRU Barigade D-81.[1]
Karier selanjutnya dan meninggal dunia
Pada tahun 1950an Hamzah menjadi pemimpin redaksi majalah Maega.[1] Pada tahun 1956, Badan Penampungan Bekas Pejuang Bersenjata mengusulkan kepada Kemendagri untuk menunjuk dia sebagai Gubenur Sulawesi.[5]
Ia meninggal dunia pada 30 Juni 1986 dan dimakamkan di TMP Kalibata.[1]
Kehidupan pribadi
Hamzah menikah dengan Erma Doomik pada tahun 1945 dan pasangan ini memiliki empat orang anak.[1]
Penghargaan
- Satyalancana G.O.M I (29 Januari 1958)[1]
- Bintang Gerilya (10 November 1959)[1]
- Satyalancana Saptamarga (29 Januari 1959)[1]
- Satyalancana Perang Kemerdekaan I (5 Oktober 1959)[1]
- Satyalancana Perang Kemerdekaan II (5 Oktober 1959)[1]
- Piagam Veteran Golongan A (1964)[1]
- Piagam Penghargaan sebagai tokoh berjasa dari Pemerintah Kabupaten Takalar (10 Februari 2000)[1]
Sebuah monumen didirikan di Galesong Selatan pada tahun 2002 untuk mengenang jasa Hamzah.[1] Nama dia juga diabadikan sebagai nama jalan di Taklar.
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r Asrul, Asrul. "A Hamzah Tuppu, Pejuang Perintis Angkatan Laut yang Warnai Museum Naval Lantamal VI". sulselsatu.com. Sulselsatu. Diakses tanggal 16 Agustus 2025.
- ^ a b Mukhti, M.F. "Tan Malaka dan Angkatan Laut di Surabaya". historia.id. Historia. Diakses tanggal 16 Agustus 2025.
- ^ Bhurhanuddin, B; Syamsuddin, Syamsuddin; Haeba, Haeba; Chalik, Chalik; Husen, A; Pingak, Ch (1982). Sejarah Masa Revolusi Fisik Daerah Sulawesi Tenggara (PDF). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 39.
- ^ Naadu, La Ode Muhram. "PERTEMPURAN DI TANAH MUNA:". panjikendari.com. Panji Kendari. Diakses tanggal 16 Agustus 2025.
- ^ "Lebaran-gratifikatie aan ambtenaren". Indische courant voor Nederland. 23 April 1956. Diakses tanggal 16 Agustus 2025.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


